Social Icons

Saturday, 8 October 2016

Kisah Mimpi Benar Yang Sangat Menginsafkan

Untaian Kisah Para Wali Allah
Rafi’e bin Abdullah radhiallahu-anhu bercerita:
Pada suatu hari, Hasyim bin Yahya Al-Kinani berkata kepadaku:
‘Maukah engkau aku khabarkan suatu kisah yang telah aku saksikan sendiri dengan mataku, dan telah aku dengar sendiri dengan telingaku, serta disaksikan pula oleh tubuh badanku, dan semoga ia bermanfaat bagi dirimu, sebagaimana ia bermanfaat juga kepada diriku?’

‘Apa dia? Ceritakanlah, mudah-mudahan ada faedahnya!’ jawabku kepadanya.
Maka Hasyim pun bertelimpuh untuk memulakan ceritanya, katanya:

Pada tahun 88 hijrah, pernah saya mendampingi tentera Islam untuk memerangi negeri Rom. Di antara teman-teman yang ikut serta dalam peperangan itu, terdapat seorang teman yang bernama Said Bin Haris. Ia benar-benar seorang yang luar biasa, kuar beribadat di malam hari, sedang di siang harinya tidak pernah berhenti dari berpuasa. Apabila rombongan kita berjalan, lisannya tidak berhenti dari membaca ayat-ayat AL-Quran. Apabila kita berhenti untuk berehat, mulutnya komat-kamit membaca zikir-zikir kepada Allah Taa’la. Pendek kata kita memang senang sekali kepadanya, selain ia menaikkan semangat, dia juga menjadi semacam azimat untuk kami mencapai kemenangan dalam peperangan kami terhadap kaum Musyrikin itu.

Pada suatu malam di saat yang genting, saya diperintahkan untuk berjaga bersamanya. Suasana di saat itu benar-benar mencekam, sekalipun demikian temanku yang satu ini masih tetap tekun beribadat terus-menerus sehingga ia tidak mengenal lelah dan payah. Menjelang fajar saya menyuruhnya agar beristirehat.

‘Wahai Said! Sesungguhnya badanmu itu juga mempunyai haknya untuk istirahat!’ kataku kepadanya. ‘ Kini pergilah engkau untuk istirahat dulu.’
Mendengar ucapanku itu, ia terus menangis terisak-isak, lalu berkata:
‘Bagaimana aku dapat istirahat, sedang nafasku terus-menerus dihitung, dan umurku pula semakin menyusut, hari-hari hidupku pun semakin mendesak. Bukankah kita saat ini sedang menanti kematian!’ dia bersyarah kepadaku mendedahkan isi batinnya.

Sesungguhnya mendengar kata-katanya itu membuatku sedih dan ikut menangis. Kemudia saya berkata kepadanya pula:
‘Atas nama Allah, wahai Said! Istirahatlah dulu sebentar. Biarkan aku duduk menjaga di luar!’ saya memujuknya.
Said lalu memasuki kemah dan beristirahat di sana.
Sedang saya lagi berjaga-jaga di situ, tiba-tiba saya mendengar suara suara datang dari dalam kemah, padahal di saat itu tiada seorang pun berada di dalam kemah itu selain temanku si Said yang sedang tidur itu. Saya segera memasuki kemah itu dan mendapati temanku sedang berkata-kata dalam tidurnya, seolah-olah ia sedang memimpikan sesuatu hal yang hebat. Dia berkata  di dalam mimpinya itu: Aku tak mau kembali! Aku tak mau kembali! Kemudian saya lihat ia tertawa gembira dan kembali berkata-kata lagi: Aku tak ingin kembali!’ Kemudian tampak tangannya dihulurkan seakan – akan ia menjabat sesuatu, kemudian ditariknya tangannya itu kembali dengan perlahan-lahan. Kemudian ia tertawa lagi lalu bertanya:’Tiga malam lagi?’

Saya hanya memerhatikan saja semua geraknya itu, dan semua kata-katanya menarik perhatianku. Kepada siapa yang ia berkata-kata itu. Yang dikatakan ‘tiga malam lagi’ itu apa? Wallahu-alam. Saya sengaja membiarkan dia dengan mimpinya itu supaya dia tidak terganggu, jika saya mengejutkannya.

Sebentar lagi, ia pun tersedar dari tidurnya dan bangun dengan gementar. Saya segera datang merangkulnya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, seakan –akan ada sesuatu yang dicarinya. Setelah merasa tenang, ia pun bertakbir dan bertahmid.

‘Ada apa, wahai Said!’ saya bertanya kepadanya.

‘Aku mimpi tadi,’ jawabnya.

‘Mimpi apa? Aku lihat kau berkata macam-macam yang pelik!’saya memberitahunya.

‘Aku mimpi suatu perkara besar,’ jawabnya lagi. Kemudian dia termenung panjang.

Saya lalu menceritakan kepadanya apa yang saya lihat tadi, kataku:
‘Hai Said! Aku lihat perkara-perkara yang ajaib daripadamu. Aku lihat kau berkata ‘Aku tak mau kembali!’ Kau mengulanginya berkali-kali. Kemudian kau seakan-akan menjabat sesuatu, kemudian kau menarik kembali tanganmu dengan perlahan-lahan. Kemudian kau bertanya kepada seseorang ‘tiga malam lagi?’ dan gerak-gerimu sungguh menakjubkan. Apa yang sebenarnya kau lihat dalam mimpimu itu, wahai Said?!’

‘Tak ada apa-apa,’ jawabnya pendek saja.
‘Tak ada apa-apa, tak kan kau boleh berkata-kata macam-macam,’ kataku kepadanya. ‘Cubalah ceritakan kepadaku!’ pintaku kepadanya.

Pada mulanya ia enggan memberitahuku apa yang dimimpikannya itu. Katanya semua itu adalah rahsia yang tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Tetapi sesudah saya terus memujuknya dan memintanya seperti orang yang meminta sedekah, barulah akhirnya dia bersetuju, katanya.
‘Mimpiku ini mimpi ajaib, nanti kau tak percaya,’ katanya kepadaku.

‘Tak kanlah aku tak percaya, padahal aku sudah lihat gerak-gerimu itu semua,’ jawabku kepadanya.
‘Baiklah, tapi kau mesti berjanji tidak akan menceritakannya kepada orang lain!’ dia membuat syarat itu.

‘Sampai bila-bila?’
‘Selama aku masih hidup,’ jelasnya.
‘Baiklah, aku berjanji!’ kataku.

Said mula bercerita:

Dalam mimpiku itu, aku merasakan seakan-akan kiamat telah terjadi. Bumi telah rata seperti padang jarak padang terkukur. Semua manusia telah bangkit dari kuburnya masing-masing, nafsi-nafsi. Setiap orang hanya ingat pada dirinya sendiri, sedang dalam ketakutan menunggu giliran untuk memenuhi panggilan Tuhan untuk perhitungan amal. Tiba-tiba dating kepadaku dua Malaikat yang sangat tampan, mereka mendekatiku dan mengucap salam. Aku pun membalasnya. Mereka kemudian berkata kepadaku:

‘ Wahai Said! Bergembiralah engkau, Tuhan telah mengampuni semua dosamu, menerima semua amalanmu, berkenan mengabulkan semua harapanmu. Dan berkenan juga untuk memperlihatkan pahalamu. Nah, marilah ikuti kami untuk menyaksikan sendiri apa yang telah disediakan Allah sebagai imbalan amalmu. Marilah kita berangkat sekarang juga!’ kata dua Malaikat itu.

Aku pun pergi bersama mereka dan keluar dari padang Mahsyar yang sedang penuh sesak dengan manusia itu. Seekor kuda sedang menantiku, maka saya naik di atasnya, dan alangkah cepatnya lari kuda itu!

Kuda itu terus berlari, dan tidak lama kemudian, terlihat olehku akan gedung-gedung menjulang tinggi hingga tidak terlihat puncaknya. Warnanya putih lagi berkilat-kilat seperti logam perak putih yang terkena cahaya matahari.

Kami terus mendekati gedung-gedung itu dan turun di depannya.

Begitu sampai di sana, pintu-pintu gedung pun terbuka tanpa lebih dulu kami mengetuknya. Aku dipersilakan masuk, maka aku memasukinya, dan tampak di situ keindahan-keindahan yang tidak mungkin saya gambarkan, dan memang jelas belum pernah terbayangkan oleh makhluk Allah yang lain.

Didalam gedung itu terdapat ramai para bidadari dan anak-anak muda yang tidak terhitung jumlahnya. Begitu mereka melihat kedatanganku, mereka langsung menyambutku dengan  sangat ramah. Mereka mengalu-alukanku dan berkata-kata dengan berbagai macam bahasa. Mereka mengatakan: ‘Inilah kekasih Allah! Selamat datang, wahai kekasih Allah! Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih.

Aku kemudian diajak memasuki ruangan dalam yang keindahannya melebihi keindahan ruangan sebelumnya yang sangat mempersonakan itu. Ruangan itu dipenuhi dengan ranjang-ranjang tidur terbuat daripada emas yang berhiaskan permata berkemilauan. Sementara di sekelilingnya dipenuhi dengan kursi-kursi yang terbuat dari permata-permata yaqut yang berwarna-warni. Sedang di masing-masing ranjang indah itu duduk seorang bidadari yang kecantikannya tidak tergambarkan. Mereka lebih bercahaya dari bulan purnama. Di tengah-tengah ranjang itu terdapat sebuah ranjang tidur yang lebih tinggi, lebih indah dan lebih bagus dari yang di sekelilingnya.

Kedua malaikat pengantarku itu berkata:
‘Wahai Said! Inilah tempat tinggalmu nanti. Semua bidadari yang ada di sini adalah calon dari para isterimu. Engkau akan tinggal di sini untuk selama-lamanya!’

Kemudian kedua malaikat pengantarku itu pergi meninggalkanku di situ.

Bidadari-bidadari itu dtang mendekatiku, dan mengalu-alukan kedatanganku, bak kekasih yang sudah lama saling tak bertemu. Kemudian mereka beramai-ramai membawaku ke ranjang tinggi yang sangat indah itu, di mana di sana duduk seorang bidadari yang tak mungkin aku bayangkan kecantikannya. Mereka sekalian berkata:

‘Wahai Said! Inilah isterimu! Dan ada lagi banyak dari yang lain, yang sudah lama menanti kehadiranmu!’

Aku terharu lalu bertanya:
‘Di manakah saat aku berada kini?’

‘Kau sedang berada di syurga Ma’wa,’ jawab bidadari itu.
‘Siapakah anda yang sangat cantik ini?!’ tanyaku kepada bidadari itu.

‘Hamba adalah calon isterimu,’ jawabnya dengan tersenyum.
‘Di manakah yang lain-lain?’

‘Mereka berada di peraduannya masing-masing,’ jawab bidadari itu lagi.
‘Baiklah, hari ini aku akan tinggal bersamamu, besok aku pindah kepada yang lain,’ kataku kepadanya.

Aku menghulurkan tanganku kepada bidadari yang sangat cantik itu, namun ia menolaknya dengan halus seraya berkata: ‘Hari ini, jangan dulu! Anda harus kembali ke dunia. Anda akan tinggal di dunia tiga hari lagi. Setelah itu kita akan berkumpul untuk selamanya,’ bidadari itu memberitahuku.

‘Aku tak mau kembali!’ jawabku kepada bidadari itu tidak sabar lagi. ‘Aku tidak mau kembali!’

‘Tidak boleh!’ bidadari itu cuba memujukku. ‘Anda harus kembali dulu, dan akan berkumpul bersama kami tiga hari lagi. Insya Allah!’

Demikianlah cerita Said yang disampaikan kepadaku, kemudian dia berkata kepadaku pula:
‘Itulah akhir kata-kataku kepada bidadari-bidadari itu. Aku bangkit untuk berpamitan dan ketika itulah aku tersedar dari tidurku. Sungguh aku tak sabar lagi untuk berjauhan dari mereka!’

Mendengar cerita temanku itu, jatuh berderailah air mata gembiraku. Aku kemudian berkata kepadanya:

‘Berbahagialah engkau, wahai saudaraku Said!’ kataku kepadanya. ‘Berterima kasihlah kepada Tuhan yang telah memperlihatkan balasan amalanmu!’

‘Ingat! Rahsiakan cerita ini selagi aku masih hidup!’ Said mengingatkanku akan janjiku tadi kepadanya supaya aku merahasiakannya selama ia masih hidup. Kemudian dia berkata pula: ‘Setelah aku mati, terserahlah kepadamu untuk menceritakannya!’

‘Baiklah, aku berjanji,’ jawabku.
Kemudian Said bangkit lalu bersuci, mengerjakan shalat dan memakai minyak wangi, lalu mengambil pedangnya dan menuju ke medan perang dalam keadaan berpuasa. Hari itu ia berperang dengan sangat hebat sekali sampai menjelang malam sehingga semua teman-teman yang bersama kami merasa kagum melihat kehebatannya dan keberaniannya. Mereka berkata:

‘Alangkah hebatnya Said berperang, sekan-akan ia menghalang pedang lawannya!’
Mendengar komentar mereka itu, hatiku berkata:
‘Sekiranya  mereka mengetahui rahasianya, pastilah mereka juga akan melakukan seperti apa yang dilakukan Said itu!’

Malam pun sudah tiba, Said shalat sampai pagi, kemudian ia berperang lagi dalam keadaan berpuasa. Keberaniannya kini lebih hebat lagi dari hari yang sebelumnya. Saya terus memperlihatikan semua gerak-gerinya ketika ia berada di medan perang itu. Ia tampak seakan-sekan menghadang sembarang pedang yang dating dari pihak lawan, tak kira siapa pun, namun begitu tak satu dari tetakan musuh yang mengenai dirinya.

Demikian halnya si Said itu pada hari ketiga, ia berperang lebih hebat lagi dari hari-hari yang sebelumnya, hinggalah menjelang petang hari itu, dan satu senjata pun tidak menyentuh badannya. Ini hari ialah hari yang dijanjikan seperti dalam mimpinya? Apakah benar mimpi itu, dia akan pergi untuk menemui bidadari-bidadari yang sedang menunggunya itu? Aku merasakan diriku terlalu sibuk dan tidak senang.

Menjelang waktu Maghrib, tiba-tiba dating suatu anak panah meluncur tepat mengenai sasarannya pada dada Said. Barangkali ada musuh yang dari lama sedang mengintipnya dan hendak membunuhnya disebabkan keberaniannya yang luar biasa itu. Musuh yang melimpar itu tidak kelihatan, kerana waktu sudah hampir gelap.

Said yang terkena anak panah itu, rebah jatuh ke tanah. Semua sahabat-sahabatnya terkejut melihat ia rebah ke tanah itu, lalu datang dengan cepat untuk menolongnya serta membawanya ke dalam kemah untuk dirawat dengan segera. Said ditidurkan di situ dalam keadaan tidak sedarkan diri lagi.

 Saya berkata dalam hati: ’Selamat jalan, wahai saudaraku Said! Berbahagialah engkau kerana mendapat syahid. Berbukalah engkau malam ini denegan bidadari-bidadarimu yang sedang menunggumu itu! Sungguh ingin sekali aku kalau dapat menyertaimu!’

Rupa-rupanya Allah memberikannya kuasa untuk membaca apa yang saya rakamkan di dalam hati kecilku itu. Saya lihat dia dengan tiba-tiba tersenyum dan berkata: ‘Alhamdulillah, Tuhan telah menepati janjiNya!’

Said kemudian tersenyum besar sepuas-puas hatinya. Semua sahabat-sahabat di situ merasa takjub melihat gerak-gerinya yang ganjil itu. Mereka tidak tahu, tetapi sayalah yang tahu. Sebentar lagi kelihatan kedua belah bibirnya bergerak-gerak seolah-olah dia  membaca sesuatu, lalu dia menutupkan matanya. Dia wafat.
Melihat Said telah memejamkan matanaya itu, saya hilang fikiran. Saya pun terus menjerit dan berkata keras kepada teman-teman yang berada di sekeliling mayat Said itu:

‘Wahai teman-teman!’ saya berkata begitu sambil hatiku hiba kerana sedih, air mataku terus meleleh membasahi kedua belah pipiku. ‘Berbuatlah seperti apa yang dibuat Said ini! Dengarlah ceritaku tentang seusatu yang telah disaksikan oleh si Said ini!’

Teman-teman lalu berkerumun duduk di sisiku, mendesakku supaya menceritakan rahasia si Said yang mayatnya sedang terbujur di hadapan kita sekalian. Saya pun menceritakan apa yang dialaminya oleh Said dalam mimpinya pada tiga hari sebelum itu. Mendengar cerita itu, semua kawan-kawan terharu dan ada yang sampai menangis, yang mana akan menggetarkan hati siapa yang  mendengarnya.

Berita kematian Said sampai ke telinga pemimpin kami bernama Maslamah. Beliau segera dating untuk menshalati mayat Said bersama-sama kami. Saya meminta Maslamah menjadi imam dalam shalat jenazah ini. DIa menolak seraya berkata kepadaku:

‘Andalah yang lebih patut menjadi imamnya, kerana anda lebih kenal dan rapat kepadanya dari saya.’
Saya setuju dengan cadangannya, dan kami pun menshalati jenazah Said itu, lalu kami kebumikannya.

Pada malam itu, kami terus membincangkan segala kebaikan Said. Pada hari esoknya, seakan-akan pasukan kami mendapat tambahan semangat dari mendengar perilaku dan kelakuan Said yang sungguh patuh dan suka berbakti kepada Tuhannya itu. Kami berperang dengan hebatnya sehingga musuh porak-peranda, dan tidak lama mereka pun hancurlah.

Pada hari itulah jatuh banteng musuh ke tangan kaum Muslimin dengan berkat inayah Allah dan pertolonganNya.

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text