Social Icons

Monday, 31 October 2016

Kisah Benar Bagaimana Dahsyatnya Dosa Fitnah

KISAH SEORANG HAMBA ALLAH YANG MEMFITNAH HABIB UMAR BIN HAFIDZ HAFIZAHULLAH.* 

“Habib... Maafkanlah saya yang telah memfitnah Habib dan ajarkan saya sesuatu yang boleh menghapuskan kesalahan saya ini.” 

Aku berusaha menjaga lisanku, tak ingin sedikitpun menyebarkan kebohongan dan menyinggung perasaan Habib.lagi, detik kata hatiku. 

Habib Umar tersenyum ..,“Apa kau serius?” katanya. 

Aku menganggukkan kepalaku dengan penuh keyakinan “Saya serius, Habib, Saya benar-benar ingin menebus kesalahan saya.” 

Habib Umar terdiam beberapa saat. Ia tampak berfikir. Aku sudah membayangkan sebuah doa yang akan diajarkan oleh Habib Umar kepadaku, yang jika aku membacanya beberapa kali maka Allah akan mengampuni dosa-dosaku. Aku juga membayangkan satu perintah atau pekerjaan, atau apa saja yang boleh menebus kesalahan dan menghapuskan dosa-dosaku. 

Beberapa detik kemudian, Habib Umar mengucapkan sesuatu yang benar-benar di luar sangkaanku.... 

“Apakah kamu mempunyai sebuah bulu ayam (pengibas habuk) di rumahmu?” 

Aku benar-benar hairan kerana Habib Umar justeru menanyakan sesuatu yang tidak relevan untuk permintaanku tadi. 

“Maaf, Habib?” Aku berusaha untuk memahami maksud Habib Umar. 

Habib Umar tertawa, seperti Habib Umar yang biasanya. Di hujung tawanya, ia sedikit terbatuk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menghampiriku, 

“Ya, carikan satu bulu ayam yakni pengibas habuk di rumahmu,” katanya. 

Nampaknya Habib Umar benar-benar serius dengan permintaannya. 

“Ya, saya ada bulu ayam yakni pengibas habuk di rumah, Habib. Apa yang harus saya lakukan dengannya?” aku bertanya minta kepastian. 

Habib Umar tersenyum....,“Besok pagi, berjalanlah dari rumahmu ke pondokku,” katanya, “Berjalanlah sambil mencabut sehelai demi sehelai bulu-bulu dari pengibas habuk itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingatkan setiap perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui.” 

Aku hanya menganggukkan kepala dan aku tak akan membantahnya. Barangkali maksud Habib Umar adalah agar aku merenung semua kesalahan-kesalahanku. Dan dengan menjatuhkan bulu-bulunya satu per satu, maka kesalahan-kesalahan itu akan gugur diterbangkan oleh angin… 

“Kau akan belajar sesuatu darinya,” kata Habib Umar Ada senyum yang sedikit memberi keyakinan di wajahku. 

Keesokan harinya, aku menemui Habib Umar dengan sebuah pengibas habuk yang sudah tidak memiliki sehelai bulupun pada tangkainya. Aku segera menyerahkan batang pengibas habuk itu pada beliau. 

“Ini, Habib..., bulu-bulu dari pengibas habuk ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari 5 km dari rumah saya ke pondok ini. Saya mengingati semua perkataan buruk saya tentang Habib. 

Saya menghitung betapa luasnya fitnah-fitnah saya tentang Habib yang sudah saya sebarkan kepada begitu banyak orang....... Maafkan saya, Habib. Maafkan saya…” 

Habib Umar mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ada kehangatan yang aku rasakan dari raut mukanya, lalu dia bersuara......, “Seperti aku katakan kemarin, aku sudah memaafkanmu. Barangkali kamu hanya khilaf dan hanya mengetahui sedikit tentangku. Tetapi kau harus belajar sesuatu…,” katanya. 

Aku hanya terdiam mendengar perkataan Habib Umar yang lembut, menyejukkan hatiku. “Kini pulanglah…” kata Habib Umar. 

Ketika aku baru saja hendak melangkah pulang sambil mencium tangannya, tetapi Habib Umar melanjutkan kata-katanya..... 

"Pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang sama dengan saat kamu menuju ke pondokku tadi…” 

Aku terkejut mendengarkan permintaan Habib Umar kali ini, apalagi mendengarkan “syarat” berikutnya: “Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu dari pengibas habuk tadi kau cabut satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang dapat kamu kumpulkan.” 

Aku terdiam. Aku tak mungkin menolak permintaan Habib Umar. “Kamu akan mempelajari sesuatu dari semua ini,” Habib Umar mengakhiri kata-katanya. 

Sepanjang perjalanan pulang, aku berusaha menemukan bulu-bulu dari pengibas habuk yang tadi kulepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit untukku menemukan bulu-bulu itu. Ia tentu saja telah ditiup angin, atau menempel di beberapa kenderaan yang sedang menuju kota yang jauh, atau disapu ke mana saja tempat yang kini tak mungkin aku ketahui. 

Tapi aku harus menemukan bulu-bulu tersebut..., Aku harus terus mencari di setiap sudut jalanan, lorong-lorong sempit, ke mana saja! 

Aku terus berjalan... Setelah berjam-jam, aku berdiri di depan rumahku dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasku tercunga-cungap..., kerongkongku kering. 

Di tanganku, kugenggam lima helai bulu pengibas habuk yang berhasil kutemukan di sepanjang perjalanan. 

Hari sudah menjelang petang. Dari ratusan bulu ayam yang ku cabut dan ku jatuhkan dalam perjalanan ketika pergi bertemu Habib, hanya lima helai yang berhasil kutemukan dan kupungut sepangjang perjalanan pulang. Ya, hanya lima helai. Lima helai...,. 

Hari berikutnya aku menemui Habib Umar dengan wajah yang murung. Aku menyerahkan lima helai bulu ayam yang telah ku kutip itu pada Habib Umar : "Ini, Habib..., hanya ini saja yang berhasil saya temukan.” Aku membuka genggaman tanganku dan menyerahnnya pada Habib Umar. Habib Umar tersenyum.....,"Kini kamu telah belajar sesuatu,” katanya. 

Aku mengerutkan dahiku, ingin tahu....“Apa yang telah aku pelajari, Habib?” Aku benar-benar tak mengerti. 

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab Habib Umar. 

Tiba-tiba aku tersentak. Dadaku berdebar. Kepalaku mulai berkeringat. 

“Bulu-bulu ayam yang kamu cabut dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Walaupun kamu benar-benar menyesali di atas perbuatanmu dan berusaha memperbaikinya, fitnah-fitnah itu telah menjadi bulu-bulu yang beterbangan entah kemana. Bulu-bulu itu adalah kata-katamu. 

Ia telah dibawa angin terbang ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak mungkin dapat kamu duga...,, ke berbagai wilayah atau negara yang tak mungkin dapat kamu hitung!” 

Tiba-tiba aku menggigil mendengarkan kata-kata Habib Umar. Seolah-olah ada satu hentakan pesawat yang paling dahsyat di dalam kepalaku. Seolah-olah ada tikaman mata pisau yang menghujam jantungku. 

Aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku ingin mencabut lidahku sendiri. 

“Bayangkan salah satu dari fitnah-fitnah itu suatu saat kembali pada dirimu sendiri… Barangkali kamu akan berusaha meluruskannya, karena kamu benar-benar merasa bersalah telah menyakiti orang lain dengan kata-katamu itu. Barangkali kamu tak ingin mendengarnya lagi. Tetapi kamu tak dapat menghentikan semua itu! Kata-katamu yang telah terlanjur tersebar dan terus disebarkan di luar kawalanmu, tak dapat kamu bungkus lagi dalam sebuah kotak besi untuk kamu kubur dalam-dalam sehingga tak ada orang lain lagi yang mendengarnya. Angin waktu telah mengabdikannya." 

“Fitnah-fitnah itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada penghujungnya. Agama menyebutnya sebagai dosa jariyah (dosa yang berjalan atau tersebar terus menerus). Dosa yang terus berjalan di luar kawalan pelakunya...., 

Maka tentang fitnah-fitnah itu, meskipun aku atau sesiapapun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak dapat membayangkan bila ianya akan berakhir. 

Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. 

Maka kamu tak dapat menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak.” 

Tangisku benar-benar pecah. Aku tersungkur di lantai. 

“Astagfirulloh hal-adzhim… Astagfirullohal-adzhim… Astagfirulloh hal-adzhim…” 

Aku hanya mampu terus mengulangi istighfar. Dadaku gemuruh. Air mata menderas dari kedua hujung mataku. 

“Ajarkanlah saya apa saja untuk membunuh fitnah-fitnah itu, Habib..... Ajaranlah saya! Ajarkanlah saya! Astagfirulloohal-adzhim…” Aku terus menangis menyesali apa yang telah aku perbuat. 

Habib Umar tertunduk sambil menitiskan air matanya. “Aku telah memaafkanmu setulus hatiku...., wahai anakku,” katanya, 

“Kini, aku hanya mampu berdoa agar Allah mengampunimu, mengampuni kita semua. Kita harus percaya bahawa Allah, dengan kasih sayangnya, adalah Zat yang Maha terus menerus menerima taubat manusia… Innallooha tawwaabur-rahiim...” 

Aku seperti disambar halilintar jutaan megawatt yang menggoncangkan batinku! 

Aku ingin mengucapkan sejuta atau sebanyak-banyaknya istighfar untuk semua yang sudah kulakukan! 

Aku ingin membacakan doa apa saja untuk menghentikan fitnah-fitnah itu! 

“Kini aku telah belajar sesuatu,” 

Demikianlah sahabat dan saudaraku. Itulah sebab kenapa, fitnah itu "KEJAM". Lebih kejam dari pada pembunuhan. 

Bayangkan berapa juta wall di media social yang kita penuhi kalau satu kali saja posting fitnah terhadap seseorang dan itu akan menetap abadi sepanjang masa apalagi kalau di share. Maka setiap yang ingin kita posting hendaklah di telaah dan difikirkan dulu fitnah ataupun bukan? 

Kiriman hamba Allah 
Wallahua`lam 

Monday, 17 October 2016

Haram Mengahwini Wanita-Wanita Ini

Golongan wanita yang haram dikahwini
Islam telah menetapkan beberapa golongan wanita yang haram dikahwini sama ada untuk selamanya atau sementara.

Terdapat golongan wanita yang haram dikahwini buat selama-lamanya. Mereka juga disebut sebagai 'mahram muabbad'. Pengharaman tersebut berlaku dengan sebab-sebab tertentu seperti, haram berkahwin dengan sebab keturunan (kahwin dengan ibu, nenek, cucu), haram berkahwin dengan sebab persemendaan (kahwin dengan isteri kepada bapa atau ibu tiri) dan haram dengan sebab susuan.

Adapun maksud susuan ialah menyusu sampai 5 kali susuan secara berasingan dengan setiap kali menyusu mestilah sampai kenyang.

Perempuan yang diharamkan berkahwin secara sementara pula ialah perempuan yang diharamkan berkahwin dengan lelaki atas sebab tertentu. Apabila terhapus sebab-sebab tersebut, maka halallah bagi mereka untuk berkahwin.

Antara sebab-sebabnya ialah seperti berikut:
1)   Haram mengahwini perempuan yang musyrik, kecuali setelah dia
memeluk agama islam

2)   Haram berkahwin dengan perempuan yang masih bersuami kecuali jika dia sudah bercerai dan tamat tempoh iddahnya.

3)   Haram bagi lelaki untuk berkahwin melebihi daripada 4 orang wanita pada satu masa, kecuali setelah dia menceraikan salah satu daripadanya dan tamat iddah isteri yang diceraikannya.
4)   Haram mengumpulkan kedua-dua wanita yang bersaudara pada satu masa samada persaudaraan tersebut kerana nasab atau susuan. Harus berkahwin dengan saudara wanita bagi isteri setelah isteri itu diceraikan atau meninggal dunia.


5)   Haram menikahi perempuan yang ditalak 3 sehingga dia berkahwin dengan lelaki lain, telah melakukan persetubuhan dan bercerai dengan suami kedua serta tamat iddahnya.

Calon Isteri - Antara Anak Dara (Gadis) Dengan Janda

Ada orang menghadapi masalah dalam memilih calon isteri, terutama jika perlu membuat keputusan sama ada memilih wanita masih gadis atau wanita yang sudah bergelar janda.

Persoalan ini jika ditanya kepada dua ibu bapa, pasti mereka mahukan anak lelaki mereka memilih wanita yang masih gadis. Tentunya bagi ibu bapa, ada penilaian tertentu dalam memilih antara dua status wanita yang mahu dikahwinkan dengan anak mereka.

Meskipun ada yang menganggap berkahwin dengan anak dara atau janda seperti tidak ada bezanya, pada prinsipnya Islam menggalakkan lelaki terutamanya bagi yang belum pernah berkahwin memilih calon isteri dari kalangan wanita yang masih gadis. 

Ini tidak bererti janda tidak boleh dijadikan isteri, namun apabila membabitkan dua pilihan, sebaik-baiknya pilihlah wanita masih gadis. Keutamaan ini demi untuk kebaikan pasangan itu sendiri. Alasannya, janda kemungkinan tidak dapat memberikan sepenuh kasih sayang kepada suaminya yang kedua atau seterusnya. 

Mereka mungkin lebih memberi keutamaan terhadap anak- anak jika sudah ada anak. Bagi janda yang tidak ada anak, mungkin mereka menghadapi masalah menyesuaikan hubungan kemesraan dengan suami kedua atau seterusnya setelah kehilangan suami pertama. 

Hasilnya kemesraan yang dilahirkan mungkin tidak berbentuk hakiki. Mereka hanya melakukan atas dasar kasihan tanpa merasai kasih sayang yang sebenarnya.Ini berbeza dengan gadis, mereka melayani suami sepenuh hati, ikhlas dan bukannya berdasarkan kepada pengalaman. Kerana itulah pengalaman pertama dia menempuh kehidupan bersuami atau berumah tangga. 

Perakuan Islam mengenai keikhlasan wanita dalam hubungan dengan suami banyak terdapat di dalam hadis Rasulullah. Namun yang jelas, keikhlasan amat berhubung kait dengan wanita masih gadis atau yang belum pernah bersuami. 

Hadis daripada Jabir mengatakan: “Kami bersama-sama Nabi SAW. di dalam peperangan. Ketika pulang dan hampir sampai ke Madinah, aku berkata kepadanya: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah berkahwin." Rasulullah bertanya: "Kamu telah berkahwin?" Aku menjawab: "Ya," Rasulullah bertanya lagi: "Dara atau janda?" Aku menjawab: "Janda." Rasulullah terus bertanya: "Mengapa tidak dengan wanita dara? Kamu boleh bermain-main dengannya." (Riwayat Shaikhan). 

Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW. bertanya: "Mengapa tidak anak dara? Kamu boleh bermain-main dengannya dan dia boleh bermain-main denganmu." (Riwayat Khomsah) 

Hadis ini jelas menerangkan keutamaan wanita dara berbanding janda dalam memilih calon isteri. Keterangan ini tidak bermakna menghina orang yang berkahwin dengan janda. Ia sekadar menerangkan keistimewaan wanita yang masih gadis. Wanita masih gadis sangat pemalu berbanding janda ketika bertemu dan berdua-duaan. Wanita yang pemalu akan memberikan kenikmatan yang tinggi berbanding wanita yang sudah janda. 

Ini kerana, gadis belum pernah disentuh oleh lelaki dan mereka juga belum merasainya. Oleh itu, perlakuan mereka akan terangsang kerana ia pengalaman pertama bagi mereka. Sebuah hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyebutkan Saiyidatina Aisyah begitu bermanja dengan Rasulullah SAW kerana Baginda belum pernah berkahwin dengan dara selain darinya. 

Aisyah bertanya Rasulullah: "Sekiranya kamu pergi ke sebuah lembah yang mempunyai pokok telah dimakan dan sebatang lagi belum dimakan, mana satu yang disukai oleh untamu?" Rasulullah menjawab: "Pokok yang belum dimakan."

Pertanyaan Aisyah itu walaupun ditujukan kepada pokok dan unta, tetapi pengertian sebenarnya ada kaitan dalam soal memilih wanita yang sudah bergelar janda atau wanita masih gadis untuk dijadikan isteri.

Malah yang lebih penting lagi Rasulullah sendiri secara spontan seolah-olah memberi gambaran wanita masih gadis lebih sesuai dijadikan pilihan. Gadis diberi keutamaan oleh Islam dalam memilih calon isteri. Hal ini diperkuatkan lagi oleh penegasan Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh hadis di atas. 

Di sini timbul persoalan apakah keistimewaan gadis berbanding janda? Sebenarnya hikmah dan rahsia yang tersembunyi di sebalik galakan tersebut boleh dirumuskan seperti berikut, antaranya:

Sifat dan sikap isteri masih gadis lebih memuaskan hati, mereka melayan suami dengan penuh kasih sayang. Mereka mampu bergurau senda dan terlalu mengambil berat sebarang masalah yang dihadapi oleh suaminya.

Wanita masih gadis dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya kerana ia pengalaman pertama menempuh kehidupan berumah tangga. Oleh itu, mereka akan teruja untuk menjaga kerukunan rumah tangga agar kekal selama-lamanya. Emosi mereka tidak bercelaru kerana belum pernah disentuh oleh lelaki lain melainkan suaminya. 

Wanita seperti ini sudah semestinya mendapat pujian daripada Allah sebagaimana yang terdapat di dalam al-Quran: "Maka wanita-wanita yang baik itu ialah yang taat, memelihara (perkara-perkara) yang tersembunyi dengan cara yang dipeliharakan oleh Allah." (Surah An-Nisa:34)

Maksud ‘memelihara (perkara-perkara) yang tersembunyi' itu ialah wanita Solehah dapat menjaga diri dan harta suami semasa ketiadaan suami. Mereka juga berpegang kepada janji setia serta tiada mengkhianati suami mereka. 

Pujian sedemikian bukan saja dinyatakan di dalam al-Quran, malah Rasulullah ada menyebutnya di dalam sebuah hadisnya mengenai topik `sebaik-baik wanita'. Sabda Rasulullah: "Sebaik-baik wanita ialah wanita yang apabila kamu lihat akan mengembirakanmu dan apabila kamu suruh, dia akan mentaatimu. Apabila kamu tiada disisinya, dia akan menjaga dirinya dan hartamu."

Bagi wanita yang sudah bergelar janda, mereka tergolong dalam kelompok yang sudah mempunyai pengalaman tersendiri mengenai lelaki. Oleh itu, pengalaman bersama suami yang terdahulu ada kemungkinan lebih mempengaruhi sifat dan layanan mereka terhadap suami kedua. 

Mungkin mereka cepat marah dan kecewa sekiranya suami kedua melakukan perbuatan menyerupai suami pertama sedangkan perbuatan itu memang tidak disukainya. Ini tentunya akan merenggangkan hubungan kasih sayang mereka berdua. 

Dalam soal keupayaan seks pula, jika suami pertama lebih hebat dan memang disukainya, tetapi tidak pula dapat dilakukan oleh suami kedua, maka keadaan ini mungkin dijadikan perbandingan oleh wanita bergelar janda. Ada kemungkinan dia akan memperkecil atau memperlekehkan tahap keupayaan suami baru itu. 

Pengalaman daripada perkahwinan pertama sebenarnya sedikit-sebanyak mendorong mereka membuat keputusan ketika hidup dengan suami kedua. Ada ketikanya, keputusan itu tidak disukai oleh suami kedua. Keadaan ini boleh mencetus rasa tidak selesa yang lambat laun boleh mengganggu kerukunan sesebuah rumah tangga. 

Suami tentunya mengharapkan kasih sayang yang tidak berbelah bagi dan ini memaksa isteri melupakan terus pengalaman silamnya. Paksaan seperti ini mungkin tidak akan berjaya kerana sifat semula jadi wanita mudah terdedah kepada khayalan dan pengalaman yang pernah dilalui. 

Emosi wanita bergelar janda mudah terdedah dengan kecelaruan dan mungkin tidak dapat melayani suami baru dengan sepenuhnya. Pada waktu yang sama, mereka cuba mencari kelainan yang terdapat pada diri suami kedua berbanding suami pertama. Akibatnya, kasih sayang yang mereka jalinkan tidak lagi ikhlas. Ada ketikanya perasaan cinta terhadap suami pertama tidak akan padam dari sanubari wanita janda walaupun mereka telah berkahwin lain. 

Ini berbeza dengan gadis, cinta dan perasaan kasih sayang hanya tercurah kepada suaminya semata-mata. Seperkara yang harus diakui, wanita bergelar janda selalunya tidak diterima baik oleh keluarga lelaki terutama oleh kedua ibu bapa. Tentangan keluarga lebih dirasai lagi apabila membabitkan lelaki yang belum pernah berkahwin. Justeru, perkahwinan dengan janda sepatutnya tidak dijadikan pilihan utama, kerana hubungan kekeluargaan perlu dipelihara secara berterusan.

Apa yang diperkatakan ini tidaklah suatu yang zalim kepada kaum janda. Secara ilmunya demikianlah yang di bahaskan. Tetapi secara praktikalnya, yang berlaku dalam kehidupan seharian, perkahwinan tetaplah terjadi – walaupun dengan janda apabila adanya jodoh ketentuan Allah.

Bahkan dalam masyarakat yang memperjuangkan sistem hidup Islam, hal kebajikan janda-janda menjadi keutamaan yang diperhatikan. Adalah tidak patut membiarkan wanita janda hidup sendirian sedangkan mereka sudah pernah merasai atau mengecapi kehidupan bersuami isteri.

Islam sama sekali tidak menzalimi mereka. Justeru wanita janda lebih-lebih lagi akan tetap diuruskan perkahwinan mereka untuk kali kedua. Tentunya bagi wanita yang bercerai, akan diusahakan terlebih dahulu sekiranya mereka mahu rujuk kembali dengan suami terdahulu.

Keutamaan tentunya agar rumah tangga mereka diselamatkan daripada perceraian. Usaha mendamaikan suami isteri agar tidak berlaku perceraian adalah usaha terpuji terutama melihat kepada anak-anak yang perlukan ibu bapa dalam hidup mereka.  


Sekiranya perceraian tidak boleh dielakkan, biarlah ianya berlaku secara harmoni dan berlapang dada. Dan jika mereka bersetuju, perkahwinan dengan suami yang baharu boleh dijalankan sebaik habis tempuh iddah. Tempuh mereka hidup menjanda seboleh-bolehnya tidak dibiarkan berlama-lama. Kehidupan berkeluarga tetaplah menjadi satu keperluan.

Monday, 10 October 2016

Tanda-tanda Kecintaan Allah Kepada Seseorang Hamba

Tanda-tanda Kecintaan Allah Kepada Seseorang Hamba Dan Anjuran Untuk Berakhlak Sedemikian Serta Berusaha Menghasilkannya

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah (wahai Muhammad), jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah saya, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang,” (ali-lmran: 31)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Hai sekalian orang yang beriman, siapa yang bermurtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang dicintai olehNya dan mereka pun mencintaiNya. Mereka itu bersikap lemah-lembut kepada kaum mu’minin dan bersikap keras terhadap kaum kafirin. Mereka berjihad fi sabilillah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela. Demikian itulah keutamaan Allah, dikurniakan olehNya kepada siapa yang dikehendakiNya dan Allah adalah Maha Luas kurniaNya serta Maha Mengetahui.” (al-Maidah: 54)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis Qudsi: “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahawa ia akan Kuperangi – Kumusuhi. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan melakukan hal-hal yang sunnah, sehingga akhirnya Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Akulah telinganya yang ia pakai untuk mendengarkan, Akulah matanya yang ia pakai untuk melihat, Akulah tangannya yang ia pakai untuk mengambil dan Aku pulalah kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Jikalau ia meminta sesuatu padaKu, pasti Kuberi dan jikalau ia mohon perlindungan padaKu, pasti Kulindungi.” (Riwayat Imam Bukhari)

Makna lafaz Aadzantuhu ertinya: “Aku (Tuhan) memberitahukan kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahawa aku memerangi atau memusuhinya, sedang lafaz Ista’aadzanii, ertinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu.” Ada yang meriwayatkan dengan ba’, lalu berbunyi Ista-aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu berbunyi Ista-aadzanii.

Keterangan:

Hadis Qudsi ialah hadis yang menyatakan firman-firman Allah selain yang tercantum dalam al Quran. Dalam Hadis ini dijelaskan betapa tingginya darjat seseorang itu apabila telah diakui sebagai kekasih oleh Allah Ta’ala atau yang lazim disebut waliullah. Maka yang lebih dulu perlu kita ketahui ialah: Siapakah yang sebenarnya dapat disebut waliullah atau kekasih Allah itu? Jawabnya: Dalam al-Quran, Allah berfirman:

“Tidak ada yang dianggap sebagai kekasih Allah, melainkan orang-orang yang bertaqwa kepadaNya.”

Alangkah ringkasnya pengertian waliullah itu, tetapi benar-benar dapat menyeluruhi semua keadaan.

Kalau ada pengertian waliullah selain yang difirmankan oleh Allah sendiri itu, jelaslah bahawa itu hanyalah penafsiran manusia sendiri dan tidak berdasarkan kepada agama sama sekali. Waliullah yang berupa orang-orang yang bertaqwa kepada Allah itulah yang dijamin oleh Allah akan mendapatkan perlindungan dan penjagaanNya selalu dan siapa saja yang hendak memusuhinya, pasti akan ditumpas oleh Allah, sebab Allah sendiri menyatakan permusuhan terhadap orang tadi.

Sekarang bagaimanakah taraf pertamanya agar supaya kita dikasihi oleh Allah?

Jawabnya: Mendekatkan (bertaqarrublah) kepada Allah dengan penuh melakukan segala yang difardhukan (diwajibkan). Inilah cara taqarrub yang sebaik-baiknya dalam taraf permulaan. Kemudian sempurnakanlah taqarrub kepada Allah Ta’ala itu dengan jalan melakukan hal-hal yang sunnah-sunnah. Kalau ini telah dilaksanakan, pastilah Allah akan menyatakan kecintaanNya. Selanjutnya, apabila seseorang itu telah benar-benar bertaqarrub kepada Allah dan Allah sudah mencintainya, maka baik pendengarannya, penglihatannya, tindakan tangan dan kakinya semuanya selalu mendapatkan petunjuk dari Allah, selalu diberi bimbingan dan hidayah serta pertolongan oleh Allah. Bahkan Allah menjanjikan kalau orang itu meminta apa saja, pasti dikabulkanNya, mohon perlindungan dari apa saja, pasti dilindungiNya. Dengan demikian, maka seringkali timbullah beberapa macam karamah dengan izin Allah.

Karamah ialah sesuatu yang nampak luar biasa di mata umum yang terjadi pada diri seseorang waliullah itu, semata-mata sebagai suatu kemuliaan atau penghargaan yang dikurniakan oleh Allah kepadanya. 

Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:

“Jikalau Allah Ta’ala itu mencintai seseorang hamba, maka Dia memanggil Jibril untuk memberitahu bahawa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu (hai Jibril) si Fulan itu. Jibril lalu mencintainya, kemudian ia mengundang kepada seluruh penghuni langit memberitahu bahawa Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua (hai penghuni-penghuni langit) si Fulan itu. Para penghuni langit pun lalu mencintainya. Setelah itu diletakkanlah penerimaan baginya (yang dimaksudkan ialah kecintaan padanya) di kalangan penghuni bumi.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seseorang hamba, lalu memanggil Jibril kemudian berfirman: “Sesungguhnya Saya mencintai si Fulan, maka cintailah ia.” Jibril lalu mencintainya. Seterusnya Jibril memanggil pada seluruh penghuni langit lalu berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah olehmu semua si Fulan itu.” Orang itu pun lalu dicintai oleh para penghuni langit. Selanjutnya diletakkanlah penerimaan (kecintaan itu baginya dalam hati para penghuni bumi.) Dan jikalau Allah membenci seseorang hamba, maka dipanggillah Jibril lalu berfirman: “Sesungguhnya Saya membenci si Fulan itu, maka bencilah engkau padanya.”Jibril lalu membencinya, kemudian ia memanggil semua penghuni langit sambil berkata: “Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah engkau semua padanya.” Selanjutnya diletakkanlah rasa kebencian itu dalam hati para penghuni bumi.”

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan seseorang untuk memimpin sepasukan tentera ke medan peperangan. Orang itu suka benar membaca untuk kawan-kawannya dalam shalat mereka dengan “Qulhu wallahu ahad” sebagai penghabisan bacaannya. Setelah mereka kembali, hal itu mereka sampaikan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda: “Cuba tanyakanlah pada orang itu, mengapa melakukan yang semacam itu?” Mereka sama bertanya padanya, kemudian orang itu menjawab: “Sebab itu adalah sifatnya Allah yang Maha Penyayang, maka dari itu saya senang sekali membacanya.” Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w. (setelah diberitahu jawapan orang itu): “Beritahukanlah padanya bahawasanya Allah Ta’ala mencintainya.” (Muttafaq ‘alaih)

Ajaibnya Tepung Gandum!!!


Kisah di bawah membuktikan betapa hebatnya kuasa Allah menciptakan penawar pada tepung gandum. Eloklah simpan satu beg tepung dalam semua dapur dan pastikan semua ahli keluarga kita tahu di mana ianya disimpan. *TOLONG BACA SAMPAI HABIS* pengalaman seorang wanita telah terbakar ... satu ketika dahulu: 

Sedang saya memasak jagung dan cuba membalikkan jagung tersebut.. tiba tiba tangan saya termasuk ke dalam air yang sedang mendidih.... !! Seorang rakan saya, yang merupakan seorang doktor haiwan Vietnam yang sedang berada di dalam rumah itu terkejut kerana saya menjerit kesakitan. Rakan saya bertanya kepada saya jika saya mempunyai tepung gandum ... Lalu tangan saya yang dalam kesakitan itu ditarik dan dimasukkan ke dalam beg yg diisi tepung gandum lalu membenamkan tangan saya di dalam tepung itu. 

Dia memberitahu saya supaya tangan saya dibenamkan dalam tepung selama 10 minit. 

Beliau berkata, di Vietnam, terdapat seorang lelaki disambar api dan dalam keadaan panik, mereka melemparkan beg tepung ke seluruh tubuh beliau untuk memadamkan api tersebut. Akhirnya, ia bukan sahaja memadamkan api itu, tetapi dia tidak sama sekali melecur !!!! ...

Dipendekan cerita, saya letakkan tangan saya di dalam beg tepung selama 10 minit, kemudian saya tarik keluar dan tangan saya langsung tidak ada tanda merah atau melecur dan yang penting ianya benar-benar TIDAK SAKIT. Sekarang, saya simpan satu beg tepung  gandum di dalam peti sejuk. *Tepung yang sejuk adalah lebih baik daripada tepung suhu bilik*. 

Saya menggunakan tepung gandum dan tidak pernah ada tanda merah / terbakar, atau lecur! Saya juga pernah melecur lidah sekali, lalu saya letakkan tepung di atas lidah saya yg melecur itu selama kira-kira 10 minit .... kesakitan terus hilang dan tidak ada tanda terbakar. Pelikkan!! Jadi simpanlah beg tepung di dalam peti sejuk anda sebagai pencegah kelecuran sekiranya ahli keluarga ataupun diri kita sendiri terkena bahan-bahan yang panas disebabkan api. 

Sebenarnya "flour" atau tepung gandum mempunyai daya penyerap haba dan juga daya anti-oksidan yang kuat. Oleh itu ia membantu dalam kelecuran kerana terbakar dan meredakan kesakitan jika dilakukan dalam tempoh 15 minit.

 

Sample text

Sample Text

Sample Text