Social Icons

Saturday, 29 June 2013

Kisah Seorang Wanita Pejuang Di Zaman Rasulullah saw.

 
Tinta sejarah menjadi saksi, bahwa tidak sedikit wanita mukminah yang terjun ke medan pertempuran, jihad fii sabilillah. Mereka menyelinap di antara lemparan-lemparan lembing, kilatan-kilatan pedang dan jatuhan anak-anak panah. Mereka menyampaikan makanan, minuman dan obat-obatan bagi prajurit mukmin yang berjuang mempertahankan Islam. Bahkan jika keadaan memintanya untuk menyandang pedang, mereka tidak gentar justeru makin berkobar semangatnya. 
 
Diantara wanita-wanita pejuang itu adalah Nusaibah binti Ka’af Al-Anshariyah yang terkenal dengan Ummu ‘Umarah. Sesungguhnya Ummu ‘Umarah merupakan salah satu contoh keberanian dan ketegaran. Ia merupakan sosok kepahlawanan yang tidak pernah gagal dalam melaksanakan kewajiban bilamana seruan jihad memanggilnya. Ia adalah shahabiyah yang utama ….. Ia termasuk salah satu dari dua wanita yang bergabung dengan tujuh laki-laki Anshar yang berbai’at kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pada Bai’at Aqabah kedua. 
 
Pada waktu itu ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan dua orang putranya, Hubaid bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Dan wanita yang satu lagi adalah saudara perempuannya. Ibnu Sa’ad dalam Thalaqatnya menyatakan (yang terjemahannya): “Hunain, Perang Yamamah dan terpotong tangannya, dan mendengar beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Sedangkan Imam Adz Dzahabi menyatakan (yang terjemahannya): “Ia (Ummu ‘Umarah) adalah wanita yang utama dan wanita dari kalangan anshar, Khazraj, Najjar, Mazin dan juga sebagai orang madinah. Saudaranya Abdullah bin Ka’ab termasuk orang yang ikut Perang Badar, dan saudaranya Abdurrahman termasuk orang yang suka menangis. 
 
Ummu ‘Umarah menghadiri malam perjanjian Aqabah. Ia juga ikut dalam Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, Perang Yamamah dan aktif melakukan beberapa kegiatan.” Dalam perang Uhud, Ummu ‘Umarah Nusaibah berjuang bersama suaminya dan dua orang putranya. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah (tempat air). Namun ketika keadaan pasukan Muslimin berubah menjadi terdesak, ia ikut terjun langsung dalam pertempuran sehingga terluka dengan luka-luka sebanyak dua belas tempat luka (dalam riwayat lain tiga belas. wallaahu a’lam). 
 
Tentang peristiwa ini Ummu ‘Umarah mengisahkan (yang terjemahannya): “Keadaan pasukan kaum Muslimin benar-benar berantakan. Banyak orang meninggalkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi beliau, termasuk aku, suamiku, serta kedua anakku. Sementara di depanku, banyak orang sedang melarikan diri untuk berundur. Saat itu aku tidak bersenjata. 
 
Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang mengundurkan diri sambil membawa perisai, beliau lalu bersabda : “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang!” Orang tersebut segera melemparkannya dan aku segera memungutnya lalu aku gunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pasukan yang menyerang saat itu adalah pasukan berkuda. 
 
Kami yakin, apabila bukan pasukan berkuda pasti kami sudah bisa mengatasinya. Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda menyerangku dengan pedang, serangan itu dapat aku tangkis. Ketika dia akan lari aku hentam kaki kudanya dan dia pun jatuh tertelungkup. Saat itu aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak : “Wahai putra Ummu ‘Umarah bantulah ibu kamu!” Lantas datanglah anakku dan bersama-sama kami habiskan orang itu.” 
 
Ummu ‘Umarah terus bertempur tanpa henti, sambil sesekali membantu merawat mereka yang luka. Begitu sibuknya Ummu ‘Umarah, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau putranya Abdullah bin Zaid sudah terluka parah. Ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak (yang terjemahannya): “Hai Abdullah ! Kau ikat lukamu dulu baru kau teruskan bertempur lagi !” Ummu ‘Umarah terkejut mendengar teriakan itu dan segera sedar putranya dalam bahaya. 
 
Segera ia mendekati dan mengubati luka putranya yang ternyata memang parah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawasi keduanya dan setelah selesai, Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Nah … sekarang bangkitlah dan perangilah kaum itu!” Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini ya … Ummu ‘Umarah ?” 
 
Kemudian datanglah orang yang memukul putranya tadi lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Ya …. Ummu ‘Umarah ! Itu orang yang memukul anakmu datang!” Tanpa banyak berbicara Ummu ‘Umarah menghadang orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghantam kakinya sehingga orang tersebut terduduk di tanah. Sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang melihat hal itu bersabda (yang terjemahannya): “Engkau telah membalasnya ya Ummu ‘Umarah!” 
 
Tak lama kemudian beberapa orang datang dan bersama-sama membunuh orang tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lagi (yang terjemahannya): “Alhamdulillah ….. ! Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.” 
 
Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata (yang terjemahannya): “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya dan ibu mendekati beliau untuk melindungi. Lalu beliau bertanya : “Mana Ummu ‘Umarah ?” Ibu menjawab : “Ya … wahai Rasulullah” Beliau bersabda : “Lemparilah !” Lalu ibu melempari seorang laki-laki yang sedang naik kuda di depan beliau dengan batu dan mengenai mata kudanya. 
 
Kemudian kudanya itu berguncang-guncang keras lantas jatuh bersama penunggangnya, lalu saya tindih orang itu dengan batu dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sambil tersenyum. Kemudian ibu saya dapat dicederakan oleh musuh, lalu Baginda berseru : “Ibumu ! Ibumu ! Balutlah lukanya ! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabat saya di dalam syurga” Mendengar itu ibu berkata: “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini!” 
 
Allahu Akbar ! Betapa tegarnya engkau wahai Ummu ‘Umarah. Tak lagi engkau menghiraukan lukamu setelah doa yang menggembirakan hatimu ! Begitulah Ummu ‘umarah melewati hari-harinya dengan terus berjuang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. 
 
Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah wafat muncullah si pendusta Musailamah al Kadzdzab ia mengaku sebagai Nabi sehingga kaum Muslimin pun memeranginya. Taqdir Allah menentukan bahwa Hubaib putra Ummu ‘Umarah ditawan Musailamah, kemudian disiksa dengan berbagai siksaan. 
 
Namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keteguhan dan ketegaran hati kepada putra Ummu ‘Umarah ini, meskipun teramat berat siksaan dirasakannya. Akhirnya Allah mentaqdirkan Hubaib mati di tangan Musailamah dengan sangat mengerikan. Semoga Allah menempatkannya di jannah yang penuh dengan kenikmatan. 
 
Al Waqidi menceritakan (yang terjemahannya): “Ketika sampai kepada Ummu ‘Umarah berita kematian anaknya di tangan Musailamah, maka ia berjanji kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau ia yang membunuh Musailamah. Maka Ummu ‘Umarah ikut perang Yamamah bersama Khalid bin Walid, lalu Musailamah terbunuh dan tangan Nusaibah terpotong dalam perang tersebut.” 
 
Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Tanganku terpotong pada hari perang Yamamah padahal aku sangat berkeinginan membunuh Musailamah. Tidak ada yang dapat melarangku hingga aku melihat orang jahat itu mati terkapar. Dan tiba-tiba aku lihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya, lalu bertanya kepadanya: “Engkaukah yang membunuhnya ?” Ia menjawab : “Ya” Kemudian aku sujud syukur kepada Allah.” 
 
Itulah sebahagian kisah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Anshariyah. Dialah seorang pejuang wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk kejayaan Islam hingga akhir hayatnya, semoga Alllah meridhainya dan menjadikannya ridha. Dan semoga Allah menyambut dengan Rahmat-Nya yang luas dan menempatkannya ke dalam Jannah yang penuh dengan ketenangan dan ketenteraman yang hakiki

Ketahuilah Rahsia Surah Al-Masad (Sabut)

Kepada anak cucu semua, fahamilah sejarah perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat. Kesulitan dan kepayahan adalah baja penyubur perjuangan. Musuh akan sentiasa bergantian tetapi kita akan terus istiqamah setia di atas jalan kebenaran sehinggalah kita bertemu Tuhan. 

Tidak ada apa yang perlu kita gusarkan tentang musuh-musuh kita. Mereka pasti kecundang. Bacalah paparan berikut untuk mendasari situasi yang ditempuh oleh Abu Lahab - tokoh penentang perjuangan Baginda Nabi saw yang disebut namanya dengan hina di dalam Al-Quran!!


Surah Al-Masad(Sabut) - سُوۡرَةُ لهب / المَسَد
Makkiyyah(111: 1-5)

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ۬ وَتَبَّ
1.Binasalah dua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia tetap binasa

مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُ ۥ وَمَا ڪَسَبَ

2.Tidak berguna hartanya dan apa yang telah diusahakan.

سَيَصۡلَىٰ نَارً۬ا ذَاتَ لَهَبٍ۬

3.Kelak dia akan masuk ke dalam api neraka yang bergejolak/menyala-nyala.

وَٱمۡرَأَتُهُ ۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ

4.Dan isterinya pembawa kayu bakar.

فِى جِيدِهَا حَبۡلٌ۬ مِّن مَّسَدِۭ
5.Pada lehernya tali(terikat) dari sabut(terpintal kukuh).


Nama Surah
I. Surah al-Masad berdasarkan ayat terakhir مَّسَدِۭ bermaksud sabut.
II. Surah al-Lahab/Abi Lahab berdasarkan ayat satu dan ketiga dengan perkataan لَهَبٍ۬ Bermaksud api yang bergejolak.
III. Surah Tabbat berdasarkan ayat awal surah تَبَّتۡ yang bermaksud binasa.

Latar belakang Surah


Surah ini berkisar kepada kisah Abu Lahab dan isterinya terhadap dakwah Rasulullah saw. Sebelum dakwah Nabi saw, Abu Lahab tidak bermusuhan dengan Baginda. Beliau telah memerdekakan hambanya bernama Tsuwaibah kerana tanda terlalu gembiranya beliau ke atas anak saudaranya Abdullah yang telah meninggal memperolehi anak lelaki iaitu Nabi Muhammad saw. Tsuwaibah sempat menyusui Rasulullah saw dalam beberapa hari sebelum disusui oleh Halimah bin Abi Zuaib.

Selepas Rasulullah saw menerima wahyu supaya berdakwah secara terang-terangan (al-Hijr 15:94-95), Baginda menerima lagi wahyu supaya memperingatkan kepada kerabat-kerabat Baginda yang terdekat dahulu(asy-Syu’ara 26:214-216). Baginda berasa runsing sehingga sebulan tidak keluar rumah menyebabkan bapa saudaranya Abu Thalib dan isterinya, serta pakcik-pakciknya datang menziarahinya untuk bertanya khabar. Baginda mendapat peluang ini menyatakan yang sebenarnya bahawa dia diminta oleh Allah swt supaya menyeru mereka mentauhidkan Allah swt. Pakcik dan makciknya tidak melarang beliau untuk berdakwah tetapi meminta supaya tidak diketahui oleh Abu Lahab, pakciknya.

Justeru itu, Rasulullah saw memanggil orang kampungnya untuk berkumpul di Bukit Shafa. Abu Lahab telah turut serta. Rasulullah saw memulakan bicaranya; “Bagaimanakah pendapat kamu jika aku memberitakan kepada kamu bahawa ada musuh berkuda keluar dari sebalik gunung ini lalu ia berkehendak merubah kamu sekelian, adakah kamu membenarkan daku?”

Sekelian yang hadir menjawab; “Ya kami percaya, kami tidak pernah mengetahui bahawa engkau(Muhammad) seorang yang berdusta.” Rasulullah saw bersabda; “Bahawa sesungguhnya aku ini pemberi peringatan kepada kamu, dihadapan sana terdapat siksa Tuhan yang sangat keras.”

Tiba-tiba Abdul Uzza (Abu Lahab) berteriak mengejutkan para hadirin: “Celakalah kamu! Hai Muhammad! Apakah hanya untuk ini saja kamu kumpulkan kami semua?” Kemudian mengutip batu ingin dilemparkan kepada Nabi saw.

Rasulullah saw terdiam, kemudian mengatakan dengan muka yang merah padam; “Sama sekali belum pernah aku melihat seorang yang datang pada keturunan orang tuanya dan kaumnya yang lebih keji daripada apa yang engkau perlihatkan itu.”

Kemudian pada saat itu turunlah ayat pertama dari surah al-Masad; “Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan sangat celakanya.” Dalam pada itu Abu Lahab masih marah-marah dan mengomel; “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar(nyata), maka aku tebuslah darinya dengan harta benda dan anakku,” Kemudian turunlah ayat kedua surah ini; “Tidaklah berguna darinya(Abu Lahab) harta bendanya dan segala usahanya.”

Abu Lahab terus mengomel dan mengganggu pertemuan ini, maka Rasulullah saw membubarkan pertemuan ini. Rasulullah saw telah mengadakan pertemuan yang kedua atas permintaan sebahagian besar hadirin di pertemuan yang pertama. Pertemuan ini juga berlaku di kaki Bukit Shafa. Rasulullah saw sempat berpidato memberi tahu kepada hadirin bahawa beliau adalah utusan Allah, mengajak kepada mentauhidkan Allah, menyeru setiap kaum menyelamatkan diri dari api neraka. Dikala itu Abu Lahab mula marah dan mengomel-ngomel lagi.

Kemudian Rasulullah saw mengajak sesiapa yang ingin turut serta bersama beliau untuk berdakwah. Diwaktu itu lebih kurang 40-45 orang hadirin mula bangun seorang demi seorang meninggalkan tempat duduknya. Dikala itu Abu Lahab mula menengking Nabi saw dan mengajak yang lain menangkapnya dan memenjarakannya. Maka keadaan menjadi tegang semula. Rasulullah saw membubarkan pertemuan ini.

Selepas daripada ini, Abu Lahab dan Isterinya Ummu Jamil mula giat ke ceruk kampung menentang Rasulullah saw. Mereka dibantu oleh Amr bin Hisyam(Abu Jahal). Abu Lahab menghasud kaum lelaki, Ummu Jamil menghasud kaum perempuan dan Abu Jahal menghasud pemuda-pemudanya.

Maka turunlah ayat al-Masad yang ke 3-5. “Ia (Abu Lahab) akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Dan isterinya(Ummu amil) pembawa kayu bakar itu. Kelak pada lehernya ada tali dari sabut.” Menjadi kebiasaan setiap wahyu yang diterima akan dibacakan kepada pengikut-pengikutnya. Pengikut-pengikutnya juga akan menyebut-nyebut wahyu tersebut sehinggalah suatu ketika sampailah ketelinga Ummu Jamil bahawa ia telah diejek dan dihina dengan tali sabut.

Ummu Jamil telah datang berjumpa dengan Rasulullah saw; “Adakah engkau melihat aku membawa kayu api bakar, dan adakah engkau melihat di leherku ada tali dari sabut?”

Rasulullah saw mendiamkan diri.

Pada hari yang lain, Ummu Jamil telah datang berjumpa dengan Nabi saw yang ketika itu Abu Bakar ada disebelah beliau. Abu Bakar berkata kepada nabi saw; “Lebih baik engkau menjauhkan diri dari sini!” Rasulullah saw berkata; “Biarlah, akan terdinding antara aku dan dia.” Lantas datanglah Ummu Jamil di hadapan Abu Bakar dengan tidak melihat Rasulullah saw ; “Hai Abu Bakar, betulkah sahabatmu selalu menghinakan daku begini….dan begitu…?” Abu Bakar menjawab; “Tidak! Ia tidak menghinakan kamu, hanya membacakan firman Tuhan.” Ummu Jamil berkata; “Memang engkau yang membenarkan dia.”
 
Kemudian Abu Bakar berkata kepada Nabi saw; “Dia tidak melihat engkau.”
Rasulullah saw menjawab; “Malaikat selalu menutup-nutupi sehingga ia berpaling lalu pergi.”

Hari demi hari semakin ramai yang mengikuti Rasulullah saw. Abu Lahab dan isterinya semakin giat menghasut kaumnya. Maka berlakulah pertelingkahan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin Mekkah sehingga pemuka-pemuka musyrikin Quraisy dan Abu Lahab pergi berjumpa dengan Abu Thalib bapa saudara Nabi saw supaya menasihati Rasulullah saw berhenti dari berdakwah. Namun tidak diambil berat oleh bapa saudaranya.

Suatu ketika, jari Rasulullah saw bengkak dibaling batu dan menyebabkan Rasulullah saw demam. Selama 3 hari Baginda tidak keluar rumah. Arwa binti Harb bin ‘Umayyah (Ummu Jamil) datang kononnya ingin menziarahi Baginda tetapi telah mengejek mengatakan; “Muhammad, mengapa engkau tidak keluar-keluar dari rumah dan membawa berita yang sangat ajaib? Saya menyangka syaitanmu telah meninggalkan kamu kerana dua atau tiga hari tidak berkunjung kepadamu, dan barangkali ia tidak sudi lagi mendekatimu atau barangkali ia telah marah kepadamu.”

Ejekan ini telah tersebar di kalangan musyrikin Quraisy dan mula bersangka-sangka; “Oh, sekarang Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya, kerana Tuhannya telah memarahinya, maka sekarang ia sangat malu keluar rumahnya untuk menampakkan air mukanya.”

Rasulullah saw sangat berdukacita dengan ejekan-ejekan itu. Maka turunlah wahyu kepada Baginda; “Demi Matahari apabila telah meningkat. Demi malam hari apabila telah kelam, Tuhanmu tidaklah meninggalkan dikau dan tidak pula marah(kepadamu).” – (adh-Dhuha 93:1-3) Seketika itu juga Rasulullah saw rasa sangat gembira , kemudian bertakbir dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Besar.

Usaha Abu Lahab langsung tidak berjaya untuk memberhentikan dakwah Nabi saw. Maka beliau mula menyakiti Nabi saw. Suatu ketika Abu Lahab melemparkan kotoran najis di hadapan rumah Baginda. Lantas Baginda membersihkannya sendiri.

Pada suatu waktu, Abu Lahab sekali lagi membuang kotoran di hadapan rumah Rasulullah saw. Sambil membersihkannya Rasulullah saw berkata; “ Hai anak cucu Abdu Manaf! Beginikah cara orang-orang bertetangga?”

Pada suatu pagi, semasa Abu Lahab sedang membuang najis di hadapan rumah Rasulullah saw, telah diketahui oleh Hamzah(pakcik Nabi saw sebelum masuk Islam), lalu Hamzah mengambil najis tersebut dilemparkan kepada Abu Lahab. Lantas Abu Lahab memaki Hamzah dengan suara yang kasar.

Ummu Jamil pula mengadu domba kepada Abu Sufyan abangnya; “Hai abang! Engkau marah tak jika engkau mendengar adikmu dicaci orang?” Abu Sufyan menjawab; “Sudah tentu aku marah.” Ummul Jamil menyambung; “Muhammad sekarang selalu mencaci maki aku dan mengata-ngata aku dengan perkataan jijik dan keji.”

Abu Sufyan menambah; “ Kalau begitu sekarang juga Muhammad aku bunuh.” Sambil mengambil pedangnya dan ke rumah Rasulullah saw. Sampai sekerat jalan, ia berpatah balik dengan tergesa-gesa. Ummu Jamil bertanya; “Adakah engkau sudah membunuh Muhammad?” Abu Sufyan menjawab; “Oh adik ku, adakah engkau suka abangmu dimakan ular?” Ummu Jamil terus menjawab; “Demi Latta tentu aku tidak akan suka, bahkan sangat merisaukan.” Abu Sufyan menceritakan; “ Sewaktu aku ditengah jalan, ada seekor ular yang sangat besar ingin menelanku jika aku menghampiri rumah Muhammad. Ular itu mengejarku, maka aku lari dengan tergesa-gesa kerana aku takut.”
 
Rasulullah saw mengambil pendekatan dakwah dengan menghampiri kabilah-kabilah Arab dari luar Mekkah yang datang ke Mekkah. Sewaktu mereka beristirehat, Rasulullah saw datang bertanya khabar dan menyampaikan seruannya. Setiap kali selepas seruannya, datang Abu Lahab mencantas dakwah Nabi saw.

Apabila Rasulullah saw menyeru; “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah memerintahkan kamu sekalian supaya menyembah kepada-Nya, dan jangan kamu menyengutukan Dia dengan sesuatu.” Abu Lahab akan pasti mencantas dengan berkata; “Hai sekalian manusia, sesungguhnya orang ini memerintahkan kamu sekelian supaya meninggalkan agama orang-orang tuamu dahulu.”

Apabila Rasulullah saw menyeru; “Hai sekalian manusia! Ucapkanlah olehmu, Tiada Tuhan melainkan Allah, supaya kamu berbahagia.”Datang Abu Lahab membangkang; “Hai sekalian manusia, janganlah kamu dengarkan perkataan orang ini kerana dia itu pendusta!”

Apabila Rasulullah saw menyeru; “Hai keturunan Fulan! Sesungguhnya aku ini Rasul Allah yang diutus untuk kamu sekalian, aku memerintahkan kepada kamu supaya menyembah kepada Allah dan janganlah kamu menyengutukan Dia dengan sesuatu. Dan hendaklah kamu melepaskan segala sesuatu yang kamu sembah dari selain Allah dari persekutuan-persekutuan ini, dan hendaklah kamu percaya kepadaku dan membenarkanku!”

Lantas Abu Lahab mencantas; “Hai keturunan Fulan! Sesungguhnya orang ini hanyalah mengajak kamu supaya kamu melepaskan berhala Latta dan Uzza dari sesembahanmu, kamu diajak olehnya untuk mengerjakan perbuatan bid’ah dan kesesatan kerana itu janganlah kamu mengikut dia dan janganlah kamu dengarkan dia.”

Tariq al-Muharibi menceritakan; “Ketika kami di pasar Dhi al-Majaz, saya ternampak seorang lelaki separuh umur berkata; ‘Wahai saudara-saudara sekelian! Ucapkanlah Tiada Tuhan melainkan Allah. Kelak kamu akan berjaya’. Tiba-tiba saya nampak seorang lelaki melemparkan sesuatu kepadanya dari belakang sehingga betis dan tumitnya berdarah. Lelaki itu mencelah; ‘Wahai saudara-saudara! Dia ini seorang pendusta dan janganlah kamu mempercayai cakapnya.’ Maka aku pun bertanya; ‘Siapakah lelaki itu?’ Ayahku menjawab itulah Muhammad yang mendakwa dirinya seorang Nabi dan itu pula bapa saudaranya Abu Lahab yang mendakwa ia seorang pendusta.”

Abu Lahab telah tidak ikut serta dalam peperangan Badar bersama pemuka-pemuka Quraisy kerana takut. Beliau telah menghantar ‘Ash bin Hisyam dengan bayaran 4000 dirham sebagai bayaran hutangnya dengan Abu Lahab.

Abu Lahab telah menganjurkan anak lelakinya menceraikan anak perempuan Rasulullah saw Ruqayyah dan Ummu Kalsum sebagai penghinaan kepada Rasulullah saw. Apabila Rasulullah saw kematian anak lelakinya Abdullah, Abu Lahab melompat kegembiraan dan menghebahkan kepada kawan-kawan beliau bahawa Rasulullah saw keputusan zuriat.

Ummu Jamil telah menghalangi laluan Rasulullah saw dengan duri-duri dan menyebarkan fitnah. Beliau juga telah mendermakan barang kemasnya dalam usaha menjatuhkan Rasulullah saw. Abu Lahab telah mendapat penyakit pelik seperti tidak siuman dan telah mati di Mekkah.


Pengajaran dan Iktibar
تَبَّتۡ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ۬ وَتَبَّ
تَبَّتۡ yang pertama merupakan doa ‘binasalah’ Abu Lahab.
وَتَبَّ yang kedua adalah penyataan di mana doa yang pertama itu telah terlaksana. Memang Abu Lahab telah binasa.

مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُ ۥ وَمَا ڪَسَبَ (٢
Kebinasaan Abu Lahab berlaku di Dunia lagi di mana semua usaha dan hartanya tidak dapat menolongnya untuk menghalangi kebinasaan ini. Perkataan أَغۡنَىٰ memberi pengertian ; i) Kalau seseorang itu tiada harta tetapi dia membantu menyebarkan Islam, maka dia akan diselamatkan di Akhirat. ii) Segala harta kekayaan tidak akan mampu menghalang seruan Islam. Orang yang kaya seperti Qorun, Fir’aun, juga Bush pun tidak dapat menghalang Islam.

سَيَصۡلَىٰ نَارً۬ا ذَاتَ لَهَبٍ۬ (٣

Pembalasan di Akhirat pula, Abu Lahab akan masuk ke dalam api neraka yang marak dan menyala-nyala. Nama sebenar Abu Lahab ialah Abu U’zza sempena nama berhala. Di beri gelaran Abu Lahab kerana ‘Lahab’ bermaksud api yang menyala-nyala. Jadi Abu Lahab ini seorang yang mukanya bercahaya. Malah sejarah menyatakan dia mempunyai lesung pipit.

وَٱمۡرَأَتُهُ ۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ (٤
فِى جِيدِهَا حَبۡلٌ۬ مِّن مَّسَدِۭ (٥
Isteri Abu Lahab akan turut sama dibakar oleh api neraka dengan keadaan membawa kayu api dan lehernya terikat dengan sabut, yakni tali yang mengikat kayu api yang berduri.
حَمَّا bermaksud pembawa kayu api.Kayu api berduri ini telah digunakan untuk menghalang laluan Rasulullah saw. 
حَطَبِ bermaksud kayu api. Kiasan bagi membawa fitnah dan mengapi-apikan.
مَّسَدِۭ bermaksud sabut. Sabut adalah hodoh dan selalunya dibuat tali untuk mengheret unta. Ini adalah satu penghinaan kepada Arwa(Ummu Jamil).
Arwa bererti seseorang yang memberi minum sehingga puas. Jamil bermaksud cantik.


Perkaitan dengan surah sebelumnya

Mengikut susunan surah dalam al-Quran (tauqifi - susunan yang tiada campur tangan manusia, hanya susunan dari Allah swt); Surah an-Nas menunjukkan manusia akan menerima gangguan dalaman yang hanya pertolongan Allah sahaja mereka dapat menghindarinya. Kemudian surah al-Falaq, menunjukkan manusia juga akan menerima gangguan luaran seperti sihir dan sifat dengki sesama manusia. Ini juga hanya pertolongan Allah sahaja mereka akan dapat menghindarinya. Kemudian surah al-Ikhlas menunjukkan manusia perlu mengikhlaskan diri secara total hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. 
Ketiga-tiga ayat ini di mulai dengan perkataan قُلۡ yang mengarahkan kita menyatakan/menyeru/berdakwah kepada manusia sejagat bahawa manusia itu lemah, memerlukan perlindungan Allah, tidak syirik dan hanya mentauhidkan kepada Allah swt.

Kemudian surah al-Masad ini menunjukkan setiap dakwah/seruan kepada jalan Allah pasti akan mendapat tentangan dan ujian. Tiga tahun pertama dakwah Rasulullah saw adalah secara sembunyi-sembunyi (sir). Ajakan Rasulullah saw hanya kepada mereka yang boleh menjaga rahsia keIslaman mereka dan Rasulullah saw mempercayai mereka akan mengikuti ajakan Baginda. 
Orang Arab diwaktu itu tinggal dalam kawasan yang tertutup, yaitu lebih kurang 10,000 orang penduduk sahaja dalam satu kawasan, tiada kemajuan internet seperti sekarang, pasar pula ada satu dua sahaja. Oleh itu mudah untuk mengenali antara satu sama lain dengan nama-nama yang terperinci. Begitu juga Rasulullah saw dapat mengecam siapakah di kalangan mereka yang akan mengikuti Baginda.

Selepas tiga tahun, pada awal tahun ke empat, Rasulullah saw mengajak 40-45 orang keluarganya yang terdekat secara terang-terangan. Banyak tentangan dihadapi termasuk bapa saudaranya Abu Lahab dan isterinya Ummu Jamil.

Dalam al-Qur’an tidak banyak nama-nama disebut kecuali mereka yang sudah pasti celaka atau bahagia. Contoh mereka yang celaka ialah Fir’aun, Haman dan Qorun di zaman Nabi Musa a.s dan Abu Lahab di zaman Rasulullah saw. Abu Lahab adalah orang pertama yang menentang dakwah Nabi saw.

Pemuka-pemuka Quraisy yang menentang Rasulullah saw telah mati di perang Badar sebaliknya Abu Lahab pula mati dalam kehinaan.
Apa yang kita dapat daripada surah ini

1. Allah swt memberi jaminan supaya jangan takut apabila ada orang menentang seruan Islam, mereka pasti akan binasa dan masuk neraka. Ini merupakan berita gembira kepada Rasulullah saw dan pendakwah Islam.

2. Apa pun usaha untuk melawan Rasulullah saw(juga pendakwah Islam) tidak akan berjaya walaupun mereka mempunyai kekayaan harta yang banyak. Ini kerana Allah swt beserta dengan Rasulullah saw dan sesiapa penyambung tugasnya.

3. Abu Lahab merupakan simbol penentang Islam. Akan ada penentangan dari keluarga terdekat dan dari musuh Islam jika dakwah Islam dilaksanakan.

4. Kaum wanita juga akan menerima nasib sama seperti Arwa/Ummu Jamil jika bertindak sama sepertinya.

5. Harta yang banyak tidak memberi makna jika tidak digunakan ke jalan yang benar. Yaitu jalan penyeruan kepada Islam.

Oleh itu, ini merupakan motivasi kepada setiap individu muslim, jangan takut atau ragu-ragu untuk menyeru manusia sejagat kepada Islam dan hanya mentauhidkan diri kepada Allah swt. Usaha ini pasti mendapat pembelaan dari Allah Pemelihara sekelian makhluk dan A’lam ini.

 KLIK UNTUK SUMBER

Wednesday, 26 June 2013

Kisah Bagaimana Dua Orang Remaja Membunuh Abu Jahal

Petikan dari buku Catatan Sejarah Rasulullah saw. susunan Syeikh Nasaruddin Awang ar. Bacalah kisah bagaimana dahsyatnya kecintaan 2 orang remaja kepada Rasulullah saw. Mereka bersaing dalam merebut peluang membunuh Abu Jahal - orang yang sangat menyakiti Baginda Nabi saw. Beginilah ceritanya;
 
Ada dua orang remaja dari Madinah iaitu Saidina Muaz bin Afra’ Al-Ansari dan Saidina Auf bin Afra’ Al-Ansari berumur 15 tahun dan 16 tahun. Mereka berdua ikut serta di dalam perang Badar. Ketika U'tbah dan dua orang lagi panglima kafir Quraish mencabar tentera Islam dalam perterungan satu lawan satu mereka berdualah yang tampil bersama Saidina Abdullah bin Rawahah. Begitulah tinggi sekali kecintaan mereka kepada Allah dan Rasululah Saw. 
 
Didalam barisan tentera Islam, mereka berdua berada disebelah kiri dan kanan Saidina Abdul Rahman bin Auf. Melihat mereka berdua yang masih berusia awal remaja, Saidina Abdul Rahman berkata didalam hatinya: "Alangkah baiknya kalau dikanan dan dikiriku orang yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman dalam peperangan". Salah seorang dari mereka berbisik kepada Saidina Abdul Rahman: "Apakah pakcik kenal Abu Jahal, aku dengar dia adalah orang yang paling banyak menyakiti Rasulullah Saw. Tunjukkanlah orang itu kepada aku. Aku mahu membunuhnya". 
 
Begitulah kemarahan anak muda ini terhadap Abu Jahal. Dia cukup berani untuk membunuh ketua kafir Quraisy dalam peperangan itu. Kata Saidina Abdul Rahman: "Aku terperanjat dengan soalan itu tetapi aku berjanji akan menunjukkan Abu Jahal kepadanya. Selepas itu seorang lagi pula bertanya kepadaku soalan yang sama. Ketika itu baru aku merasa tenang berada di tengah-tengah dua orang remaja yang berani ini".

Dalam peperangan itu Abu Jahal dikawal ketat oleh orang-orangnya. Saidina Abdul Rahman telah menunjukkan kepada dua orang remaja ini yang mana satu Abu Jahal. Belum sempat lagi Saidina Abdul Rahman menghabiskan kata-katanya, kedua-dua mereka sudah melompat menuju ke tempat Abu Jahal. Mereka merempuh barisan tentera kafir sambil menebaskan pedang ke kiri dan ke kanan, menyerang orang-orang yang berada di sekeliling Abu Jahal. 
 
Akhirnya kedua-duanya berjaya sampai kepada Abu Jahal. Mereka berdua menyerang Abu Jahal dengan pedang mereka sehingga Abu Jahal rebah. Abu Jahal cedera parah dan rebah tetapi dia belum mati. Tiada siapa dapat menjangka serbuan tangkas dari dua orang remaja Ansar ini. Di dalam keadaan gawat di kelilingi musuh, Saidina Auf bin Afra’ tersepit ditengah-tengah tentera kafir. Ikrimah bin Abu Jahal berjaya membunuhnya. Manakala Saidina Muaz bin Afra' pula sempat berundur sambil memerangi tentera kafir yang menggasaknya. 
 
Akhirnya sebelah tanganya tertetak tetapi masih tergantung di badannya. Dalam keadaan itu, dia berjaya berundur sampai ke barisan tentera Islam. Setelah dibalut tangannya dia terus berperang lagi tetapi tangannya yang hampir putus itu telah mengganggu pergerakannya. Akhirnya dia memijak tangannya itu sehingga putus supaya ianya tidak mengganggu lagi pergerakannya. 
 
Saidina Muaz terus menentang tentera kafir sehinggalah dia gugur syahid. Apabila tentera kafir mengetahui bahawa Abu Jahal sudah tewas mereka mula berundur. Tentera Islam mengejar mereka dari belakang. Dalam peperangan Badar ini seramai 70 orang tentera kafir terbunuh dan seramai 70 orang dapat ditawan.

Demikianlah hebatnya dua remaja yang dididik mencintai Baginda Nabi saw. Matangnya mereka walaupun baru berusia setahun jagung. Renunglah keadaan remaja kita sekarang ini. Mahukah mereka menjadi seperti dua remaja di dalam kisah di atas atau ingin terus kekal menjadi remaja yang lemah dan pengecut!!

Kisah Seorang Anak Raja Keluar Meninggalkan Istana - Kenapa?

Kepada anak cucu dan remaja sekelian, Pak Lang titipkan kisah seorang anak raja yang zuhud. Tuhan memilihnya menjadi remaja yang sangat rasa dirinya hamba yang hina. Dia benar-benar menghayati hakikat kehidupan di sisi Tuhan. Bacalah untuk iktibar dan merenung kedudukan diri kita sendiri.

Sebuah cerita telah dituliskan dengan tinta emas dalam lipatan sejarah Khalifah Harun Ar-Rasyid oleh para penulis kisah-kisah sufi. Diceritakan bahawa salah seorang putera Khalifah Harun Ar-Rasiyd berbeza perangainya dengan putera-puteranya yang lain. Ia lebih suka berzikir kepada Allah dari mendengar hiburan, lebih suka menziarahi dan berkumpul dengan orang-orang zuhud yang ahli ibadah daripada berkumpul dengan keluarganya yang hidup mewah di istana. Suatu hal lagi yang paling menarik perhatian orang ramai ialah anak ini sentiasa pergi ke kubur, tanpa mengira masa. Di sanalah ia menangis kerana mengingatkan mati dan ingat pula akan balasan apa yang sedang diterima oleh ahli kubur.

“Wahai ahli kubur! Engkau adalah orang-orang yang telah mendahului kami menghadap Allah. Aku tahu bahawa engkau semua adalah orang-orang yang memiliki dunia, tapi aku tidak nampak dunia ini dapat menyelamatkan engkau, dan akhirnya engkau dihalau juga ke dalam kubur,” kata anak Khalifah itu apabila berada di atas perkuburan. Kemudian ia berkata lagi: “Wahai diriku, aku juga akan menjadi seperti mereka.” Kemudian menangis semahu-mahunya kerana ingatannya akan kematian memuncak lagi. Di sela-sela tangisannya itu, keluarlah kata-kata: “Setiap hari kita dikejutkan oleh jenazah-jenazah yang diusung. Tangisan mereka yang berdukacita akibat kematian juga menggelisahkan kami.”

Pada suatu hari anak muda ini datang kepada ayahnya Khalifah Harun Ar-Rasyid yang sedang berada di sebuah majlis bersama para menteri, pegawai tinggi kerajaan dan kaum kerabat istana. Ia memakai jubah sufi yang sudah lusuh dan di kepalanya pula terlilit serban yang sudah buruk pula. Beberapa pegawai tinggi merasa tidak senang dengan kehadiran putera Khalifah yang memakai pakaian tidak kemas dan tidak sesuai dengan keadaan anak-anak raja. Mereka berbisik sesama sendiri: “Putera Khalifah yang satu ini menyampahlah. Ia telah memberi kita malu di hadapan orang-orang besar.” kemudian berkata lagi: “Elok kita laporkan saja perkara ini kepada Khalifah, barangkali beliau akan memanggil dan memberinya nasihat, agar ia kembali pada keadaan yang sesuai.”

Khalifah yang pada mulanya tidak begitu mengambil kisah akan masalah anaknya yang satu ini kerana ia tahu maqam keadaannya, akan tetapi kerana bisikan orang lain, beliau pun memanggilnya dan berkata: “Wahai anakku! Pakaian dan keadaan dirimu itu menyinggung perasaanku di hadapan orang-orang besar. Pakailah yang cantik sedikit.”

Si anak tidak menjawab atau menyanggah perkataan ayahnya, kerana ia seorang anak yang taat kepada ayahnya dan tidak pernah membantahnya. Ia menundukkan kepala, kemudian memandang ke atas istana dan dilihatnya di sana ada seekor burung sedang bertenggek di atas salah sebuah bumbung istana. “Wahai burung!” kata anak itu, “Demi Tuhan yang menjadikan engkau, sila ke mari!” Sambil berkata demikian ia menghulurkan tapak tangannya, dan ternyata burung itu pun terbang ke bawah dan hinggap di tapak tangannya. 
 
Kejadian ajaib ini membuat orang yang hadir termasuk Khalifah menjadi hairan. Namun beliau sedar bahawa anaknya yang satu itu memang tinggi maqamnya di sisi Allah. “ Sila engkau balik semula ke tempatmu!” kata anak itu kepada burung. Ketika itu juga burung terbang semula ke atas bumbung. Sebentar kemudian anak Khalifah itu berkata lagi: “Wahai burung! Demi Tuhan yang telah menjadikan engkau, silalah engkau hinggap di tapak tangan Khalifah.” 
 
Ternyata burung tidak mahu menurut perintahnya, kerana disuruh hinggap di tangan Khalifah Harun Ar-Rasyid bukannya di tangannya sendiri. “Engkaulah yang telah membuat aku malu kerana kecintaanmu terhadap dunia, sampai burungpun tidak mahu menghampirimu,” kata anak itu menyelar Khalifah apabila burung tidak sudi menghampirinya. “Kalau Khalifah merasa malu disebabkan aku berada di sini, baiklah aku akan beredar dari istana,” kata anak itu lagi kepada Khalifah, ayahnya. 
 
Khalifah berusaha menghalang maksud anaknya, namun ia tetap pada pendiriannya. Maka keluarlah ia dari istana meninggalkan ayah dan ibunya menuju Basrah. Ia tidak membawa apa-apa bekal selain daripada sebuah Mashraf Al-Quran dan sebentuk cincin dari ibunya. Cincin itu dari jenis yang mahal dan hanya dipakai khas oleh isteri Khalifah, kerana asalnya cincin itu milik Khalifah Harun yang diberikan kepada isterinya. 
 
Di Basrah, ia tidak mahu menjual barang pemberian ibunya. Oleh kerana itu ia mencari kerja untuk menyara hidupnya. Kebetulan di Basrah ada seorang yang sedang mencari pekerja untuk melakukan kerja-kerja mengorek tanah dan memagar rumahnya. Apabila melihat anak muda itu sedang mundar-mandir mencari kerja, dia berkata: “Wahai anak muda! Adakah engkau mencari kerja?” “Ya, saya,” jawabnya. “Betulkah engkau mahu bekerja?” “Betul. Mengapa pula aku tidak mahu bekerja sedangkan aku diciptakan memang untuk bekerja.” “Kalau begitu bekerjalah dengan saya.” “Tapi tolong ceritakan, kerja apa yang akan kau berikan kepadaku?” “Kerja mengorek tanah,” jawab tauke itu. “Boleh, tapi aku akan mengajukan beberapa syarat. Pertama, aku minta upah satu perpuluhsn enam dirham sehari. Yang kedua, jika waktu solat, izinkan aku berhenti sekejap untuk mengerjakan solat.” “Itu saja syaratnya?” tanya tauke. “Ya itu saja.” “Kalau hanya itu tidak ada masalah, aku akan penuhi semua permintaanmu dan engkau bebas melakukan solat bila sudah masuk waktunya.” 
 
Setelah kedua-dua belah pihak saling menyetujui persyaratan yang diajukan, maka Abu Amir membawa anak muda itu ke tempat pekerjaannya. Setelah memberikan nasihat dan tunjuk ajar seperlunya, Abu Amir pergi ke tempat lain untuk menguruskan kerja-kerja yang lain. Maka bekerjalah anak muda itu dengan tekun dan tidak mencuri tulang. Apabila masuk waktu solat, ia berhenti, mengambil wuduk lalu solat, dan kemudian menyambung kerjanya semula. 
 
Apabila waktu maghrib tiba, Abu Amir datang melihat hasil kerjanya. Alangkah terkejutnya apabila ia mendapati hasil kerjanya sama dengan kerja sepuluh orang. Oleh kerana itu Abu Amir merasa tidak patut membayarnya dengan upah seperti yang dimintanay. Maka iapun menghulurkan dua dirham. “Wahai Abu Amir! Mengapa upahku sampai dua dirham?” tanyanya. “ Kerjamu sangat banyak, jadi aku membayarnya terlalu sedikit.” “Tidak boleh. Kita sudah mengikat janji dengan upah satu perpuluhan enam dirham, tidak boleh lebih. Sila ambil bakinya,” katanya tegas. Amir bertambah hairan, baru sekarang ia berjumpa dengan pekerja yang tidak mahu dibayar lebih walaupun kerjanya memang banyak.

Keesokan harinya Abu Amir pergi lagi ke pasar mencari pemuda itu untuk disuruhnya bekerja, tapi sayang setelah berpusing-pusing mencarinya, pemuda itu tidak ada. Kemudian ada orang memberitahu bahawa anak muda itu tidak bekerja melainkan pada hari Sabtu sahaja. Maka pada hari Sabtu berikutnya, barulah Abu Amir bertemu dengan pemuda itu dan diajaknya bekerja. Iapun setuju dengan syarat seperti pada Sabtu yang lalu. Apabila waktu maghrib tiba, Abu Amir pergi untuk melihat hasil kerjanya, ternyata hasil kerjanya sangat banyak, tidak patut kerja seorang dalam sehari. “Tentu anak muda ini seorang wali Allah,” kata Abu Amir dalam hatinya. 
 
Apabila ia akan membayarnya lebih, anak muda itu tidak mahu, dengan alasan melanggar perjanjian yang telah dibuat bersama. Pada hari Sabtu yang ketiga, Abu Amir pergi mencarinya lagi untuk bekerja, namun anak muda itu tidak datang-datang ke pasar lagi. Ada yang memberitahu bahawa ia sudah tiga hari terbaring di pondoknya kerana sakit tenat. Maka Abu Amir segera pergi menziarahinya dan didapatinya ia sedang terbaring di dalam sebuah rumah kecil yang tidak berpintu dengan berbantalkan pecahan batu-batu bata. Ia kelihatan sangat lemah kerana penyakitnya sangat teruk dan sedang dalam keadaan tenat.
 
Setelah memberikan salam, Abu Amir memegang kepala anak muda itu dan diletakkannya diribaannya. Apabila ia mengetahui bahawa yang datang itu adalah Abu Amir, ia berkata: “Wahai sahabatku! Janganlah engkau tertipu oleh nikmat ketahuilah nikmat itu akan habis dan umurpun akan tamat. Jika engkau mengetahui masalah suatu kaum walau sekali, ketahuilah akan ditanya tentang mereka pasti. Jika engkau membawa mayat ke kubur di dalam usung, ketahuilah selepas itu engkau juga akan diusung.

Menitis air mata Abu Amir mendengar nasihat anak muda itu, seolah-olah ia memberikan nasihat yang terakhir. “Wahai Abu Amir,” katanya lagi,” Jika rohku telah berpisah dengan tubuh kasarku, hendaklah rngkau sendiri yang memandikan mayatku. Engkau kapankan aku dengan jubahku ini.”

Demikian kisahnya... Allah!!! Bilakah hati kita menjadi seperti hatinya?

Tuesday, 25 June 2013

Kisah Sahabat Nabi Saiyidina Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Sesungguhnya sesiapa yang mencari kebenaran, pasti akan menemuinya. Kisah ini adalah kisah benar pengalaman seorang manusia mencari agama yang benar (hak), iaitu pengalaman SAIYIDINA SALMAN AL FARISY

Marilah kita semak Saiyidina Salman menceritakan pengalamannya selama mengembara mencari agama yang hak itu. Dengan ingatannya yang kuat, ceritanya lebih lengkap, terperinci dan lebih terpercaya. seorang sahabat Rasulullah saw. 

Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radliyallahu ‘Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman, “Saya pemuda Parsi, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak dilahirkan. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga kerana teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis.

Aku mengabdikan diri dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami supaya api tersebut sentiasa menyala.

Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Kerana itu beliau menetap di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapa pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkata kepadaku, “Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapa.’’

Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku.

Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Kerana selama ini aku dikurung bapa di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka bersembahyang dan ingin menyertainya.

Kataku, “Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami."Aku tidak berganjak dari gereja itu sehinggalah petang. Sehingga aku terlupa untuk ke kebun. Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?” “Dari Syam (Syria),” jawab mereka. Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa bertanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.

Jawabku, “Wahai, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang.”

Bapa menasihati akan perbuatanku itu. Katanya, “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!” Jawabku, “Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Bapa khuatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Kerana itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai.

Ketika aku beroleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memaklumkan kepadaku andai ada kafilah yang akan ke Syam supaya memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku.

Maka aku berusaha untuk membebaskan diri daripada rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam. Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?” “Uskup yang menjaga“ jawab mereka.

Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menjadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda.” ‘Masuklah!” kata Uskup. Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.

Setelah beberapa lama aku berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibahagi-bahagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.

Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan duit sedekah kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya. Aku berkata kepada mereka, "Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”

Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?” Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.” Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!” Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!”

Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?” Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu. Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersama saya.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru mempercayai seandainya guru sudah tiada?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!”  Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan pendeta Mosul. Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!”

Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar dengannya sehinggalah beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!” Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku. Katanya, “Tinggallah bersama kami!

Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayai seandainya guru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim. Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu meninggal dunia, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mahu membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.”

Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.” Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikanku datang mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraidzah, lalu aku dibelinya daripada majikanku.

Aku berpindah ke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru.

Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi Baginda masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da'awah yang Baginda sebarkan kerana aku terlalu sibuk dengan tugasku sebagai hamba.

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah! (kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil kerananya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar anda? Cubalah khabarkan kembali kepadaku!”

Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!” Keesokannya aku mengambil buah kurma seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan Rasulullah saw..

Kataku “Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabat tuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain.” Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya. Baginda berkata kepada para sahabatnya, “silakan kalian makan,…!” Tetapi Baginda tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya.

Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara ciri cirinya!” Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang terdaya kukumpulkan. Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba’ ke Madinah, kubawa kurma itu kepada baginda.

Kataku, “Aku lihat tuan tidak mahu memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan.” Rasulullah saw. memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi baginda di Baqi’, ketika Baginda menghantar jenazah sahabat baginda untuk dimakamkan di sana. Aku melihat Baginda memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada Baginda, aku berjalan mengekorinya sambil melihat ke belakang Baginda untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan guruku.

Agaknya Baginda mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti belakangnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya. Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk Baginda, lalu kuciumi dia sambil menangis. Tanya Rasulullah, “Bagaimana khabar Anda?”

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat Baginda. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah pengalamanku.

Berbahagialah Saiyidina Salman Al-Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Saiyidina Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia beriman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Saiyidina Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak.

Salman sibuk bekerja sebagai hamba. Dan kerana inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah saw. suatu hari bersabda kepadaku, "Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!" Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan bersabda, "Berilah bantuan kepada saudara kalian ini." Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, setiap orang sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah saw. bersabda kepadaku, "Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku."

Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah saw. dan memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah saw. keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada Baginda dan Rasulullah saw. pun meletakkannya di tangan baginda. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah dipenuhi, aku masih mempunyai tanggungan menebus diri dengan 40 uqiyah emas. Kemudian Rasulullah saw. membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas Baginda bersabda, "Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?" Kemudian aku dipanggil Baginda, lalu Baginda bersabda, "Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!"

"Wahai Rasulullah saw., bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian daripada Baginda. Rasulullah menjawab, "Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya." Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, berat timbangan emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.’

(HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa’ad dalamath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)

Monday, 24 June 2013

Kisah Seorang Pakcik Tua…


Di dalam dunia ini ramai manusia pelik yang berhati mulia. Di celah-celah berjuta manusia ramai yang pelbagai ragam, biasanya ada terselit satu dua sosok tubuh insan berharga di sisi Tuhan. Itulah yang patut kita fahami agar kita tidak tersilap menanggapi seseorang. Manusia kekasih Tuhan mempunyai pelbagai ragam dan watak tersendiri. Tidak semua manusia biasa memahaminya. Tetapi bagi yang punya firasat dan ketepatan rasa hati, mereka akan cepat mengenal mana intan mana yang kaca. 

Kepada anak cucu semua, jadilah orang yang beruntung iaitu mereka yang dapat mengenali siapa kekasih Allah di atas muka bumi ini. Jika kita berupaya mengenali mereka, dapatlah pula kita beradab sopan dan berakhlak dengannya. Janganlah kita tersilap dalam menilai hal sebegini kerana buruk padahnya. Orang-orang Tuhan bertindak dan berbuat penuh dengan rahsia tersirat. Hanya hati yang dipimpin Tuhan sahaja yang akan mampu menyedarinya...

Bacalah pengalaman seorang hamba Allah seperti berikut....KLIK UNTUK SUMBER

Pagi tadi lebih kurang pukul 10.30 aku singgah sarapan di bazar Batu Buruk sementara menunggu interview di steten minyak kerana sudah tiada kerja di Terengganu yang menggunakan Ijazah aku ini. Sewaktu makan, mata ni terpandang seorang pakcik yang “lusuh ” karekternya.. Bau busuk, baju koyak, pakai kain pelikat singkat, tak beralas kaki, tapi berkopiah.

Duduk bersandar di tiang bazar dekat dengan kerusi aku. Terdetik dalam hati, apa pakcik ni kelaparan. Orang gila pun lapar, masih tetap manusia. Aku pesan satu lagi nasi minyak. Pesanan aku sampai ke meja. Terus aku beri pada pakcik tadi. Tuan kedai terkejut dan mengangkat tangan melambai seolah2 memanggilku. Aku pun balas tunggu skejap.

Pakcik tadi tenung aku sambil berkata “pakcik dah makan nak.. terima kasih nak..” Dalam hati terdetik sungguh indah bahasa pakcik yang ku sangka gila tadi. Aku bangun dengan kecewa kerana pesanan aku tidak dijamah oleh pakcik. Lalu aku pergi kepada tuan kedai yang memanggil ku tadi.

Ada apa pakcik? Pakcik kedai balas: Jangan bagi dan suruh dia makan kat sini, nanti customer pakcik lari. Aku tersentap. Dan spontan aku membalas. “Jika orang ini ayah kandung pakcik, pakcik halau tak dia?” Pakcik tu diam. Takpe pakcik, saya akan bayar ansuran kalo pakcik rugi hari ni. Saya nak tanya, betul ke pakcik td tu sudah makan? Pakcik kedai jawab, tidak. Dari mula pakcik buka kedai pukul 6.30 tadi pakcik kopiah tu duduk kat tiang tu.

Dalam hati kecil ni cakap, tak pernah aku jumpa pakcik gila semulia ini. Tidak mengemis, tidak pula meminta. Aku pegi semula pada pakcik kopiah tu. “Pakcik, saya sunyi makan sorang2, pakcik teman saya makan jom.” Pakcik tu akur dengan pelawaan aku kerana kesungguhan aku. Ramai yang beralih meja kerana bau pakcik tu, namun kerana ingin menjaga hati orang tua yang aku tak kenal, aku tahan bau itu.

Lega tengok pakcik tu makan dengan sangat sopan. Aku lontarkan beberapa soalan pada pakcik tu. Pakcik dari mana, tinggal dimana? Pakcik tu jawab. Pakcik merantau cari redha Allah. Aku terkejut. Dalam hati aku dah syak bukan2. Kot2 wali ke ni? Mana keluarga pakcik?
Pakcik dibuang oleh keluarga pakcik kerana sekeping geran tanah. Kenapa pakcik? Apa masalahnya? Pakcik sedekahkan geran itu untuk seseorang untuk dibangunkan pondok2 mengaji. Keluarga pakcik terus buang pakcik. Allah…

Pakcik tinggal dimana? Pakcik tu diam tak menjawab. Masa terlalu singkat untuk aku menyambung urusan kerja. Aku panggil pakcik kedai untuk kira. Semuanya berharga RM 11.60. Aku celup dompet aku, dan aku lupa yang aku hanya bawa RM 5.00. Aduh…. Pakcik tu nampak raut wajah muka aku seolah2 melihat masalah dalam dompetku. Pakcik tu mencelah. Nak, ambil duit ni, pakcik bayarkan.

Nak tau ape? pakcik keluarkan satu sampul surat sebagai dompet dia, dalam tu duit seratus setebal setengah inci, dan satu kad BSN dan i.c lama (pakcik tu bekas tentera laut).. Satu kedai dia bayarkan. Allah.. Satu kedai hairan apabila pakcik kedai tu announce yang makanan semua sudah dibayarkan oleh pakcik kopiah tadi. Masing2 semua pandang aku dan pakcik kopiah. Dengan tiba2 pakcik kopiah angkat tangan dan berdoa dengan suara yang agak sederhana kuat, aku pun turut angkat sama. Dan paling terharu apabila aku dengar suara “amin…..” dengan suara yang ramai. Bila aku berpaling ke belakang, satu kedai mengangkat tangan bersama pakcik kopiah tu.. Ada yang bangun mendekati kami berdoa dekat2.

Terasa sangat gemuruh dan terharu dengan keperibadian orang yang ku sangka gila ini rupanya seorang guru agama!! Ada yang menangis kerana doa oleh sang guru itu sungguh merdu.. Kecoh seketika.. Selesai berdoa, aku bersalam dengan pakcik tadi dan ucap terima kasih dengan harapan dapat jumpa lagi. Aku terus berjalan ke motor aku. Aku berpaling ke belakang, semakin ramai yang berkerumun pada pakcik tadi. Aku senyum tanda puas bahawa orang sekeliling mula mendekati pakcik. Aku buka semula dompet aku kerana aku simpan kunci motor dalam tu.

Nak tau apa? Aku terkejut kerana ada 2 keping duit seratus dan satu nota kecil yang bertulis: “Ambil duit ni buat beli susu anak dan buah delima untuk orang rumah anak yang mengidam..” Aku terkaku, dan terus pandang ke arah tempat pakcik tadi. Beliau sudah tiada disitu. Aku terus pakai helmet dan tutup pemuka helmet. Aku menangis kerana terharu dan sangat bersyukur. Bagaimana dia tahu aku dalam kesusahan…
Ya Allah.. Kau peliharakanlah pakcik itu..

Murid Yang Terbaik Mempunyai Hati Yang Eksklusif Dengan Mursyid


Kepada semua anak cucu dan remaja sekelian.

Banyak perkara yang kita semua kena faham apabila kita berjalan di atas jalan kesufian. Jalan kesufian adalah perjalanan hati. Hati diproses merasakan hebatnya Tuhan dan merindui Baginda Nabi saw. Hati merupakan wadah utama yang diberi perhatian. Adab dan peraturan sufi semuanya bersifat rohaniah. Namun faktor utama hati dapat dibawa berjalan menuju Tuhan ialah wujudnya penyerahan diri murid kepada guru mursyidnya. 

Dari sudut teori, seseorang murid memang wajar dan patut menyerah jiwa-raganya untuk dicatur dan dipimpin oleh guru mursyid. Apa saja arahan dan kehendak mursyid itulah yang dilakukan oleh simurid. Ketaatan itulah jaminan keselamatan dunia akhirat untuknya. Jika ditanya siapa sahaja, itulah konsep yang diterima dan diakui sangat perlu sebagai syarat murid itu 'lulus'. Walaupun penyerahan diri secara total ini dilihat sangat 'ekstrem' oleh golongan sekular, ia tetap menjadi penentu keberkesanan didikan guru mursyid di dalam disiplin sufi.

Sebenarnya konsep ketaatan inilah yang mengagalkan ramai orang yang awalnya bercita-cita mahu hidup mati untuk Islam bersama siguru mursyid. Apa yang diakui benar itu hanya dari sudut teori sedangkan jika sampai di peringkat praktisnya, ternyata tidak ramai yang mampu. Ramai yang gagal untuk taat setaat-taatnya!! Allah!! Sulit dan tersangat sulit menyelamatkan hati bila saat diuji. Ketaatan rupanya bukan sekadar untuk diungkap tetapi mesti dibuktikan secara realiti. 

Inilah yang mencemaskan kaum sufi. Mereka yang faham, akan sentiasa membimbangi diri takut tergelincir menjadi murid yang tidak taat. Paling ditakuti dan digeruni ialah jika termasuk menjadi murid yang derhaka. (Mohon dilindungi Allah!).

Sebenarnya ada perbezaan antara murid yang ikhlas atau lurus hati dengan guru mursyid berbanding murid yang berpotensi gagal. Marilah kita lihat perumpamaan berikut sebagai panduan untuk kita faham. Bacalah! Semoga anak cucu semua dapat memahaminya!

Marilah kita lihat perbandingan diantara dua orang murid yang diuji oleh guru mursyid. kedua-duanya dihukum dengan sesuatu hukuman diatas kesalahan masing-masing. Maka  seorang berkata, “Memang saya bersalah dan berdosa. Saya mengaku dan saya memang patut dihukum.“ Manakala seorang lagi pula berkata, "Apa salah saya hingga saya dihukum sebegini?” Itulah dua pendirian yang sangat berbeza. 

Kalau sekalipun murid pertama tadi bersalah tetapi sebenarnya hatinya lebih mulia dari murid yang kedua yang rasa tidak bersalah. Hatilah pengukur semua ini kerana hati yang merasa hamba itu nilaiannya sangatlah tinggi di sisi Allah SWT. Lebih-lebih lagi hati yang sentiasa lurus dengan Guru Mursyid. 

Sekalipun apa yang Mursyid lakukan padanya sesuatu yang amat pedih, sakit atau memalukan pada pandangan orang lain. Tapi itu semua tidak mencacatkan hatinya. Lintasan yang masuk ke hati kalau berlaku sekalipun, segera ia menepis dan mendoakan perlindungan dari Tuhannya. 

Murid yang kedua, ungkapan katanya sudah mencacatkan hatinya dengan Mursyid. Dia mempertikaikan urusan Mursyid dalam mendidik hatinya. Hatinya tidak mampu tunduk merasakan benarnya hukuman yang dijatuhkan ke atasnya oleh Mursyid. Mempertikaikan keputusan Mursyid sudah memutuskan talian 'radar' hatinya yang sepatutnya bersambung dengan hati Mursyid. 

Keberkatan sudah hilang melainkan dia memulakan semula prosesnya dengan taubat, meminta ampun dan sebagainya. Demikianlah sulitnya jalan sufi. Ianya terpusat pada adab murid dengan mursyidnya. Semakin berhalus adab yang dilakukannya, semakin 'powerlah' keberkatan yang diperolehinya.

Bagi murid yang pertama ini, lagi di uji, lagilah intim hatinya bersama Mursyid. Rindu mendalam sentiasa wujud di dalam hatinya - walaupun dihukum oleh Mursyid. Dia tidak buruk sangka dengan mursyid. Murid yang sebegini, jika berpeluang berada hampir dengan Mursyid, cintanya terasa membara, bila jauh terasa merindu. 

Berindu-rinduan dengan mursyidnya ini tidak pernah ditunjukkan secara fizikal. Bisikan-bisikan rindu dan kalimah-kalimah indah terhadap Guru Mursyidnya hanya sentiasa bermain-main dihatinya. Terasa amat bahagia yang amat sukar untuk diceritakan dengan lafaz kata-kata. Perasaannya terlalu halus dengan Mursyid. Terlalu dekat dan intim.

Orang yang begini, kepentingan diri tidak ada dalam perjuangan. Ada jawatan atau tidak ada jawatan baginya tidak penting. Hubungan hati terhadap Mursyid amat dijaga. Takut terguris dan dilukainya. Pengorbanan perasaannya sangat tinggi. Begitu juga segala yang dipunyainya - lahir dan batin - dikorbankannya sekalipun sudah  kehabisan tenaga, terlalu letih dan penat. 


Baginya semuanya adalah untuk mendapat keredhaan Mursyid. Yang lain sudah kecil dan tidak wujud . Malah keperluan dirinya pun dilupakannya. Dan ia sanggup buat apa sahaja sekalipun arahan nyawa untuk dikorbankannya .Sangat-sangat taat dengan Mursyid. Itulah apa yang berlaku di kalangan para sahabat terhadap Baginda Rasulullah saw. .

Murid yang lurus hati dengan mursyid ini akan menyukai apa yang Mursyid suka. Begitu jugalah apa yang Mursyid benci, itulah juga kebenciannya. Hatinya bagaikan radar pengesan hati Mursyidnya. Apa rasa hati Mursyid, itulah rasa hatinya. Hubungan hatinya dengan Mursyid tidak pernah putus. Sentiasa terhubung, segar dan terus meningkat kerinduannya dari masa ke semasa walaupun ujiannya semakin berat. 


Ujian bukan tidak ada padanya. Malah ujiannya sangat berat tapi setiap kali diuji dapat sahaja ia melepasinya. Seolah-olah diajar-ajar dan ditunjuk-tunjuk bagaimana perlu mengatasi dan melepasi ujian itu. Hatinya dipimpin. Sungguh cerdiknya ia, hingga percintaannya dengan Mursyidnya tidak dapat diganggu gugat oleh sesiapa dan oleh apa situasi sekalipun!!

Setiap kalimah yang keluar dalam bicaranya, semuanya terpancar dari lubuk hatinya. Bukan yang dikarang-karang atau difikir-fikirkan oleh akalnya. Sebab itu kadang-kadang kata-katanya sangat tegas dan keras. Keputusannya sangat berat untuk diterima oleh orang yang tidak bersedia mengosongkan dirinya. Baginya menjaga jemaah Mursyid itulah keutamaannya.

Percintaannya dengan Mursyid sangat eksklusif, sangat istimewa. Dia dapat merasa buah yang manis dan lazat hasil percintaannya itu. Rindunya berbalas. Mursyid juga sangat sayang padanya. Hasil dua hati yang terhubung antara mursyid dan muridnya , maka ia dihadiahkan anugerah yang istimewa. Iaitu hati yang bersih dan sejahtera. Hati yang sebeginilah yang dimaksudkan oleh Tuhan,



يوم لا ينفع مال ولا بنون

إلا من أتى الله بقلب سليم 


Di hari yang tiada guna harta dan anak-pinak,

Melainkan siapa yang mendatangi Allah dengan hati yang sejahtera?



[Para penyair (As-Syua'ara'): 88-89]

Indahnya Bercinta Dengan Tuhan!!!


Khat indah menukilkan keseluruhan surah ar-Rahman
 

Bercinta dengannya Tuhan itu mudahnya ranum,
Cinta denganNya tidak berhajatkan temu janji,
Kerana Tuhan itu hakikatnya inna ma'akum aina ma kuntum,
Pada setiap masa setiap tempat siang malam petang dan pagi

Bercinta dengannya Tuhan itu indahnya nian,
Cinta itu diikat ketat dengan permintaan,
Sedangkan manusia meluat kalau kita selalu meminta,
Sedangkan Tuhan itu makin kita meminta makin Dia cinta!

Bercinta dengannya Tuhan itu tiap-tiap perbuatan dilayani,
Setiap pujian padaNya itu diganjari, setiap rayuan didengari,
Setiap ucapan padaNya dibalasi kalau ingatNya diingati,
Sehingga terasa malu mengenangkan bagaimana sang pencinta ini?

Bercinta dengannya Tuhan itu bila-bila kau boleh merajuk,
Nanti Dia akan mendatangkan takdir untuk kitanya dipujuk,
Maka - bagaimanakah bisa manusia-manusia tidak berTuhankan,
Sedangkan perasaan manusia naik turun dalam ribut dalam hujan?

Bercinta dengannya Tuhan itu tiada istilah Mencintai,
Kerana cinta denganNya sentiasa tetapnya Bercinta,
Kerana Mencintai itu lazim selalunya seorang diri,
Tetapi Bercinta itu adalah saling antara kedua-dua.

Bercinta dengannya Tuhan itu syaratnya ketat,
Korban jiwa, masa, harta, pangkat dan juga jasad,
Kerana bukannya senang mencapai hakikat ma'rifat,
Perlu sabar ikhlas benar jalan ini tidaklah singkat!

Maka barangsiapa yang mencintai yang kekal -
maka kekallah nikmat kecintaan bersama Yang Kekal di syurga,
Barangsiapa yang mencintai yang musnah - tegal* -
itulah - musnahlah dia bersama yang fana' di negeri sana!

---

*tegal = kerana, oleh sebab; ~ itulah, oleh sebab itulah, kerana itulah

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم

Sunday, 23 June 2013

Kes Remaja Hamil Luar Nikah: 'Satu Kelahiran Setiap Hari'


Jika kita tinjau di internet, kita akan mudah mendapatkan fakta-fakta menyedihkan tentang situasi remaja di negara kita. Mereka sedang dihanyutkan ke jurang kemusnahan sepanjang hayat jika tidak segera disedar dan dipulihkan. Siapakah yang prihatin memikirkan masalah mereka? 
 
Berita di bawah hanya secebis dari timbunan menggunung masalah remaja yang dimaksudkan. Pak Lang tujukan berita ini untuk pakar-pakar masyarakat agar mereka merenung semula kerja mereka setakat ini. Janganlah kita mengaku pakar itu ini, jika masalah masyarakat dan remaja yang semakin berleluasa ini, kita tidak berupaya membaikinya atau sekurang-kurangnya membendungnya. 
 
Bayangkan sebuah hospital di bandar Klang sahaja mempunyai catatan kes mengendalikan kelahiran luar nikah seramai 12,000 orang. Bagaimana dengan ratusan buah hospital yang ada di negara kita? 
 
Apa yang pemimpin dan para pejuang agama di negara kita lakukan? Wajarnya kita semua tunduk malu dengan Tuhan. Tuhan sedang menghukum kita. Kita sombong mengatakan kita kerana kita merasa kita mampu menangani semua masalah. Idea-idea 'pintar' kita semuanya 'kantoi'. Hal sebesar ini sudah tidak dapat kita bendung. Kita sedang gagal dan akan terus gagal. Ini hanya di sudut remaja dalam hal seks, belum lagi ratusan jenis kes yang lain! Jadi, bacalah dengan hati yang insaf!!...
 
 
KLANG:
Semakin ramai remaja Malaysia hamil luar nikah dengan beberapa hospital utama mencatatkan sekurang-kurangnya satu kes setiap hari.

Menurut Ketua Jabatan dan Pakar Perunding Kanan, Jabatan Obstetrik dan Ginekologi, Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR), Dr Mohamad Farouk Abdullah, kira-kira 12,000 anak luar nikah dilahirkan di hospital tersebut.

"Kami ingat kes remaja hamil luar nikah hanya berlaku di Klang tetapi senario sama turut dihadapi enam hospital pakar di Selangor," katanya.

"Remaja berusia 12 tahun merupakan remaja termuda melahirkan anak di hospital ini," kata Dr Mohamad Farouk pada seminar 'Pregnant by Choice, Not by Chance or Force'.

Ia dianjurkan hospital tersebut sempena bulan Perancangan Keluarga.

Kementerian Kesihatan merekodkan kira-kira 18,652 kelahiran oleh remaja berusia di bawah 19 tahun pada 2011 berbanding hanya 5,962 kes pada separuh kedua 2010.

Pegawai perubatan kebajikan sosial HTAR, Nurul Azira Mahamad Jafar berkata, dia menguruskan sekurang-kurangnya satu kes remaja hamil luar nikah setiap hari pada tahun ini.

"Saya pernah mengendalikan 14 kes, bilangan tertinggi dalam tempoh sehari melibatkan remaja hamil di usia muda," katanya.

Nurul Azira memberitahu dia pernah menguruskan kes yang melibatkan remaja hamil luar nikah, mangsa rogol dan penderaan seksual di hospital tersebut dalam tempoh enam tahun.

Kebanyakan remaja yang hamil ini diarahkan oleh klinik untuk merujuk kepada hospital.

Ini kerana, kehamilan di usia remaja dianggap kes berisiko tinggi.

Seorang remaja berdepan risiko dua kali ganda untuk meninggal dunia akibat komplikasi kehamilan atau ketika melahirkan anak berbanding wanita berusia 20-an.

Kebanyakan remaja datang ke hospital mengadu mengalami ketidakselesaan di bahagian perut. Sebagai sebahagian daripada protokol hospital, doktor akan melakukan pemeriksaan kehamilan ke atas mereka.

Sekiranya disahkan hamil, mereka akan dimasukkan ke wad dan pihak hospital akan memaklumkan perkara itu kepada keluarga remaja terbabit.

Nurul Azira berkata, remaja di bawah usia 18 tahun yang hamil dan anak mereka dilindungi di bawah Akta Kanak-Kanak 2001 serta akan dirujuk kepada Jabatan Kebajikan Masyarakat (JKM).

Dalam kebanyakan kes, remaja hamil luar nikah kerana mereka melakukan hubungan seks dengan pasangan masing-masing. "Mereka terdiri daripada keluarga bermasalah dan berpendapatan rendah. Ada sesetengah daripada mereka melarikan diri dari rumah."

"Kami menjalin hubungan baik dengan remaja-remaja ini. Oleh kerana takut, mereka tidak akan menceritakan perkara itu kepada keluarga, jadi kami perlu mendapat kepercayaan mereka untuk memperoleh maklumat keluarga," katanya.

Nurul Azira berkata, kebanyakan ibu bapa malu apabila dimaklumkan mengenai keadaan anak mereka. "Mereka bimbang jiran akan mengetahui perkara tersebut. Terdapat juga segelintir ibu bapa yang mengakui gagal mengawal tingkah laku anak mereka."

"Kebiasaannya kami akan menasihatkan remaja terbabit dan ibu bapa mereka untuk mendapatkan kaunseling," katanya. Jelasnya lagi, sekiranya ibu bapa tidak dapat menjaga ibu dan anak tersebut, mereka boleh menyerahkan kedua-duanya kepada JKM.

Beliau menceritakan kes remaja berusia 13 tahun yang melahirkan anak luar nikah baru-baru ini. "Ibu bapanya berkata mereka enggan memberi jaminan bahawa remaja tersebut tidak akan hamil semula sekiranya bapa kepada anak luar nikah itu tinggal di kawasan sama," katanya.

"Jadi mereka bersetuju untuk menghantar remaja dan bayi tersebut ke JKM," katanya.

Sekolah Remaja Hamil JAIM penuh - 15 Orang Dalam Senarai Menunggu!!

Oleh Badrul Hizar Ab Jabar
bhizar@bharian.com.my
2011/05/11

 SEKOLAH Harapan dan Rumah Harapan, Jasin,  memberi perlindungan kepada remaja hamil. 
SEKOLAH Harapan dan Rumah Harapan, Jasin, 
memberi perlindungan kepada remaja hamil.

15 diletakkan dalam senarai menunggu Sekolah Harapan dan Rumah Harapan

JASIN: Sejak ditubuhkan pada awal September 2010, Sekolah Harapan dan Rumah Harapan (SHRH) Melaka sudah menerima 49 remaja hamil dan bilangannya dijangka meningkat kerana permohonan terus bertambah.

Pengerusi Lembaga SHRH, Datuk Ab Rahaman Ab Karim berkata, sepanjang tempoh itu, 28 bayi dilahirkan dengan semua diambil oleh keluarga ibu mereka. Katanya, sehingga kini, 35 remaja menghuni rumah kebajikan berkenaan dengan sebahagiannya sudah melahirkan anak, manakala bakinya sedang menunggu masa untuk bersalin.

Mereka datang dari seluruh negara dan berusia antara 14 hingga 18 tahun, iaitu 14 dari Johor, masing-masing lapan dari Melaka dan Pahang, masing-masing lima dari Negeri Sembilan dan Kelantan, Terengganu (3), Kuala Lumpur (2) dan masing-masing seorang dari Selangor; Perak dan Sarawak.

Ab Rahaman berkata, setakat ini, 15 orang dalam senarai menunggu untuk memasuki rumah kebajikan berkenaan berikutan jumlah penghuni pada masa ini sudah mencapai bilangan maksimum. “Kita minta mereka bersabar kerana kerajaan negeri mungkin menimbang untuk menambah kapasiti dan kemudahan sekolah itu, selain bercadang meningkatkan penerimaan penghuni sehingga 50 orang pada satu masa,” katanya.

Ab Rahaman berkata, tahun ini, kos mengurus dan pembangunan sekolah itu dijangka membabitkan kira-kira RM1.1 juta berbanding RM547,171 tahun lalu.

SHRH terletak di Jalan Pegawai dan beroperasi dari jam 8 pagi hingga jam 4 petang di bangunan lama milik Syarikat Air Melaka Berhad (SAMB) dengan kos baik pulih RM100,000 dan mempunyai empat kelas, masing-masing sebuah bilik komputer, bilik mesyuarat serta pejabat pentadbiran.

Orang ramai ingin mendapatkan maklumat lanjut boleh menghubungi Ketua Pegawai Penguat Kuasa Agama JAIM, Rahimin Bani di talian 019-6671564 atau 06-2881534
 

Sample text

Sample Text

Sample Text