Social Icons

Saturday, 3 January 2015

Khutbah Nikah: Pernikahan Adalah Bukti Takut Allah SWT

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ 
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ














 وَ
بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, seraya memohon pertolongan dan ampunan-Nya, dan kami memohon perlindungan Allah dari keburukan-keburukan nafsu kami dan dari akibat buruk perilaku kami.

Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah kepadanya, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang telah disesatkan, tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahawa tidak ada tuhan yang layak disembah melainkan Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang ramai, dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Ammaa ba’du,
Hadirin rahimakumullah, khususnya kedua pengantin yang diberkati oleh Allah,

Itulah khutbah Nikah dari Nabi Muhammad SAW ketika menikahkan puteri tercintanya Fatimah az-Zahra, intinya adalah pesan Taqwa. Kenapa Taqwa? Karena orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (Q. S. Al-Hujurat : 13).

Taqwa dapat difahami dengan pengertian yang sederhana, iaitu mempunyai rasa hati yang takut setakut-takutnya kepada Allah sehingga mendorong kita melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Termasuk di dalamnya ialah perintah melaksanakan pernikahan dan menjauhi pergaulan bebas dan perzinahan.

Rasulullah SAW telah bersabda, sesuai dengan hadits dari Abdullah bin Masud :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ
 وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

“Wahai para para remaja, barangsiapa di antara kalian telah mampu berkahwin, berkahwinlah. Sesungguhnya dengan berkahwin dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa dapat menjadi benteng baginya.”

Hadirin rahimakumullah,
Akad Nikah hakikatnya merupakan Janji agung di hadapan Yang Maha Agung, yang harus dipertanggungjawabkan. Maka hendaknya janji agung ini kita pegang dengan teguh. Allah telah mengingatkan dalam Al-Quran S. Al-Isra‘ : 34,

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.“

Tentu saja seorang yang membangun mahligai rumah tangga, maka yang menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar kehidupan rumah tangganya kelak berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah war-rahmah, sarat dengan kebahagiaan, adanya saling ta‘awun (tolong menolong), saling memahami dan saling mengerti. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an S. Ar-Rum : 21,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
 وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ 
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Hadirin rahimakumullah,
Suaana dan keadaan rumah tangga yang mawaddah war-rahmah tentu saja tidak datang dengan begitu mudah. Syarat untuk berupaya mencapai mawaddah war-rahmah, salah satunya adalah, hendaknya suami – istri itu saling melindungi, saling melengkapi dan menutupi kekurangan pasangan masing-masing. Dalam Al-Qur’an S. Al-Baqarah : 187 Allah berfirman :
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka (isteri-isterimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.“

Dapat kita fahami, bahawa pakaian berfungsi menutup aurat dan kekurangan jasmani manusia, jadi demikianlah pasangan suami – istri, masing-masing pakaian bagi yang lain, artinya mereka harus saling melengkapi, saling menutupi kekurangan dan aib pasangannya. Demikian juga, masing-masing harus saling melindungi dari segala permasalahan pasangannya.

Apabila ada sepasang suami – isteri yang saling membuka aib dan rahasia pasangannya, maka mereka itulah sebenarnya orang-orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah kelak pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, hadits dari Abu Said al-Khudri :
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اَلرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى اِمْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ , ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang menggauli isterinya dan isteri yang mendatangi suaminya, kemudian ia membuka rahsia hubungan dengannya.“

Hadirin rahimakumullah,
Dambaan untuk meraih mawaddah war-rahmah dalam bahtera rumah tangga hanya akan terwujud apabila isteri yang mendampingi hidupnya adalah wanita solehah. Kerana hanya wanita solehah yang dapat menjadi teman hidup yang sebenarnya dalam suka maupun duka, yang akan membantu dan mendorong suaminya untuk senantiasa taat kepada Allah Ta'ala. Dia akan berupaya ta‘awun dengan suaminya untuk menjadikan rumah tangganya bangunan yang kuat lagi kokoh, yang tidak mudah roboh oleh badai yang menerpanya.

Sabda Rasulullah SAW : 
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Sabdanya yang lain: ”Maukah aku khabarkan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Itulah isteri solehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi, si isteri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud).

Akhirnya, disampaikan suatu Doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk diucapkan kepada Pengantin :
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ
“Semoga Allah memberkahimu, dan semoga keberkahan atas kamu selamanya, serta menyatukan kamu sekalian dalam kebaikan.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Hendaknya Doa ini kita panjatkan pada saat selesai Akad Nikah (ijab kabul).

Dan ada satu Doa lagi yang hendaknya dibaca oleh Orang yang telah mendapatkan pasangan hidupnya :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا،
 وَشَرِّ مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (isteriku), dan kebaikan dari apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya (isteriku) dan keburukan dari apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.” (HR Abu Daud).

بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِى الْقُرآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِى
 وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
 وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّحِمِيْنَ

Demikianlah khutbah nikah yang wajar kita sampaikan kepada pengantin yang mungkin terdiri dari anak cucu atau saudara mara kita. ianya membantu mengingatkan kita juga tentang tanggung jawab dan peranan sebagai seorang insan berkeluarga. Semoga Allah senantiasa membimbing kita, agar dalam mengharungi kehidupan ini agar selalu mentaati kehendak Allah dan Rasul. Dan semoga pernikahan kedua mempelai, mendapat redha Allah, dan diberkati oleh-Nya, serta keduanya disatukan dalam kebaikan, amin.

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text