Social Icons

Wednesday, 22 February 2017

Mengenali Para Wali Allah

TANDA-TANDA WALI ALLAH

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.
Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:
“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”
Dari Said ra, ia berkata:
“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.
Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:
10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).
“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

3. Mereka bertakwa kepada Allah.
Allah swt berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13
Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.
Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:
Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6
Surah Yunus: 62 – 64
Hadisriwayat. Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5
“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.
Dari Ibnu Umar ra, katanya:
“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”
Rujukan:-
Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’
Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

7. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.
Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. . Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

8. Mereka senang bermunajat di akhir malam.
Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”
Rujukan:-
Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80
Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

9. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.
‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”

10. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.
Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”
Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.
Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.
Rujukan:-
Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

11. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.
Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:
“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”
– Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7


PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLAH

1. Al-Aqtab
Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang mempunyai erti penghulu. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darjat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darjat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity. Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai darjat tinggi, seperti para Khulafa’ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.

2. Al-A immah
Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai erti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darjat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam malaikat saja.

3. Al-Autad
Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai erti pasak. Yang memperoleh darjat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya. Kami menjumpai seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.

4. Al-Abdal
Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai erti menggantikan. Yang memperoleh darjat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di
bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darjat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”.

5. An-Nuqaba’
An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai erti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahsia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahsia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya?

6. An-Nujaba’
An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai erti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana sahaja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darjatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang.

7. Al-Hawariyun
Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai erti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan di-ganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi:
“Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”.

Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau saw berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair sahaja yang meraih darjat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah.

Friday, 3 February 2017

Tuntutan Fardhu Kifayah - 110 Buah Restoran Ikhwan Di Seluruh Dunia


Syariat Islam meletakkan tanggung jawab (taklif syarak) itu pada 2 bentuk iaitu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Jika Fadhu Ain merupakan taklif individu muslim, Fardhu Kifayah adalah taklif bersama masyarakat Islam. Kegagalan melaksanakan tuntutan Fardhu Ain menjadi dosa pada individu berkenaan manakala kegagalan melaksanakan tuntutan Fardhu Kifayah menjadikan seluruh umat islam menanggung dosanya bersama.


Satu hakikat yang perlu diakui ialah skop perniagaan Fardhu Kifayah yang sangat luas. Ianya meliputi seluruh keperluan umat Islam yang belum dikendalikan atau diusahakan umat Islam. Selagi umat Islam bergantung harap dengan perkhidmatan orang bukan Islam - dalam aktiviti yang dibenarkan syariat - maka ertinya ianya adalah termasuk dalam tuntutan Fardhu Kifayah. 

Dosa mengabaikan tanggung jawab Fardhu Kifayah inilah yang biasanya menggagalkan seseorang dari masuk ke syurga. Rasulullah SAW menyatakan; "Sesiapa yang tidak mengambil berat urusan kaum muslimin, maka mereka itu tidak bersama kami." 

GISB melihat persoalan ini dengan serius dan mahu bertanggung jawab melaksanakan sebanyak-banyaknya tuntutan fardhu Kifayah ini. Apalah ertinya kesungguhan beramal ibadah tetapi di akhirat kita gagal melepasi dosa-dosa yang berkait hal fardhu Kifayah. Terlalu banyak bidang Fardhu Kifayah yang belum diteroka dan dijayakan umat Islam. Kewajipan yang masih gagal kita lunasi itu pastilah akan memerangkapkan kita di Padang Mahsyar.

Sebahagian besar perniagaan yang bersifat fardhu kifayah ini juga diletakkan di bawah Yayasan Kebajikan Dan Perkhidmatan Perubatan Malaysia (YKPPM) kerana sesuai dengan fungsi fardhu kifayah yang tidak bertujuan menjana keuntungan. Ianya didorong oleh hasrat ingin memastikan keperluan masyarakat islam dapat disediakan di mana sahaja ianya diperlukan. 

Sebagai contoh, di sekitar kawasan ‘segitiga emas Bukit Bintang – Kuala Lumpur’ tidak ada restoran Melayu Islam yang bertaraf 5 bintang. Apa yang ada hanyalah peniaga-peniaga kecil menggunakan van bergerak di merata tempat. Tidak ada yang sanggup membuka restoran di lokasi berkenaan kerana kadar sewanya yang terlalu tinggi. 

Memang ada juga restoran mamak tetapi masih diragui status halalnya. Acap kali kita diberitahu betapa demi mengaut keuntungan, mereka kurang memperduli soal halal dan kesucian. Begitu juga dengan sebahagian gerai makan di foodcourt yang wujud di beberapa pusat membeli belah. Masih ada ruang untuk diragui halal dan kesucian makanan yang dijual.

YKPPM mengambil tanggung jawab menyelesaikan keperluan makan minum umat Islam di lokasi pusat bandaraya – segitiga emas ini. Ianya satu tuntutan Fardhu Kifayah. Bukan soal untung rugi tetapi keperluan menyediakan perkhidmatan yang mampu menyelamatkan umat dan memberi imej positif terhadap agama Islam. 

Setakat tahun 2016, jumlah Restoran Ikhwan yang dikendalikan GISB/YKPPM ialah sebanyak 110 buah. Selain di Malaysia, Restoran Ikhwan juga terdapat di Indonesia, Australia, Thailand, Singapura, Emerates Arab Bersatu (Dubai), Mekah, Madinah, Jordan, Mesir, Turki, Paris, United Kingdom, Jerman dan Suriname.

Di Bukit Bintang, di tengah-tengah pusat hiburan, pub dan bar, GISB bertapak di sana sejak hampir 10 tahun dengan sebuah restoran bertaraf 5 bintang. Dengan sewa dan lain-lain tanggungannya melebihi RM50 ribu, Restoran Ikhwan (Ikhwan Coffee House) ini sudah menjadi tumpuan semua golongan masyarakat termasuk yang bukan Islam. Pelancong dari luar negara juga sudah ramai yang mengenali dan merasai menu yang disediakan. 

Imej restoran / kafe ini tentulah Islam dan dikendalikan oleh kebanyakannya remaja Islam yang terlatih, berakhlak dan berpenampilan menarik. Seseorang yang 'tersesat' di lorong yang lumayan dengan arak dan riuh rendah bunyi muziknya – jika masih beriman akan bertemu tempat untuk menunaikan solat dan menikmati juadah yang halal. Hiburan nasyid Islami sentiasa berkumandang di restoran ini – saling bertingkah dengan muzik keras yang mengaktifkan para pemabuk di sekitarnya.

Dari sudut ini, GISB telah berjaya ‘mencabar’ budaya maksiat dan mungkar yang berleluasa dengan caranya yang tersendiri. Cukup dengan kewujudannya di situ, ianya sudah membuka ruang dan pintu yang luas untuk mereka yang mahu mencari ketenangan - singgah dan berkenalan dengan para remaja berkenaan. 

Rasulullah saw bersabda; “Dan jika dengan sebab kamu, maka Allah berikan hidayah pertunjuknya kepada seseorang maka itu adalah lebih baik bagi kamu dari dunia dan isinya." Maksudnya keuntungan atas nama pertunjuk dan hidayah merupakan kemenangan Islam yang tersangat mahal dari sudut ini. 

Di situlah mereka kembali mendapat cahaya baru dalam hidup mereka. Mereka mula disedarkan betapa Allah itu wujud dan maha mengetahui apa yang dilakukan. Allah maha mengasihi hamba-hambaNya. Dia sentiasa memberi peluang orang yang berdosa untuk taubat kembali kepadaNya. Pintu taubat sentiasa terbuka. 

Sudah ramai golongan yang malamnya tenggelam dengan maksiat, mungkar dan dosa, datang untuk solat zohor dan makan tengahari di situ. Jadi, wujudnya Restoran Ikhwan di situ sudah berjaya menarik golongan yang lalai dan jauh dari Allah itu untuk berpeluang merenung diri mereka. Seseorang yang berjaya sedar hanya dengan datang ke restoran ini adalah keuntungan yang tidak dapat di lihat. 

Remaja yang baru belasan tahun – jika dididik dan diasuh dengan pembinaan rasa hati yang takut Allah dan rindukan nabi saw, akan berupaya bercakap selari dengan keperluan orang yang dihadapan mereka. Itulah yang terjadi bila cakap mereka menyentuh hati golongan ini. Mereka bukan sekadar petugas restoran tetapi remaja yang berupaya menjadi ‘pendakwah tidak resmi' yang menjadi agen menarik manusia yang lalai kembali kepada Allah. 

Sesungguhnya perubahan dan kesedaran ini menggambarkan betapa berharganya kewujudan 2 buah restoran Ikhwan di lokasi segitiga emas Kuala Lumpur ini. Itu belum lagi dikira betapa Restorang Ikhwan Bukit Bintang menjadi pilihan warga asing yang bukan beragama Islam untuk mengadakan jamuan perkahwinan. Ianya mampu melayani kehadiran tetamu seramai lebih 200 orang. Paderi kristian juga turut hadir.

GISB sedang menaik taraf semua rangkaian restorannya. Tidaklah mustahil, GISB akan dapat membuka ratusan buah restoran yang lebih besar keupayaannya di lokasi yang lebih luas dan merata. Akan sampai waktunya nanti!! Sama-sama kita menyaksikan kewujudannya. Insya Allah!! 

Baca di sini - tetamu di Restoran Ikhwan Bukit Bintang..

The day was closed with a dinner at the restaurant, Ikhwan Coffee House that were located in the Bukit Bintang area. Bukit Bintang is an area in Malaysia which is also a tourist area that never sleeps. On either side of enhancing diverse entertainment arena or also street food around . It gonna be much like the Khaosan area , but this is neater. The tidyness also remains me the same as when i visited Bukit Bintang long ago when i first time got there.

 

Sample text

Sample Text

Sample Text