Social Icons

Sunday, 31 January 2016

Kisah Sahabiyah Nabi SAW - Barirah dan Rumah Tangga Tanpa Cinta


Ini adalah kisah percintaan klasik yang terjadi di kala tanah-tanah berpasir Madinah beraroma nubuwat.

Mughits. Itulah nama lelaki berkulit hitam ini. Ia merupakan salah seorang budak keturunan Afrika yang terdampar di kota Makkah. Tuannya bernama Abu Ahmad bin Jahsi Al Asadi, salah seorang shahabat Rasulullah yang telah memeluk Islam sejak di Makkah. Sebagai seorang hamba sahaya, Mughits merupakan budak yang amanah, jujur, dan bersemangat dalam mengabdikan dirinya pada sang tuan. Oleh karena itu, Abu Ahmad pun memperoleh banyak manfaat atas pengabdian budaknya itu. Sehingga tidaklah aneh jika kemudian Abu Ahmad juga sangat menyayangi dan mengagumi Mughits.

Ketika Abu Ahmad menawarkan Islam pada Mughits, ia pun serta merta menerima dan meresapkannya dalam jiwanya. Hal ini semakin membuat Abu Ahmad menyayanginya dan selalu mengabulkan permintaan-permintaan sang budak. Termasuk keinginan Mughits untuk menikah. Bagaimanapun juga, ia adalah lelaki yang memiliki kecenderungan untuk menentramkan hatinya dan melabuhkan jiwanya pada seorang perempuan. Maka, Abu Ahmad pun menyanggupi permintaan dari Mughits, tapi dengan syarat bahwa pernikahannya dilakukan setelah mereka Hijrah ke Yatsrib, Madinatun Nabi.

Hijrah ke Madinah pun terjadi.

Perjalanan hijrah Abu Ahmad ini tidak hanya menyertakan Mughits, tapi juga keluarga Abu Ahmad juga. Di perjalanan menuju Madinah, Abu Ahmad menyenandungkan syair-syair yang ditujukan pada isteri yang dicintainya. Melihat romantisme sepasang suami isteri itu, makin menggebulah tekad dan keinginan Mughits untuk membina rumah tangga. Disampaikannya keinginan hatinya lagi kepada Abu Ahmad. Berulang-ulang Mughits menyampaikan keinginannya itu pada sang tuan, seakan-akan keshabaran Mughits untuk menanti hingga ke Madinah sudah habis.

Sampailah rombongan Abu Ahmad di Madinah. Mereka pun mencari tempat tinggal hingga diperoleh yang sesuai. Saat itu, Mughits lagi-lagi datang kepada tuannya dan menagih janjinya. Maka dengan lembut Abu Ahmad pun menyuruhnya untuk mencari perempuan yang yang akan dijadikannya calon isteri yang sepadan dengannya, yakni yang juga berstatus sebagai budak.

Maka, mulailah Mughits mencari tambatan hatinya diantara perempuan-perempuan budak di perkampungan Madinah. Hingga akhirnya hatinya terpaut dengan seorang budak perempuan berkulit hitam yang cantik jelita di salah satu rumah penduduk Anshar dari Bani Hilal. Barirah nama perempuan cantik itu.

Mughits segera menemui Abu Ahmad dan memberikan kabar itu. Disampaikan keinginan hatinya untuk mempersunting Barirah menjadi separuh jiwanya. Maka, Abu Ahmad pun segera mendatangi keluarga Bani Hilal. Disampaikannya maksud kedatangannya untuk meminang Barirah bagi sahayanya. Mereka pun menerima baik keinginan Abu Ahmad. Disampaikanlah kabar itu kepada Barirah, tapi ternyata ia memberikan jawaban bahwa ia tidak menyukai lelaki yang akan dinikahkan dengannya itu. Ia pun merasakan kesedihan dan masuk ke kamarnya sembari menangis.

Keluarga Bani Hilal pun menyampaikan kepada Abu Ahmad bahwa mereka telah meridhai pinangan Mughits bagi sahayanya, tapi Barirah sendiri menyatakan tidak menyukai Mughits dan tidak menghendaki pernikahan itu. Mereka pun meminta waktu selama beberapa hari untuk membujuk dan melunakkan hati Barirah agar mau menerima pinangan itu.

Tatkala Mughits mendengar kabar bahwa Barirah tidak menerima pinangan itu, ia merasa sangat terpukul dan sedih. Ia meminta sang tuan untuk terus membujuk majikan Barirah agar hati Barirah luluh dan mau menerimanya. Ia katakan pada Abu Ahmad bahwa ia telah mencintai Barirah dan tidak mau menikah dengan perempuan selainnya. Abu Ahmad pun beberapa kali datang ke kediaman Bani Hilal untuk membujuk keluarga Barirah menerima Mughits.

Karena terus-menerus dibujuk oleh majikannya, Barirah pun menerima pinangan Mughits, meski hatinya masih merasakan keengganan. Betapa bahagia Mughits mendengar kabar itu. Pernikahan antara Mughits dan Barirah pun dilangsungkan. Di satu sisi, Mughits sangat bahagia karena telah mempersunting perempuan yang dicintainya. Sementara di sisi yang lain, Barirah merasa sangat tertekan karena terpaksa menerima pernikahan itu. Ia merasa telah menipu dirinya sendiri dengan menikahi lelaki yang tidak diinginkannya.

“Demi Allah,” kata Barirah, “Aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Setelah menikah, Barirah menjalani kehidupan rumah tangga dengan Mughits. Ia menjalani kehidupannya layaknya seorang isteri pada umumnya, melaksanakan pemenuhan kewajiban-kewajiban seorang isteri, terkecuali rasa cinta. Ia pun juga bersosialisasi dan bergaul dengan masyarakat umum yang kala itu sedang membangun peradabannya di Madinatun Nabi. Salah satu tempat yang sering dikunjungi Barirah adalah di deretan bilik ummahatul mukminin, terutama bilik Ummul Mukminin Aisyah. Ia sering kali datang ke bilik itu dan membantu pekerjaan-pekerjaan Aisyah. Karena itu, antara Barirah dan Aisyah pun terbina saling keterpercayaan. Barirah pun mengungkapkan rasa di dalam hatinya pada Aisyah.

“Demi Allah,” katanya penuh kegundahan, “Aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecintaan kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.”

Dengan kelembutan seorang shahabat pada karibnya, Ummul Mukminin Aisyah menasihati Barirah, “Wahai Barirah, bertakwalah kepada Allah dan bershabarlah dengan suamimu. Sungguh, ia adalah lelaki shalih, semoga Allah menghilangkan kegundahanmu dan menganugerahkan kecintaan kepada suamimu.”

Barirah pun mencoba menuruti nasihat Ummul Mukminin Aisyah. Dicobanya mencintai suaminya, Mughits. Namun, semakin ia mencoba mencintainya, yang dirasakannya adalah timbulnya kebencian pada Mughits yang demikian kuat dan menjadi-jadi.

“Demi Allah, wahai Ummul Mu’minin,” ujarnya makin gundah, “Sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya..”

“Bersabarlah, wahai Barirah,” kata Ummul Mukminin Aisyah kembali menasihatinya, “Semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”

Mughits yang mendapati sang isteri bersikap membencinya sedemikian rupa. Ia pun merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa cintanya ternyata berbalas kebencian dari sang isteri. Namun, ia tidak menyerah pada keadaan. Ia terus berjuang untuk meluluhkan hati isterinya agar mencintainya. Dimintanya Abu Ahmad menasihati isterinya agar bersikap lunak dan lembut kepadanya. Hasilnya tidak membawa perubahan. Dimintanya keluarga Barirah untuk membantunya, tapi mereka tidak terlalu merespon keinginan Mughits itu.

Melihat Mughits yang makin diliputi kesedihan, Abu Ahmad pun menghiburnya, “Kenapa kamu ini, wahai Mughits? Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, perempuan selain dia kan banyak.”

“Tidak, demi Allah, wahai Tuanku,” jawabnya penuh kesedihan, “Aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai perempuan selainnya.”

“Kalau begitu bersabarlah, sampai ia melahirkan anakmu, semoga setelah itu hatinya mulai berubah dan bisa mencintaimu.”

Harapan dalam hati Mughits pun berbinar berpendar. Ia sangat berharap bahwa jika nanti anaknya dengan Barirah lahir, ia akan menjadi wasilah bagi Barirah untuk kemudian mencintainya. Barirah hamil. Hingga ketika anak yang dikandungnya telah lahir, ternyata Barirah tidak menunjukkan tanda-tanda ia mulai mencintai Mughits, malah kebenciannya pun semakin dalam. Tidak pernah muncul keinginan dalam hatinya untuk melahirkan seorang anak dari Mughits.

Saat dalam keadaan nifas pasca melahirkan, Ummul Mukminin Aisyah mendatanginya untuk bersilaturahim, mengucapkan selamat, dan mendoakannya. Namun, Barirah malah menangis meratapi kemalangan dirinya melahirkan seorang anak dari seorang lelaki yang dibencinya.

“Wahai Barirah,” kata Ummul Mukminin Aisyah, “Mungkinkah engkau untuk membeli dirimu, jika engkau lakukan hal ini maka masalahmu akan bisa teratasi dan engkau berhak atas dirimu sendiri, dan jika engkau mau, engkau bisa berpisah dari suamimu.”

Ummul Mukminin Aisyah memberikan saran berdasarkan hukum Islam, bahwa seorang perempuan merdeka yang bersuamikan seorang budak memiliki hak khiyar (memilih) untuk melanjutkan pernikahannya atau bercerai.

“Aku telah mencoba berkali-kali memohon mereka untuk memerdekakanku, tapi mereka tidak menerimanya, seolah-olah tidak ada budak selainku yang bisa membantu mereka. Tetapi aku akan tetap bersabar sehingga Allah menghilangkan rasa sedih dan gundahku,” kata Barirah menjelaskan.

Setelah berlalu beberapa tahun. Keluarga Bani Hilal pun menyetujui pembebasan diri Barirah dengan pembayaran sejumlah uang. Bukan main gembira hati Barirah atas kesepakatan itu.

Barirah pun mendatangi Aisyah dan meminta bantuannya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya saya telah mengadakan janji dengan tuanku untuk memerdekakan diriku, dengan sembilan uqiyah, pada setiap tahun satuuqiyah, maka bantulah saya.”

Saat itu Barirah sama sekali belum membayar angsuran penebusan dirinya. Satu uqiyah adalah dua belas dirham. Imam An Nasa’i mencatat riwayat ini dalam Sunan.

“Kembalilah kepada keluargamu,” kata Ummul Mukminin sebagaimana dicatat dalam Shahih Muslim, “Jika mereka mau saya akan membayar tebusanmu, dan hak perwalianmu padaku, maka saya akan melunasinya.”

Hak perwalian adalah hak seorang majikan bila seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia sementara ia meninggalkan harta, maka hartanya itu diwarisi oleh orang yang memerdekakannya.

Barirah pun kembali kepada keluarganya dan menyampaikan apa-apa yang disampaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah. Namun, keluarga Bani Hilal mengatakan, “Apabila ia mau mengharapkan pahala maka hendaknya silakan ia melakukan dan perwalian itu untuk kami.”

Barirah pun datang pada Ummul Mukminin Aisyah kembali. Ia menceritakan perihal keinginan majikannya untuk tetap mempertahankan hak perwalian itu. Ummul Mukminin Aisyah pun memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah,” kata Ummul Mukminin Aisyah dalam Sunan An Nasa’i, “Barirah datang kepadaku meminta bantuan menyelesaikan perjanjian pembebasannya, kemudian saya katakan, ‘Tidak, kecuali mereka menghendaki saya menghitung bagi mereka satu hitungan dan perwaliannya adalah untukku.’ Kemudian ia menyebutkan hal tersebut kepada tuannya, lalu mereka menolak kecuali perwalian untuk mereka.”

Beliau lantas bersabda seperti dicatat Imam Muslim dalam Shahih, “Tebuslah dan merdekakanlah dia, karena hak perwalian itu bagi orang yang memerdekakan.”

Kemudian Rasulullah berdiri di hadapan manusia seraya memuji Allah dan mengagungkanNya, “Apa urusan orang-orang yang memberikan persyaratan yang tidak pernah ada pada Kitabullah. Barangsiapa yang mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah, maka ia tidak berhak mendapatkannya, walaupun dia mensyaratkan seratus kali, kerana syarat Allah lebih berhak untuk dilaksanakan dan lebih kuat.”

Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah menambahkan, “Sesungguhnya perwalian (seorang budak) adalah milik orang yang memerdekakannya.”

Ummul Mukminin Aisyah menyerahkan uang sebesar sembilan uqiyah kepada Barirah untuk menebus dirinya. Barirah membawa uang itu kepada majikannya dan menebus dirinya. Ia mendatangi Ummul Mukminin Aisyah dengan status baru.

“Alhamdulillah, wahai Ummul Mu’minin, Allah telah menghilangkan duka citaku dan menyingkapkan kegundahanku, dan aku telah mendapatkan sesuatu yang besar dengan keshabaran.”

Barirah pun menyampaikan pada Ummul Mukminin Aisyah bahwa ia akan segera meminta kepada Rasulullah untuk memisahkan dirinya dengan suaminya, Mughits. Ia pun menemui Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku memohon, kiranya tuan sudi menceraikanku dari suamiku Mughits, aku sekarang telah merdeka sedangkan dia masih sebagai budak, aku sudah tidak kuat lagi hidup bersamanya. Tanyalah pada Ummu Abdillah, Aisyah. Pasti beliau akan memberitahukan bagaimana nasib kehidupanku bersamanya.”

Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah memberikan pilihan pada Barirah tanpa Barirah meminta dipisahkan, “Pilihlah jika kamu mau, apakah engkau akan tetap tinggal di bawah budak ini (tetap menjadi istrinya) atau engkau berpisah darinya.”

Sementara dalam Sunan Ad Darimi, Rasulullah menganjurkannya agar ia berbuat baik terhadap suaminya. Namun, Barirah berkata kepada Rasulullah , “Bukankah aku boleh berpisah dengannya?”

Beliau menjawab, “Benar.”

Barirah pun berkata, “Sungguh aku telah berpisah darinya.”

“Seandainya suamiku memberi kepadaku ini dan itu,” kata Barirah dalam Shahih Bukhari, “Itu semuanya tidak menjadikanku tinggal bersamanya.”

Dalam riwayat lain ia mengatakan, “Kalaulah suamiku memberiku demikian dan demikian, aku tidak mau bermalam dengannya.”

“Aku tidak suka tinggal bersamanya, dan aku memiliki demikian dan demikian,” katanya dalam Sunan Abu Dawud. Lalu Barirah memilih untuk sendiri.

Maka, Rasulullah pun mengutus seseorang mengabarkan bahwa Barirah telah memutuskan untuk bercerai dari Mughits dan diterima oleh Rasulullah . Saat kabar itu didengar oleh Mughits, ia pun jatuh pingsan. Kekhawatirannya menjadi kenyataan. Kesedihan begitu mendalam mencabik-cabik hatinya. Harapan seakan tidak menyisa lagi dalam perjalanan masa depannya. Bumi terasa menyempit dan masa depan seakan suram jika ia terpisah dari isteri yang sangat dicintainya itu.

Rasulullah memerintahkan Barirah untuk ber’iddah selama tiga kali quru’ layaknya perempuan yang baru bercerai lainnya. Abdullah bin Abbas menceritakan bahwa ia melihat Mughits berjalan di sepanjang lorong-lorong Madinah mengikuti Barirah. Ia menangis tanpa henti. Airmatanya menetes membasahi jenggotnya. Mughits mengiba dan terus-menerus merayu Barirah agar ia mau kembali kepadanya dan menjadi isterinya lagi. Namun, Barirah tetap keukeuh pada pendiriannya untuk berpisah dari Mughits.

Mughit pun meminta bantuan pada Rasulullah , dalam Sunan Abu Dawud, “Wahai Rasulullah, bantulah aku berbicara kepadanya.”

Rasulullah yang kala itu bersama Abbas bin Abdul Muthalib pun bersabda dalam Shahih Bukhari, “Wahai Abbas, tidakkah kamu takjub akan kecintaan Mughits terhadap Barirah dan kebencian Barirah terhadap Mughits?”

“Betul,” jawab Abbas, “Demi Zat Yang Mengutusmu, sungguh urusan mereka sangat aneh.”

Kemudian Rasulullah memanggil Barirah. “Wahai Barirah,” kata beliau, “Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, ia adalah suamimu dan ayah anakmu.” Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah berkata, “Seandainya kamu mau meruju’nya kembali.”

“Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” tanyanya.

Barirah tahu bahwa jika Rasulullah telah memerintahkan sesuatu, maka tiada pilihan lain bagi seorang muslim selain untuk memenuhi perintah tersebut. Karena itu, ia menanyakan perihal permintaan Rasulullah untuk rujuk dengan Mughits. Namun, jika Rasulullah hanya memberikan saran, maka ia sudah mempersiapkan jawaban.

“Aku hanya menyarankan,” kata Rasulullah dalam satu riwayat Shahih Bukhari. Dalam Musnad Ahmad dan riwayat Shahih Bukhari yang lain, Rasulullah berkata, “Innama ana asyfa’u. Sesungguhnya saya hanyalah seorang penolong.”

Maka, dengan tegas, Barirah pun menjawab, “Sesungguhnya aku tak berhajat sedikit pun padanya.”

Berakhirlah sejarah mencatat kisah cinta Mughits dan benci Barirah. Keduanya memberikan satu pelajaran yang berharga tentang cinta, kebencian, dan keshabaran. Seluruhnya terlingkupi dalam pilihan, keputusan, dan konsekuensinya. Bahkan dalam ilmu fikih, kisah Mughits – Barirah memberikan hukum yang terang dan sangat penting tentang hukum-hukum munakahat dan kemasyarakatan.

Mughits mencintai perempuan shahabiyah itu dengan cinta yang demikian dalam hingga berkali-kali membawanya pada ketertutupan akal sehatnya. Ia hanya mau menikah dengan perempuan yang dicintainya, meski telah ditolak. Bahkan ia menyatakan tidak akan bisa mencintai perempuan yang lain. Sebuah pernyataan yang hakikatnya berlebihan.

Kondisinya semakin diperparah dengan karakter melankolis yang mengakar kuat dalam dirinya. Yang demikian menjerembabkannya pada kondisi-kondisi yang tidak diinginkannya hingga ia seakan-akan terus membiarkan dirinya dalam penderitaan dan kesedihan yang timbul atas sebuah kondisi. Ia tidak mau bangkit atas keterpurukannya.

Namun, perjuangannya untuk meraih cinta sang isteri sungguh luar biasa. Bertahun-tahun diupayakan yang terbaik dan berjuang agar sang isteri mencintainya. Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Sang isteri makin membencinya.

Sementara Barirah, ia mengambil keputusan menerima pinangan Mughits dengan rasa keterpaksaan. Mungkin ia lupa bahwa menerima pinangan seseorang itu adalah sebuah keputusan besar yang akan memberikan konsekuensi yang demikian berat yang imbasnya ada di dunia dan akhirat. Ia akan memiliki kewajiban-kewajiban yang demikian banyak bagi suaminya. Dan jika ia tidak memenuhinya, maka ia telah durhaka.

Keshabarannya terus membersamai Mughits dalam sekian tahun yang panjang adalah sebuah kekuatan yang dahsyat. Ia membenci seseorang yang lain yang tinggal bersama, sekamar, bahkan seranjang. Ia juga harus melayani suaminya yang dibencinya itu bertahun-tahun lamanya. Sungguh perjuangan yang sangat hebat. Ia berusaha mencintai orang yang mencintainya, tapi malah kebencian yang makin terasa. Meski begitu, sejak lama ia berusaha lepas dari sang suami dan memperoleh kebebasannya sebagai manusia merdeka dan perempuan merdeka sekaligus. Keshabarannya menepi. Padahal sejatinya keshabaran itu laksana samudera yang mampu menampung seluruh air di dunia.

Seteleh Barirah dibebaskan dari keluarga bani Hilal, ia pun mengabdikan dirinya untuk melayani Ummul Mu’minin Aisyah yang telah menebusnya. Maka tidaklah mengherankan jika antara Ummul Mu’minin Aisyah dan Barirah terjalin ikatan yang semakin kuat. Bukan hanya sekadar majikan dan khadimat, tetapi hingga seakan-akan bersaudara.

Pasca kemerdekaan dirinya, orang-orang mengirimkan zakat sedekah berupa daging kambing kepadanya. Sebagian daging kambing itu dihadiahkannya kepada Ummul Mu’minin Aisyah. Ia pun memasaknya dalam sebuah periuk atau kuwali. Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah dan melihat daging dalam periuk itu. Namun, yang disuguhkan kepada beliau saat itu adalah roti dan lauk dari rumah. Maka, beliau pun bertanya, “Bukankah tadi aku melihat periuk yang berisikan daging?”

“Ya, benar,” kata mereka, “Akan tetapi daging itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, sementara Anda tidak makan harta sedekah.” Keluarga Rasulullah SAW adalah orang-orang yang dilarang memakan harta zakat dan sedekah.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Bagi Barirah adalah sedekah, sementara untukku adalah hadiah.”

Imam An Nasa’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ad Darimi, Imam Al Bukhari, dan Imam Malik mencatatnya dalam kitab hadits masing-masing, dan ini adalah lafadz dari Shahih Bukhari. Dari hadits tentang daging sedekah ini, dapat diambil hukum bahwa perpindahan kepemilikan harta dapat merubah status harta itu.

Saat terjadi peristiwa haditsul ifk, Rasulullah datang dan menanyai Barirah perihal Ummul Mu’minin Aisyah yang kala itu difitnah oleh kaum munafikin telah berselingkuh dengan Shafwan bin Al Muathal dalam perjalanan pasca perang melawan Bani Musthaliq.

“Wahai Barirah, pernahkah engkau melihat sesuatu pada ‘Aisyah yang membuatmu bimbang?” tanya beliau.

“Demi Zat Yang mengutusmu dengan Al Haq,” jawab Barirah, “aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang pantas kucela, kecuali dia itu seorang wanita yang masih sangat muda yang masih suka tertidur di sisi adonan makanan yang dibuat untuk keluarganya hingga datang hewan memakan adonan itu.”

Berdasarkan penuturan Barirah inilah Rasulullah SAW cenderung mempercayai Ummul Mu’minin Aisyah daripada desasdesus dari kaum munafikin dan sebagian kaum muslimin.

Pernah juga suatu kali tatkala Ummul Aisyah merasakan kecemburuan terhadap Rasulullah SAW, ia mengandalkan Barirah untuk mengetahui kebenaran firasat keperempuanannya itu. Ummul Mu’minin Aisyah menceritakan dalam Musnad Imam Ahmad dan Al Muwatha’ Imam Malik bahwa pada suatu malam Rasulullah dating ke biliknya, kemudian segera memakai baju kemejanya dan keluar. Ia mengira bahwa Rasulullah akan ke salah satu isterinya yang lain, ia cemburu dengan firasatnya itu. Diutusnya Barirah untuk membuntuti Rasulullah SAW dan mengetahui kemana Rasulullah pergi. Barirah membuntutinya hingga ke Baqi’ Gharqad, lalu diujung Baqi’ beliau mengangkat kedua tangannya dan berbalik pulang. Lalu Barirah pun kembali dan melaporkan apa yang dilihatnya.

Pagi harinya, Ummul Mu’minin Aisyah bertanya pada Rasulullah, “Rasulullah, semalam engkau keluar pergi kemana?”

“Saya diutus untuk pergi ke penghuni kuburan Baqi` untuk mendoakan mereka,” kata Rasulullah. Dalam Sunan An Nasa’i, Rasulullah menjawab, “Aku diutus kepada penduduk Baqi’ agar aku shalat untuk mereka.” Maka jelaslah kini firasat kecemburuan Ummul Mu’minin Aisyah tidak terbukti.

Barirah juga memiliki bashirah yang tajam. Suatu kali, Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya. Ia melihat dalam diri Abdul Malik bin Marwan ada tanda-tanda kepemimpinan. 

Maka ia pun memberikan nasihat kepadanya perihal kepemimpinan. “Wahai Abdul Malik, aku melihatmu memiliki perangaiperangai yang mulia, dan engkau layak untuk memegang tampuk pemerintahan. Maka bila nanti engkau diserahi kepemimpinan, berhati-hatilah dengan masalah darah kaum muslimin, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang ditolak dari pintu surga setelah melihat keindahan surga disebabkan darah seorang muslim sepenuh mihjamah yang dia tumpahkan tanpa hak.’” Mihjamah adalah alat untuk berbekam.

Maka benarlah nasihat Barirah untuk Abdul Malik bin Marwan. Di kemudian hari ia menjadi salah seorang khilafah Bani Umayah dan memang nasihat Barirah itu cocok untuk dirinya.

Barirah hidup hingga masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedangkan sejarah mengenai mantan suaminya tidak tercatat. Semoga Allah meredhai keduanya.

KREDIT SUMBER; FIMADANI


mengenai mantan suaminya tidak tercatat. Semoga Allah meridhai keduanya.

Episod Sedih Generasi Felda

KEMAKMURAN GUGAT KETENTERAMAN DAN KESELAMATAN DI FELDA.


Apabila menyertai Felda Lepar Gambang Pahang lebih 30 tahun lalu, Pak Long di lantik sebagai ketua salah sebuah blok di rancangan ini oleh kerana mempunyai kualiti kepimpinan dan latar belakang keagamaannya.

Pak Long lah yang mengambil berat tentang kebajikan peneroka setempat masa itu,sakit demam mereka,urusan persekolahan anak- anak mereka dan hal-hal yang bersangkutan urusan peneroka dengan penghulu dan pejabat kerajaan.

Kata seorang penduduk jika di tengah malam pun diminta pertolongannya,dia akan datang.

Beliau adalah diantara perintis peneroka yang mahu keluar dari kemiskinan menerusi rancangan Felda yang terancang dan bersistematik yang diperkenalkan oleh kerajaan sebaik sahaja merdeka pada tahun 1957.

Telah pun diketahui umum bahawa semua rancangan Felda berjaya,digambarkan oleh penambahan besar pendapatan peneroka, keadaan rumah mereka sendiri yang asalnya hanyalah sebagai pondok tetapi sekarang telah bertukar menjadi rumah-rumah batu atau kayu yang jauh lebih besar dan lebih sempurna.

Rumah asal di Felda Lepar Gambang( gambar di atas) tidaklah memberikan gambaran tentang keadaan kehidupan masyarakat Felda seluruh negara sekarang sebaliknya ini hanya satu dalam seribu dari rumah-rumah yang asal yang masih boleh ditemui oleh sebab- sebab yang hanya diketahui oleh pemiliknya.

Kawasan-kawasan Felda telah bertukar menjadi bandar yang lengkap dengan segala kemudahan infrastrukur , yang menggambarkan kepada dunia suatu revolusi sosial dan ekonomi yang besar telah berlaku di Malaysia dalam mengubah kehidupan orang-orang kampung yang miskin menjadi peladang-peladang yang makmur,menikmati kehidupan yang terjamin dan kejayaan generasi barunya menerusi pendidikan, malah banyak yang menjadi gulongan profesional.

Sesetengah mereka tidak lagi menjadi peladang sebaliknya membina kehidupan sendiri dengan menjalankan perusahaan kecil seperti membaiki rumah, paip air,kerosakan letrik,membuka bengkel motor dan kereta yang keperluan ini semua datang diatas limpahan kejayaan Felda.

Walaupun pendapatan mereka semakin kecil dengan kejatuhan harga kelapa sawit dan getah tetapi mereka yang berjimat dan menabung mampu hidup seperti biasa malah yang lebih menarik dalam keadaan kemerosotan ekonomi sekarang pun,mereka masih mampu untuk melancong ke negara-negara jiran dan juga menunaikan umrah.

Bagi saya yang menyaksikan sendiri pelancaran Felda Sungai Tiang kira-kira 30 km dari Pendang Kedah lebih 50 tahun dahulu oleh Timbalan Perdana Menteri Tun Abdul Razak cukup insaf bila melihat pencapaian Felda Lepar Gambang walaupun saya pernah melihat kejayaan Felda di tempat lain tetapi tidak pernah bermalam dan berinteraksi dengan peneroka-peneroka asal seperti di Lepar.

Di waktu pagi kita dapat melihat banyak orang minum dan makan di kedai-kedai kopi atau membeli makanan untuk di bawa pulang.Demikian juga di malam hari. Pekan Sehari juga dikunjungi ramai.

Di sebalik cerita indah ini,terbukti kemakmuran di Felda tidak menjamin ketenteraman,keselamatan dan keharmonian hidup masyarakatnya sebaliknya mereka terancam oleh masalah sosial yang sama seperti di bandar malah lebih buruk.

Generasi baru dan lama Felda tidak berbangga dengan mempunyai saham FGV (Felda Global Ventures) sebagai peningkatan taraf hidup mereka menyamai peladang-peladang negara maju sedangkan mereka tidak lagi tenteram, tidak dapat meninggalkan rumah dalam keadaan selamat, hasil tanaman mereka;pisang,durian ,rambutan,kelapa dan apa juga yang boleh mendatangkan wang untuk membeli dadah dicuri di hadapan mata mereka sendiri.

Penagih-penagih dalam Felda lebih berani dari orang-orang setempat kerana ibubapa mereka mengenali antara satu sama lain malah diantara mereka adalah anak kepada peneroka-peneroka yang kaya dan berjaya. Rasa hormat menghormati,segan malu antara satu sama lain menyebabkan keengganan untuk bertindak.

Saya amat tersentuh hati bila Pak Long Ketua Blok 14 peneroka asal Felda Lepar menceritakan lebih 50 tandan pisangnya yang dibajai dan dijaga dengan rapi, dibalutnya dengan sarung plastik supaya tidak di serang serangga tetapi pada suatu pagi mendapati semuanya telah hilang ,yang tinggal hanya sarung balutannya sahaja.

Sebagai peneroka perintis pada tahun 1982.Pak Long diingati sebagai seorang yang penuh dedikasi, menjalankan kerja-kerja kebajikan untuk peneroka setempat ,mengambil berat sakit demam mereka,menguruskan hal persekolahan anak-anak mereka dan memberikan apa juga pertolongan yang diperlukan walaupun di tengah malam buta.

Pak Long tidak pernah terfikir untuk melihat balasan yang pedih dan kejam dari sesetengah anak-anak Felda yang mendapat nikmat dari pengorbanan ibu bapa mereka.

Bukan semua anak Felda menjadi penagih dadah tetapi jumlah mereka yang kecil sudah cukup untuk meganggu kehidupan banyak peneroka. Polis telah bertindak dari masa ke masa,penagih dan pencuri ditangkap,dibicarakan dan dihukum penjara tetapi setelah dibebaskan mereka kembali kepada tabiat lama. Ada diantara mereka yang telah mati akibat dadah tetapi semua ini tidak memberi kesan atau pengajaran kepada yang lain.

Pak Long adalah diantara 450 orang peneroka asal Felda Lepar,usianya sudah melampaui 70 tahun,keadaan kesihatannnya juga merosot,100 orang rakannnya telah pun meninggal dunia. Pak Long ingat satu persatu.Dia bersukur dan gembira kerana keluarganya juga berjaya

Tetapi Pak Long sedih kerana beliau dan juga rakan-rakan yang masih hidup dan yang telah pergi tidak pernah terfikir bahawa kemakmuran tidak akan menjamin kebahagian dan keselamatan.Mereka telah diyakinkan bahawa dengan menebus kemiskinan akan membahagiakan kehidupan dan mengangkat maruah mereka sebagai petani dan orang Melayu.

Mereka menilai kejayaan yang telah dicapai,perubahan besar kepada diri mereka sendiri tetapi sekarang mereka tidak lagi merasa berada dalam keadaan selamat seperti yang yakinkan.

Yang masih mengikat perasaan mereka pada Felda adalah kasih sayang terhadap tanah yang berjasa kepada mereka, yang menjadi kediaman mereka sejak berpuluh tahun lalu tetapi persekitaran terasa mengancam.

Ketika menyertai Felda dahulu mereka diberitahu supaya berdisiplin dan berkerja keras bagi masa depan mereka.Formula ini semua telah menjayakan kehidupan mereka.

Anak-anak Felda yang membesar dalam keadaan selamat sedang meruntuhkan keselamatan yang dibina dengan titik peluh ibu bapa mereka diatas kemiskinan dan penderitaan hidup.

Pak Long tidak lagi melihat kemakmuran menjamin keselamatan dan ketenteraman hidup, tidak berlaku seperti yang diyakinkan kepada ketika menyertai Felda.

Dimanakah silap kita?

KREDIT SUMBER: ZAMKATA


Baca Kisah Yang Buatkan Ribuan Orang Menangis



Sebagai pasangan pengantin baru, sebagai istri saya ingin disayang oleh suami. Belajar masak rajin, bersih-bersih rumah jangan ditanya, berlaku lembut penuh cinta sama suami sudah, dan berusaha hemat dalam anggaran uang belanja biar disebut istri cerdas sama yang tersayang.

Setiap kali belanja kemanapun, saya pasti ngotot berusaha menawar dagangan dengan harga semurah mungkin. Diskon seribu dua ribu saya kejar, padahal energi yang dikeluarkan untuk tawar-menawar panjang bisa lebih dari itu. Tapi demi disayang suami, saya tetep ngotot. Tak jarang suami yang mengantar mulai tidak sabar dan geleng-geleng kepala. Saya sih cuek saja, istri pelitnya ini selalu beralasan sama, kan biar hemat.

Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menawarkan dagangannya:

Pedagang: “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 aja 1”

Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000 1 pot, tapi ah pasti bisa ditawar.

Saya: “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000 aja 1,” dengan gaya cuek saya menawar sadis.

Pedagang: “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang.”

Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga 1 pot nya. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.

Saya: “Halah udah pak, 10.000 ribu aja 1 kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.

Pedagang: “Eh neng…,” dia ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”

Saya: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50.000 ribu ya 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran.”

Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si bapak pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si bapak membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si bapak tadi segera pergi. Lalu

Terjadilah percakapan berikut dengan suami,

Saya: “Bagus kan yang, aku dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”

Suami: “Oohh..berapa kamu bayar?”

Saya: “50 ribu.”

Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot?” dia kaget

Saya: “Iya dong… hebat kan aku nawarnya? Itu dia nawarin tadinya 25.000 1 pot,” saya tersenyum lebar dan bangga.

Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu susul itu si bapak sekarang, kamu bayar dia 125.000 tambah upah bawain ke mobil 25.000 lagi. Nih, kamu kejar kamu kasi dia 150.000!” Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.

Saya: “Tapi…kenapa..?”

Suami: Makin kencang ngomongnya, “Cepetan susul sana, tunggu apa lagi.”

Tidak ingin dibentak lagi, saya langsung turun dari mobil dan berlari mengejar si bapak tua. Saya lihat dia hendak naik angkot di pinggir jalan.

Saya: “Pak……tunggu pak…”

Pedagang: “Eh, neng kenapa ?”

Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”

Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000, bener kok uangnya,” si bapak keheranan.

Saya: “Gak tahu pak, udah bapak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini,” sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.

Pedagang: Tiba-tiba menangis dan berkata, “Ya Allah neng…makasih banyak neng…ini jawaban doa bapak sedari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun gak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat. Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng…suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah ya Allah. Bapak pamit neng mau pulang…,” dan si bapak pun berlalu.

Saya: (speechless dan kembali ke mobil). 

Sepanjang perjalanan saya diam dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya karena kita pelit. Berapa banyak usaha si bapak sampai bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya. Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan.

Ribuan orang menangis membaca cerita ini, pengingat untuk kita yang kadang tidak adil memperlakukan orang lain semena-mena. 





Pendidikan Anak-Anak - Apa Yang Kedua Ibu Bapa Ini Ajar Anak Mereka Sangat Menyedihkan

CARA PENDIDIKAN ANAK YANG KETINGGALAN ZAMAN TAPI SEMUA IBU BAPA PATUT BUAT - SAIFUL NANG

Semalam saya makan di sebuah kedai berhampiran ofis. Saya jarang makan diluar tetapi jika taqwim harian terganggu dari kebiasaan, maka itu akan jadi pilihan untuk makan di luar. 

Bersebelahan saya ada sekeluarga bersama 2 anak. Seorang peremuan seorang lelaki. Yang sulong saya anggarkan berumur dalam 7 atau 8 tahun dan yang adiknya masih kecil. 

Mereka makan hanya bersebelahan meja sahaja. Selepas anak lelaki yang sulong itu selesai makan maka dia mula bermain. Ini bukan main mainan biasa, ini main sembur-sembur air liur sambil buat effect kapal terbang kejar mengejar dan tembak menembak berlaku dan bila meletup dia guna effect air liur berhamburan keluar. 

Kali pertama saya sabar lagi sekadar lap sahaja lengan saya dengan tisu. Saya jeling mak ayah dia perasan saya mengelap air liur yang dihamburkan oleh anaknya. Namun dengan bahagianya mereka teruskan makan tanpa menegur anak mereka. Saya pun dengan extra sikit mengelap lebih lama sikit mungkin lah mereka ni tak faham lagi. 

Setelah confirm mereka tak faham, maka saya beralih sedikit di meja yang sama tetapi di sudut lain yang menjauhi keluarga dan anak lelakinya itu. 

Namun, jarak penerbangan mainan budak ini rupanya masuk ke kawasan saya melarikan diri juga. Nak juga dia tembak menembak dan ntah apa nasib saya, kapal terbang budak ni akan meletup juga dekat dengan saya. Sekali lagi air liur berhamburan dan saya mula bersuara dengan baik...

"Adikk...masuk makanan abanglah air liur buat macam tu".

Tak semena-mena pasangan bahagia konon itu menoleh ke arah saya dengan muka ketat. Anaknya masih bebas terbang dengan jet-jet pejuangnya. Dah tiba-tiba saya pulak yang kena jegil oleh mak ayahnya. 

Hati saya menyirap dan lebih sirap dari air sirap yang mereka sedang hirup. Saya tekadkan dalam hati "Saiful...jangan cari gaduh". Ok, lalu saya lemparkan senyuman kepada mereka berdua. 

Punya kekwat...aku dah senyum dia masih lagi stare macam aku pulak yang tembak pesawat anak dia tu. 

Apa terjadi selepas itu sudah tidak penting. Tetapi saya nak cerita sikit cara orang sekarang mendidik anak dengan orang dahulu. Saya ni kolot sikit didik anak tak macam orang generasi terkini. 

Ayah saya dulu (Wak Nang) sekarang ni memang nampak macam kawan baik jer kan? Memang nampak kamcing kan? Tahu tak korang, dulu Wak Nang punya misai macam Wak Doyok terpacak tau. Dalam sejarah, ayah jarang rotan anak dia tapi tidak saya kata tak pernah. Tapi dari kecil kami diajar RETI BAHASA. 

Pergi bertandang rumah orang, kemudian tuan rumah hidang sahaja makanan dalam talam terus kita nak menyambar kuih terus kena YELLOW CARD. Macam mana cara Yellow card? Bunyinya ringkas sahaja...

"Ehemmmmm....." (berdehem Wak Haji Nang sambil mata menjeling tajam)

Saya terus jadi kecik dan terus duduk dengan baik menunggu arahan seterusnya. Kena tunggu orang paling tua sekali menjamah makanan barulah yang lain ikut. Ini tidak, bukan sekadar main cekuh jer makanan tu tapi siap kejar mengejar jet lagi dan buat letupan air liur memang bukan sekadar berdehem yang dapat...kalau standard Wak Nang itu memang dah kena pelempang Jawa pergi balik dah. 

Prinsip Wak Nang masa itu lebih kurang begini 

"biar aku cubit dan rotan anak aku depan tetamu atau tuan rumah daripada orang ingat aku tak didik anak aku" 

Itu orang dulu. Yellow card berdehem tu korang jangan ingat boleh forgive and forget bro...balik rumah ada hidangan "roti panjang". Ini pantun orang lama. Agak-agak berdehem pun tak faham masuk kali kedua akan keluar verbal reminder yang agak lembut juga tapi sebenarnya SANGAT KERAS...seperti berikut bunyinya...

"Angahhhh...duduk sini, balik nanti ayah bagi roti panjang"

DEMM!! ketika ini memang wajib kecut punya. Memang nakal macammana, terjal macammana sekalipun akan terus landing dan bersila duduk diam. Tapi itu orang-orang dulu lah. 

Dalam pendidikan anak-anak saya juga, saya terapkan benda yang sama. Anak saya faham bahasa berdehem. Mereka faham intonasi suara saya marah atau suka. Hatta, saya jeling sahaja mereka tahu apa maksudnya. 

Bila mengenang balik kisah budak main air liur di tempat makanan saya tu, hati saya meruap dan rasa KENAPALAH BAPAK DIA TUNGGUL SANGAT??? KENAPA MAK DIA TAK AJAR ANAK DIA ADAB?? DAH BESAR DAH TU ANAK KAU DAH TAHU TENGOK PORNO pun. 

Saya tak mahu cerita banyak apa yang terjadi dengan pasangan bahagia itu di restoran itu. Tetapi anda tahulah saya ni panas sikit hati bila jumpa orang-orang tak sensibel macam ni. 

Saya meninggalkan restoran itu dalam keadaan sebuah kerusi jatuh dan sempat saya "letupkan" 2 jet anak lelaki mereka itu di atas makanan mereka. Saya dapat sabar dengan perangai budak tapi hilang sabar dengan perangan orang tua yang macam tak ada akal dah. Barulah pasangan bahagia ini nak minta maaf. 

Dan saya katakan "Makan lah makanan ni...takde apapun, tadi lagilah 2 kali kapal terbang meletup atas makanan saya". 

Sebelum hantar anak umur 3-4 tahun korang belajar matematik tambahan, baiklah korang didik dengan ADAB dahulu. Senang bawa diri bila besar. Yang orang sanjung ialah ketinggian budi pekerti dan adab sopan. Hantar tusyen anak belajar matematik awal-awal nanti CGPA tinggi-tinggi tapi kena maki juga kerana ADAB TU OUT!!

Sekian

//ok semua boleh share kalau rasa manafaat.

Friday, 29 January 2016

Puteri Lindungan Bulan


oleh: Dato' Haji Wan Shamsuddin b. Mohd. Yusof

Kisah ini berasal dari cerita lisan yang berkembang di sekitar Daerah Kubang Pasu, Kedah dan dikatakan pernah berlaku di Kampung Siputih, Padang Sera dalam Daerah Kubang Pasu, pusat pemerintahan Kedah yang ketiga (1323 - 1626). Ceritanya ada kaitan dengan sebab utama Aceh menyerang Kedah disebabkan Raja Aceh ditipu oleh Sultan Kedah waktu itu. Puterinya yang berdarah putih (Puteri Lindungan Bulan) yang dipinang oleh Raja Aceh itu ditukar dengan puterinya yang berdarah merah.

Sebelum Aceh melanggar Kedah, Sultan Kedah yang tidak rela menyerahkan puterinya yang berdarah putih itu sempat menyembunyikan puterinya di dalam sebuah lubang tidak jauh dari istananya dan baginda memohon agar janganlah hendaknya bulan menyinari cahayanya di waktu malam (ketika bulan mengambang) untuk menghindarkan daripada diketahui orang. Walaupun Aceh menang dalam peperangan tersebut tetapi Raja Aceh gagal memiliki puteri itu. Puteri itu akhirnya mangkat di tempat persembunyian yang dirahsiakan oleh ayahandanya disebabkan kelaparan. Dari sinilah nama 'Lindungan Bulan' itu dirujuk kepada gelaran Negeri Kedah dalam cerita-cerita atau hikayat lama yang berkaitan dengan Kedah iaitu 'Negeri Kedah Lindungan Bulan'.

Beberapa Versi Dalam Cerita Puteri Lindungan Bulan

Cerita Puteri Lindungan Bulan terdapat dalam bentuk lisan dan tulisan. Dalam bentuk lisan, antara pencerita terawal yang terkenal ialah Haji Wan Mohd. Noor bin Wan Abdul Salam, bekas imam Masjid Kampung Siputih. Bagaimanapun terdapat perbezaan dalam beberapa hal dibandingkan dengan pencerita-pencerita lain terutamanya dari segi nama watak, masa berlakunya peristiwa itu dan lain-lain yang menjadi salah satu ciri dalam sastera rakyat tempatan.

Cerita dalam bentuk tulisan pula kebanyakan dilakukan selepas Perang Dunia Kedua. Antaranya:

  • "Kota Siputih" oleh Ashaari Abu Bakar (kini Dato' Haji Ashaari Abu Bakar), tersiar dalm buku cenderamata terbitan Persatuan Guru Melayu Kedah, 1951.

  • "Tuan Puteri Lindungan Bulan" oleh Tom binti Abdul Razak (bekas Pelawat Sekolaj-sekolah Melayu Kedah Selatan), tersiar dalam buku 'Rampai Bacaan' bersama dua cerita gubahannya iaitu "Mahsuri" dan "Tuan Puteri Bongsu Dengan Siput Kundang", terbitan Pejabat Karang-Mengarang Jabatan Pelajaran Persekutuan Tanah Melayu, 1952.

  • "Sejarah dan Cerita SiPuteh" oleh Dato' Haji Wan Ibrahim Wan Soloh, tersiar dalam majalah 'Kedah Dari Segi Sejarah' terbitan PSMCK, 1967.

  • "Lindungan Bulan" oleh Morad Ibrahim, 1995, berbentuk skrip drama / bangsawan yang pernah dipentaskan di MATIC, Kuala Lumpur 11 - 13 November, 1995 dan di Alor Star, arahan beliau sendiri.

  • "Lagenda Puteri Lindungan Bulan" oleh Mohamed Roslan Abd. Malek, merupakan salah sebuah rencana dalam bukunya "Kesan Sejarah dan Tempat-tempat Menarik - Negeri Kedah Darul Aman", terbitan Oscar Book International, Petaling Jaya, 1998.

  • Sebuah lagi rencana mengenai kisah Puteri Lindungan Bulan ini telah ditulis oleh Haji Ibrahim Ismail dalam bukunya " Sejarah Sepintas Lalu", Penerbitan Universiti Utara Malaysia, 1987.

Hukum Perceraian Melalui SMS

Penceraian Melalui Sistem Pesanan Ringkas (SMS)

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-59 yang bersidang pada 27 Aug 2003 telah membincangkan Penceraian Melalui Sistem Pesanan Ringkas (SMS). Muzakarah telah memutuskan bahawa:
  1. Talak dalam bentuk tulisan yang jelas daripada suami yang ditujukan kepada isterinya secara khusus seperti melalui faksimili, SMS, e-mail dan sebagainya merupakan talak secara kinayah dan ianya adalah sah sekiranya disertai dengan niat.
  2. Semua penceraian hendaklah dikemukakan kepada mahkamah syariah untuk menthabitkan talak tersebut.
  3. Talak yang dilakukan dengan menggunakan alat komunikasi moden adalah kaedah penceraian yang tidak menepati adab penceraian yang digariskan oleh syarak.

Wednesday, 27 January 2016

Kisah Al-Khansa' - Wanita Bebas Membuat Keputusan Yang Bersangkutan Dirinya

Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebuah perkawinan tak boleh mengandung unsur penipuan atau paksaan.

Kisah hidup Khansa binti Khadzdzam – seorang Muslimah di zaman Rasulullah SAW – sarat akan pesan bagi kaum kaum Hawa. Ia menjadi contoh dan saksi hidup, betapa ajaran Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW sangat memuliakan perempuan.

Perjalanan hidup Khansa menjadi pelajaran penting bahwa Islam tak mengekang kebebasan kaum wanita. ‘’Bahkan sejak dini, Islam telah memberikan kebebasan kepada kaum wanita; kebebasan dalam menentukan calon suami, kebebasan berpendapat, dan sebagainya,’’ ujar Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya Nisaa Haulaur Rasul SAW.

Bahkan, papar Ibrahim Salim, tak berlebihan jika dikatakan bahwa Islam – dalam hal kebebasan berpendapat – lebih mendengarkan pendapat kaum wanita daripada kaum laki-laki. Menurut Salim, sampai ambang pintu perceraian pun, Islam masih menghormati kedudukan seorang wanita. 

Ia mencontohkan, jika seorang suami memutuskan hubungannya dengan istrinya (cerai) sebelum digauli, suami harus membayar setengah mahar yang telah ditentukan. Namun, jika suami mencerai istrinya setelah digauli, maka harus membayar mahar itu secara utuh. 

‘’Dan pada saat itu, si suami tidak bisa semena-mena dengan berkata, ‘Dari sisi keturunan dan kedudukan, dia (si istri) masih di bawahku’,’’ ungkap Ibrahim Salim. Kisah Khanza berisi sebuah pelajaran bahwa seorang wanita hendaknya harus memahami betul arti sebuah pernikahan yang seharusnya dibangun atas dasar cinta dan kasih saying.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebuah perkawinan tak boleh mengandung unsur penipuan atau paksaan. ‘’Oleh karena itu, seorang wali tidak berhak memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak dicintainya,’’ papar Ibrahim Salim.

Atas dasar itulah, Nabi SAW mengurungkan pernikahan Khansa. Ia dipaksa ayahnya untuk menikah dengan orang yang tak dicintainya. Menurut Ibrahim Salim, Khansa adalah keturunan Bani Amr bin Auf bin Aus. Ketika masih remaja, dia bertemu Nabi Muhammad. Khanza juga tercatat meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah.

Alkisah, Khansa dilamar oleh dua pemuda, yakni Abu Lubabah bin Mundzir, salah seorang pahlawan pejuang dan sahabat Nabi; serta seorang laki-laki dari Bani Amr bin Auf yang masih kerabatnya. Sebenarnya, Khansa tertarik padan Abu Lubabah. Namun, sang ayah punya kemauan sendiri, yakni memilih anak pamannya untuk putrinya.

Khansa pun akhirnya dinikahkan ayahnya dengan anak pamannya. Lalu Khansa segera menemui Rasulullah dan mengadukan masalah itu. ‘’Ya, Rasulullah, sesungguhnya bapakku telah memaksa aku untuk kawin dengan orang yang diinginkannya, sedangkan saya sendiri tidak mau." Rasulullah lalu bersabda, ‘’Tidak ada nikah dengannya, kawinlah engkau dengan orang yang kamu cintai.’’

Lalu Khansa menikah dengan Abu Lubabah. Menurut Ibrahim Salim, para ahli hadis saling berbeda pendapat tentang status Khansa’ saat perkawinan keduanya dengan Abu Lubabah. Sebuah riwayat dalam al-Muwaththa' dan ats-Tsauri menuturkan bahwa Khansa saat peikahan kedua masih perawan. 

Sedangkan, menurut hadis riwayat Bukhari dan Ibnu Sa'ad, saat pernikahan kedua, Khansa sudah janda karena ia pernah berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya paman anak saya Iyaitu suami Khansa pertama) lebih suka kepada saya.’’ Nabi SAW lalu menyerahkan urusan Khansa' sepenuhnya kepada dirinya.

Kisah hidup Khansa mengingatkan kita pada seorang sahabat wanita Rasulullah yang beranama Barirah. Menurut Ibrahim salim, kisah hidup Barirah hampir sama dengan Khansa. Barirah adalah seorang Habasyah (budak wanita berkulit hitam dari Ethiopia). Tuannya bernama Utbah bin Abu Lahab yang mengawinkannya dengan seorang budak dari Maghirah. 

Sebenarnya Barirah tidak rela dijodohkan dengan budak tersebut seandainya dia berhak menolak. Hal itu diketahui oleh Aisyah, maka dibelilah Barirah dan dibebaskannya. Setelah bebas, Rasulullah SAW berkata, ‘’Kamu telah berhak atas dirimu maka kamu bebas memilih."

Pada saat yang sama, sang suami yang ternyata membuntuti Barirah sambil menangis memelas kasihnya. Namun Barirah tidak menghiraukannya. Melihat hal itu, Nabi SAW berkata kepada para sahabat, ‘’Tidakkah kalian takjub akan kebesaran cinta suaminya kepadanya meskipun istrinya begitu membencinya.’’

Rasulullah SAW lalu berkata kepada Barirah, ‘’Takutlah kepada Allah, sesunguhnya dia adalah suamimu dan bapak dari anakmu." Barirah berkata, "Apakah baginda 'Rasul menyuruh saya?’’ Rasulullah menjawab, ‘’Aku cuma menyarankan saja.’’ Barirah lalu berkata, ‘’Kalau begitu saya tidak ada kepentingan dengannya.’’ Demikianlah ajaran Islam menghormati kaum perempuan.

Al-Khansa Binti Amru - Ibu Para Syuhadak

Al-Khansa terkenal dengan julukan; lbu para syuhada. Al-Khansa terlahir pada zaman jahiliyah dan tumbuh besar di tengah suku bangsa Arab yang mulia, yaitu Bani Mudhar. Sehingga banyak sifat mulia yang terdapat dalam diri Al-Khansa. la adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, tidak kenal pura-pura, suka terus terang. 

Dan selain keutamaan itu, ia pun pandai bersyair. la terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang yang dikasihinya yang telah tiada mendahuluin ke alam baka. Terutama kepada kedua saudara lelakinya, yaitu Mu'awiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia.

Diriwayatkan bahwa ketika Adi bin Hatim dan saudarinya, Safanah binti Hatim datang ke Madinah dan menghadap Rasulullah SAW, maka berkata, "Ya Rasuluilah, dalam golongan kami ada orang yang paling pandai dalam bersyair dan orang yang paling pemurah hati, dan orang yang paling pandai berkuda." 

Rasuluilah SAW bersabda, 'Siapakah mereka itu. Sebutkaniah namanya.' Adi menjawab, 'Adapun yang paling pandai bersyair adalah Umru'ul Qais bin Hujr, dan orang yang paling pemurah hati adalah Hatim Ath-Tha'i, ayahku. Dan yang paling pandai berkuda adalah Amru bin Ma'dikariba.' 

Rasuluilah SAW menukas, "Apa yang telah engkau katakan itu salah, wahai Adi. Orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru, dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah, dan orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thaiib.'

Jarir ra. pernah ditanya, Siapakah yang paling pandai bersyair? Jarir ra. menjawab, 'Kalau tidak ada Al-Khansa tentu aku.' Al-Khansa sangat sering bersyair tentang kedua saudaranya, sehingga hal itu pernah ditegur olah Umar bin Khattab ra. Umar ra. pernah bertanya kepada Khansa, 'Mengapa matamu bengkak-bengkak?' 

Khansa menjawab, 'Karena aku terialu banyak menangis atas pejuang-pejuang Mudhar yang terdahulu." Umar berkata, 'Wahai Khansa, Mereka semua ahli neraka.' Sahut Khansa, 'Justru itulah yang membuat aku lebih kecewa dan sedih lagi. Dahulu aku menangisi Sakhr atlas kehidupannya, sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka.'

Al-Khansa menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu ia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melialui pembinaan dan pendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini telah menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang terkenal. Dan Khansa sendiri terkenal sebagai ibu dari para syuhada. 

Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yang telah gugur syahid di medan Qadisiyah. Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan yang sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutan kesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakah yang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. 

Keempatnya saling tunjuk menunjuk kepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawan musuh fi sabilillah. Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa telah mengumpulkan keempat anaknya, dan berkata,

'Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telah berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. 

Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.Jika kalian telah melihat perang, singsingkaniah lengan baju dan berangkatiah, majulah paling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akherat. Negeri keabadian. 

Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah. lnilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.'

Pemuda-pemuda itupun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang matl-matian melawan musuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa mereka sendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. 

Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengar kematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun ia tidak merasa sedih dan kaget. Bahkan ia telah berkata, 'Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. 

Semoga Allah segera memanggiiku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putraku dalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.' Al-Khansa telah meninggal dunia pada masa permulaan kekhalifahan Utsman bin Affan ra., yaitu pada tahun ke-24 Hijriyah.

 

Sample text

Sample Text

Sample Text