Social Icons

1

Featured Posts


Sila layari laman web SuaraMuhajirin313.com di server BARU...


Thursday, 4 February 2016

Pengarah Sentap Drama Cinta Teruna Kimchi Dilabelkan Drama Sampah

Drama Cinta Teruna Kimchi yang ditayangkan di TV3 baru-baru ini mendapat pelbagai kritikan daripada penonton sehingga ada yang melabelkan drama itu sebagai sampah.


Ini kerana ada yang berpendapat drama ini terlalu mengangkat cerita Korea sehingga ia menjadi ibarat karya asing didalam drama tempatan.

Bengang dengan komen negatif, pengarah drama tersebut Heykal Hanifah menganggap kritikan yang diberikan agak melampau dan menyifatkan mereka yang memberikan komen tersebut seumpama menghina agama.


Saya lihat, tindakan melabel drama ini seperti sampah amat keterlaluan sedangkan ia sebuah karya berpaksikan Islam. Apabila mereka berbuat demikian, orang itu seumpama menghina agama.

Ikutkan hati, saya enggan melayan komen sedemikian, tetapi saya rasa perlu untuk tampil memperbetulkan segala tanggapan salah itu. Sebaik-baiknya, pengikut drama tempatan menontonnya terlebih dulu dan jangan cepat menjatuhkan hukum.

Malah, ada yang kata, drama ini mengangkat cerita Korea, seolah-olah tiada kisah kita yang boleh diketengahkan. Padahal, 30 peratus saja daripada drama ini membabitkan elemen asing berkenaan.


Tambah Heykal lagi, ketika drama itu mula disiarkan 28 Januari lalu, ia turut menjadi ‘trending’ di Twitter kerana ada yang sudah boleh melihat drama tersebut sebenarnya mengangkat agama Islam sebagai tema utama dan menyelitkan sedikit unsuk K-Pop sebagai daya penarik untuk ramai lagi yang menonton Cinta Teruna Kimchi.


Sejujurnya kami masih belum berkesempatan untuk menonton drama Cinta Teruna Kimchi ni, tapi jika benar ia berkonsepkan tema untuk mengangkat agam Islam, kami rasa drama ini adalah medium terbaik untuk menarik perhatian ramai tentang agama. Ada sesiapa yang dah tonton drama ini? Mungkin boleh kongsikan sedikit pendapat anda.

Kisah Sufi Yahya Bin Mu’adz dan Hutangnya

Nama lengkapnya Abu Zakariya Yahya bin Mu’adz ar-Razi, beliau merupakan murid Ibnu Karram. Beliau lahir di kota Rayy, kemudian pergi bermusafir. Menetap di Balkh untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian ia pindah ke Nishapur, beliau meninggal dunia pada tahun 258 H/871 M di kota Nishapur. Sejumlah syair-syair diperkirakan sebagai basil karyanya.

Berikut ini adalah kisah Yahya bin Mu’adz dan Hutangnya

Yahya bin Mu’adz meminjam uang sebanyak seratus ribu dirham kepada seseorang, selanjutnya membaginya kepada orang-orang yang berjihad fi sabilillah, orang-orang yang berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, orang-orang miskin, yang menuntut ilmu dan juga kepada para sufi. Tidak lama kemudian, orang-orang yang meminjamkan uang tersebut menagihnya sehingga Yahya menjadi sangat gundah.

Suatu malam ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad saw berkata kepadanya,

“Yahya, janganlah engkau berdukacita, karena aku pun turut bersedih menyaksikan kegundahanmu itu. Bangun dan pergilah menuju Khurasan. Engkau akan bertemu dengan seorang perempuan yang telah menyisihkan tiga ratus ribu dirham untuk melunaskan hutang-hutangmu yang sebanyak seratus ribu dirham itu”.

“Ya Rasulullah“, seru Yahya, “di kota manakah dan siapakah perempuan itu?”

“Berjalanlah dari satu kota ke kota lain dan berkhotbahlah”, jawab Nabi. “Kata-katamu akan mendatangkan kesembuhan jiwa bagi ummat manusia. Seperti halnya aku menemuimu di dalam mimpi, maka akupun hendak menemui perempuan itu di dalam mimpi pula”.

Maka Yahya pun berangkat menuju Nishapur. Di depan kubah Masjid Nishapur dibangunlah mimbar sebagai tempat Yahya ber-khotbah.

“Wahai penduduk Nishapur”, Yahya berseru, “Aku datang kemari karena disuruh Nabi Muhammad saw. Ia katakan kepadaku. ‘Seseorang akan melunasi hutang-hutangmu’. Sesungguhnya aku punya hutang sebanyak seratus ribu dirham. Ketahuilah bahwa kata-kataku selalu mengandung keindahan, tetapi hutang ini telah menutupi keindahan tersebut”.

“Akan kusumbangkan uang sebesar lima puluh ribu dirham”, salah seorang dari hadirin menawarkan bantuan.

“Akan kusumbangkan uang sebesar empat puluh ribu dirham”, yang lainnya menawarkan pula.

Tetapi Yahya menolak sumbangan-sumbangan ini dengan dalih. “Nabi Muhammad saw. hanya mengatakan satu orang”.

Yahya kemudian memulai khotbahnya. Di hari pertama, tujuh mayat terpaksa diusung keluar dari khalayak ramai yang mendengarkan. Kemudian setelah menyadari bahwa hutangnya tidak akan terlunaskan di kota Nishapur, iapun meneruskan perjalanan ke kota Balkh. Di kota ini orang-orang menahan dirinya dan meminta agar ia mau memberikan khotbah. Untuk itu ia mendapatkan sumbangan sebesar seratus ribu dirham. Tetapi seorang syeikh di kota itu tidak senang kepada khotbah-khotbahnya karena mengira bahwa Yahya pecinta kekayaan.

Si Syeikh berkata. “Semoga Allah tidak memberkahinya!”.

Ketika meninggalkan kota Balkh perampok-perampok menghadang Yahya dan merampas semua uang yang dibawanya.

“Itulah akibat dari doa si syeikh”, orang-orang yang mendengar peristiwa perampokan itu berkata sesama mereka.

Yahya meneruskan perjalanannya ke Hirat, beberapa orang meriwayatkan, dengan melalui Merv. Dalam khotbahnya di kota Hirat inipun ia mengisahkan mimpinya itu. Puteri pangeran Hirat kebetulan mendengarkan dan mengirim pesan kepadanya.

“Wahai imam, janganlah engkau berkeluh-kesah lagi karena hutangmu. Pada malam Nabi berbicara kepadamu di dalam mimpi itu, ia telah berbicara pula kepadaku. Aku berkata kepadanya ‘Ya Rasulullah, aku akan pergi mencarinya . ‘Tidak usah, dia akan datang kemari mencarimu’ jawab Nabi. Sejak malam itu aku menanti-nantikanmu. Jika gadis lain hanya memperoleh tembaga dan kuningan maka ketika ayah menikahkan aku, aku memperoleh emas dan perak. Barang-barang perakku berharga tiga ratus ribu dirham. Semuanya akan kuserahkan kepadamu dengan syarat bahwa engkau harus berkhotbah di kota ini empat hari lagi “.

Yahya menyanggupi untuk memperpanjang khotbahnya selama empat hari lagi. Pada hari pertama, sepuluh mayat harus disingkirkan. Hari kedua, dua puluh lima mayat, pada hari ketiga ada empat puluh mayat, dan di hari yang keempat, tujuh puluh mayat. Pada hari yang kelima Yahya meninggalkan kota Hirat dengan membawa barang-barang perak sepenanggungan tujuh ekor unta. Ketika sampai di Balham, puteranya yang menemaninya membawa barang-barang itu berkata di dalam hatinya

“Apabila sampai di kota, semoga ayah tidak menyerahkan semua barang-barang ini dengan begitu saja kepada orang-orang tempat dia berutang dan kepada orang-orang miskin tanpa sedikit pun menyisihkan untuk diriku”.

Di waktu shubuh ketika Yahya menghadap Allah dengan menyentuhkan dahinya ke tanah, tanpa diduga-duga sebuah batu jatuh menimpa kepalanya.

“Berikan uang kepada orang-orang yang berpiutang kepadaku”, serunya, dan kemudian ia menemui ajalnya.

Orang-orang yang mengikut jalan Allah mengusung jenazah Yahya di bahu mereka dan membawanya ke Nishapur untuk dikuburkan di sana.

Kisah Karomah Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib

Dalam kitab Jami Karomatul Auliya, susunan Syeikh an Nabhani, memuat kisah-kisah karomah Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Sayidina Hamzah merupakan paman Nabi Muhammad saw yang syahid ketika perang uhud.

Selamat menyinyak kisahnya….

Kisah I

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Hamzah wafat dalam keadaan junub (belum suci dari hadas), lalu Nabi Muhammad Saw bersabda, “Malaikat telah memandikannya.” (HR Al-Hakim)

Hasan meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hamzah.” (HR Ibnu Sa’ad)

Kisah 2

Fatimah al-Khaza’iyyah bercerita, “Aku menziarahi makam sayidina Hamzah, lalu aku mengucapkan `Assalamu ‘alaika, wahai paman Rasulullah.’ Aku mendengar jawaban `Wa ‘alaikumussalam warahmatullah. ” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari AI Waqidi)

Diriwayatkan bahwa Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaikhani singgah di Madinah untuk menziarahi makam Sayidina Hamzah r.a. Sewaktu ia mengucapkan salam, terdengar jawaban salam dari makam Sayidina Hamzah dan perintah untuk menamai anaknya dengan nama Hamzah. Kemudian ia memiliki anak, maka ia menamainya dengan Hamzah. Ia juga meriwayatkan bahwa sewaktu ia mengucapkan salam untuk Nabi Muhammad Saw di hadapan pusara beliau, Nabi Muhammad Saw menjawab salamnya. Ia sungguh-sungguh mendengar jawaban salam itunya, tak diragukan sedikit pun. (Dikutip dari kitabAl-Bagiyah al-Shalihat karya Syaikh Mahmud al-Kurdi al-Syaihani)

Syaikh Abdul Ghani al-Nablusi menceritakan dalam uraiannya atas kitab Shalat al-Ghauts al Jailani, bahwa ia pernah bertemu dengan Syaikh Mahmud al-Kurdi di Madinah pada tahun 1205 H. Ia mengundang Syaikh Mahmud ke rumah, menjamu, dan memuliakannya. Syaikh Mahmud menceritakan kepada Syaikh ‘Abdul Ghani bahwa ia sering bertemu dengan Nabi Saw dalam keadaan terjaga dan Abdul Ghani mempercayainya setelah melihat tanda-tanda kejujurannya. Pembahasan tentang bertemu Nabi Saw dalam keadaan terjaga atau tidur sudah cukup saya (Yusuf bin Ismail An-Nabhani) kemukakan dalam kitab Sa`adatal-Darain fs al-Shalah `ala Sayyid al-Kaunaini.

Kisah 3

Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Dimyathi yang terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Abdul Ghani al-Bina’, seorang ulama yang mengamalkan ilmu syariah dan tasawuf (wafat di Madinah pada bulan Muharram 116 M.), bercerita, ‘Aku menunaikan ibadah haji bersama ibuku pada masa paceklik. Kami menunggang dua ekor unta yang dibeli di Mesir. Sesudah menunaikan haji, kami pergi ke Madinah, dan kedua unta itu mati di sana, padahal kami sudah tidak punya uang untuk membeli atau menyewa unta dari orang lain. Hal itu membuatku risau, karena itu aku pergi menemui Syaikh Shafiyyuddin al-Qusyasyi. Aku menceritakan keadaanku dan berkata, Aku beri’tikaf di Madinah, tetapi kemudian aku mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanan, sampai Allah memberi kelapangan.’ Syaikh Shafiyuddin diam sejenak, lalu berkata, `Pergilah sekarang juga ke makam Sayyidina Hamzah bin `Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw. Bacalah ayat-ayat Al-Qur’an yang paling mudah dan ceritakan keadaanmu dari awal hingga akhir, seperti yang baru kau ceritakan kepadaku, lakukan itu sambil berdiri di sisi makamnya yang mulia.’

Aku ikuti anjuran Syaikh Shafiyyuddin. Aku segera pergi pada waktu dhuha ke makam Sayyidina Hamzah. Aku membaca ayat-ayat AlQur’an, lalu menceritakan keadaanku seperti yang diperintahkan Syaikh Shafiyuddin. Aku segera kembali sebelum zuhur, lalu memasuki tempat suci Babu Rahmah. Aku berwudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba ibuku yang berada di dalam masjid berkata kepadaku, Ada seorang laki-laki menanyakanmu, temuilah dia!’ Aku bertanya, ‘Di mana dia?’ Ibu menjawab, `Lihatlah di ujung masjid.’

Aku menemui laki-laki yang mencariku. Sewaktu bertemu, ternyata ia seorang laki-laki berjenggot putih yang tampak disegani. Laki-laki itu menyapa, `Selamat datang Syaikh Ahmad.’ Aku sambut uluran tangannya, lalu ia berkata lagi, ‘Pergilah ke Mesir!’ Jawabku, ‘Tuan, dengan siapa aku pergi?’ Ia menjawab, ‘Pergilah bersamaku, aku akan menyewakan unta untukmu kepada seseorang.’

Aku pergi bersamanya hingga kami sampai di tempat singgah unta-unta jamaah haji asal Mesir di Madinah. Laki-laki berjenggot itu memasuki tenda salah seorang penduduk Mesir dan aku menyusul di belakangnya. Ia menghaturkan salam kepada penghuni tenda, pemilik tenda berdiri dan mencium kedua tangannya dengan sikap sangat hormat. Laki-laki berjenggot itu berkata kepada pemilik tenda, Aku ingin anda membawa Syaikh Ahmad ini dan ibunya ke Mesir.’

Pada tahun itu, unta sangat berharga karena banyak yang mati, dan menyewa unta cukup sulit. Pemilik tenda mengikuti kemauan laki-laki berjenggot itu. Lelaki berjenggot itu bertanya, Berapa Anda akan menarik ongkosnya?’ Pemilik tenda itu menjawab, ‘Terserah Tuan.’ Lelaki berjenggot berkata, ‘Sekian, sekian.’ Mereka berijab kabul dan lelaki berjenggot membayar uang sewa. Laki-laki berjenggot itu lalu berkata kepadaku, `Bangkitlah, pergilah bersama ibumu, dan bawa serta barang-barangmu.’ Aku berdiri, sementara ia duduk di samping pemilik unta, kemudian mendatangi keduanya dan mengadakan perjanjian untuk membayar sisa uang sewa setelah sampai di Mesir. Ia menyetujui perjanjian itu, membaca surah Al-Fatihah, dan memujiku.

Aku berdiri di samping lelaki berjenggot putih itu lalu pergi bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia berkata, `Masuklah dulu!’ Aku masuk dan menunggunya ketika waktu shalat tiba, tetapi aku tidak melihatnya. Berulang kali aku mencarinya, tetapi tidak menemukannya.

Lantas aku menemui orang yang menyewakan unta untukku dan bertanya tentang lelaki berjenggot putih itu dan tempat tinggalnya. Ia menjawab, Aku tidak mengenalnya dan belum pernah melihatnya sebelum ini. Tetapi ketika ia masuk ke tempatku, aku merasa segan dan hormat kepadanya, sesuatu yang belum pernah kurasakan seumur hidup.’

Aku kembali mencari lelaki berjenggot putih itu, tetapi tidak menemukannya. Maka aku pergi menemui Syaikh Shafiyyuddin Ahmad al-Qisyasyi r.a. dan menceritakan hal tersebut. Syaikh Shafiyuddin berkata, ‘Itu ruh Sayyid Hamzah bin Abdul Muthallib r.a. yang mewujud padamu.’

Lalu aku kcmbali rnenemui orang yang menyewakan unta kepadaku. Aku pulang ke Mesir bersamanya sebagai teman haji. Aku melihatnya sebagai seorang yang penyayang, mulia, dan berakhlak baik, belum pernah aku bertemu dengan orang seperti dirinya. Semua itu karena barakah dari Sayyidina Hamzah r.a. hingga kami bisa mengambil manfaat darinya. Segala puji hanya milik Allah atas semua yang terjadi.” (Cerita ini dikutip oleh Sayyid Ja’far bin Hasan al-Barzanji al-Madani dalam kitabnya Jaliyat al-Kurab bi Ashhab al-Ajam wa al-Arabi Sallallahu `alaihi Wasallama, sebuah kitab tentang memohon pertolongan melalui para sahabat yang mengikuti perang Badar dan Uhud, dari Al-Hamwi dalam kitabnya Nataij al-Irtihal wa al-Safar fi Akhbari ithli al-Qarni al-Hadi Asyara)

Kisah 4

Karamah Sayidina Hamzah yang lain adalah kisah yang diceritakan oleh Al-Marhum Abdul Lathif al Tamtami al-Malaki al-Madani berikut ini, “Syaikh Sa’id bin Qutb al-Rabbani al-Mala Ibrahim al-Kurdi pergi untuk menziarahi pemimpin para syahid, Sayidina Hamzah paman Rasulullah Saw, sebelum melakukan ziarah yang telah kami sepakati ke makam para syahid lain di Madinah pada tanggal 12 Rajab. Ia mempercepat perjalanannya ke makam Sayidina Hamzah agar bisa ikut berziarah bersama kami. 

Pada tanggal 12 Rajab, kami pergi ziarah dengan Syeikh Sa’id bin Qutb yang masih setengah mengantuk. Lalu kami istirahat di sebuah bangku bersandaran. Ketika gelap telah menyelimuti malam, teman-temanku tidur dan aku berjaga-jaga. Tiba-tiba aku melihat seekor kuda mengelilingi tcmpat yang sedang kami pakai beberapa kali, tetapi aku malas bangun untuk mengusirnya. Dalam hati aku berkata, `Sampai kapan ia berputar-putar?’ Aku bangkit, lalu berjalan ke arahnya dan bertanya, ‘Siapa kau?’ Kuda itu menjawab, `Sedang apa kamu? kamu singgah di wilayah perlindunganku dan menyakitiku karena kamu tidak tidur untuk berjaga jaga, padahal aku selalu menjaga kalian semua?-Aku Hamzah bin Abdul Muthalib.’ Kuda itu kemudian menghilang.”

Wednesday, 3 February 2016

Dunia Makin Rosak - Orang Bertaqwa Yang Perlu Menjadi Pemimpin

Banyak hal di dunia ini yang semakin rosak dan terus merudum ke bawah. Kerosakan dunia berpunca dari tangan-tangan manusia itu sendiri. Akhlak pula semakin punah ranah. Bagaimana membetulkan semuanya menjadi persoalan yang tidak ada yang tahu melakukannya. Pakar dalam memberi teori memang ramai tetapi apa bentuk pendekatan nya, tidak ada yang mampu menunjuk jalan.

Mungkin ramai yang menuding jari kepada pemimpin tetapi hakikatnya setiap kali jari telunjuk menuding pada orang lain, ada 3 jari yang lain menuding diri sendiri. Ramai yang mendakwa mereka yang benar sedangkan orang lain semuanya tak betul. Kalau dalam masyarakat atau negara, semuanya berebut hendak jadi pemimpin. 

Dahulu para sahabat Rasullulah SAW sangat takut jika dipilih menjadi seorang pemimpin, tetapi sekarang, ramai yang berlumba-lumba untuk menjadi pemimpin. Semua mengaku yang terbaik dan sanggup menjatuhkan lawannya dengan apa cara sekalipun!

Sabda Rasulullah SAW ketika baginda menyampaikan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat bercita-cita menjadi pemimpin, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Hadis Riwayat Bukhari).

Memilih pemimpin bukanlah perkara remeh, sebab calon yang dipilih itulah yang akan membawa slogan pemimpin rakyat untuk membuat dan menjalankan dasar-dasar yang menentukan nasib ribuan malah jutaan jiwa rakyat. Suka tidak suka, calon yang terpilih itulah yang akan menulis sejarah kemenangan Islam di tempat mereka.

Walau apapun sejarah itu masih tanda tanya besar, apakah akan dicatat dengan dakwat emas yang sentiasa dikenang sebagai zaman penuh gemilang atau dakwat hitam yang sentiasa dikutuk dengan kenangan hitam. 

Firman Allah dalam surah Al-Maidah: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang yang menjadikan agama kamu sebagai ejek-ejekan dan permainan dari orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum kamu dan orang-orang kafir musyrik itu: Menjadi penolong-penolong dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (ayat 57)

Dalam ayat ini kita dilarang daripada melantik orang yang mempersendakan agama samada dari golongan kafir atau Islam sebagai pemimpin. Orang Islam yang mempersendakan agama tidak boleh dilantik menjadi pemimpin. Pemimpin hendaklah seorang yang mempunyai rasa yang takut setakut-takutnya dengan Allah. Hanya pemimpin yang sebegini sahaja yang mampu menjaga agama Islam, mewibawakan sistem hidup Islam, membela umat Islam dan membawa kesejahteraan kepada negara

Yang berebut hendak jadi pemimpin kerana lambaian kesenangan untuk diri dan keluarga. Memang enak kalau jadi pemimpin jika itu tujuannya dengan nasib malang menunggu di hujung perjalanan. 

Yang mahu dicari, diikuti dan ditaati ialah pemimpin sejati mengikut Al Quran dan As Sunnah. Hanya orang pilihan sahaja yang mampu melaksanakan misi menjadi orang Allah dan Rasul di zaman yang mencabar ini. Tanggung jawab pemimpin sebegini sangat-lah berat. 

Justeru, walaupun sebenarnya para Nabi dan Rasul itu adalah pemimpin tetapi yang Allah bagi kuasa pemerintahan hanya 3 orang Rssul sahaja, Rasulullah saw, NAbi Daud a.s, dan Nabi Sulaiman a.s. Yang lainnya tidak Allah bagi kuasa, kerana pertanggungjawabannya sangatlah berat.

Malangnya di akhir zaman ini kerana sudah sangat jauh dari panduan Tuhan, sangat ramai  yang berhempas pulas mahu menjadi pemimpin. Tak dapat jadi MB, jadi pengerusi JKKK pun jadilah sedangkan amanahnya tak tertanggung.  

Hakikat menjadi pemimpin itu ialah 

1)  Kesanggupan lahir batin untuk menjadi Ayah yang bertanggungjawab kepada anak-  
     anaknya (orang bawahan atau rakyatnya).

2)  Kesanggupan lahir batin untuk menjadi Ibu sebagai tempat 'bermanja' untuk anak-  
     anaknya (orang bawahan atau rakyatnya).

3)  Kesanggupan lahir batin untuk menjadi guru yang bersungguh-sungguh mendidik dan  
     membimbing anak-anaknya (orang bawahan atau rakyatnya)? Didikan itu fokusnya    
     membawa hati mereka untuk takut Tuhan dan rindu Nabi SAW. Sanggupkah orang yang 
     berebut hendak jadi pemimpin itu menjadi lilin yang membakar dirinya demi menerangi 
     orang lain?

4)  Kesanggupan lahir batin untuk menjadi kawan setia yang bila-bila masa saja dapat 
     memberi pertolongan dan bantuan.

Jika direnung dengan rasa takutkan Allah, pasti tidak ada yang sanggup kerana semuanya akan disoal dan diselidik dari sehalus-halus perkara hingga hal yang besar-besar - dari soal yang tersembunyi atau disembunyikan di dunia kepada hal yang terang dan nyata!!

Sebab itu dulu Imam Syafii menolak tawaran menjadi menteri dan hanya (baca terpaksa) memilih jadi penasihat saja. Tidak ada kekurangan apa-apa pada Imam Syafii samada ilmu dan pengalaman malah ketaqwaannya sangat luar biasa. Ketakutannya yang luar biasa kepada Tuhan lah yang menjadikan ia menolak tawaran sedemikian. 

Dua Kisah Nyata Keajaiban Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW



Syariahcenter.com – Dua kisah berikut ini merupakan kisah nyata yang saya dapatkan dari Al Habib Jailani Asy-Syathiri kemarin, 26 Rabiul Awal 1437 atau 7 Januari 2015, di Rubat, Tarim, Yaman, pukul 06.30 waktu setempat.

Pertama, Habib Jailani bercerita 

Bahawa kisah yang ia sampaikan berasal dari Sayyid Muhammad al-Maliki dan Sayyid Muhammad dari ayahandanya Sayyid Alwi al-Maliki. Cerita bermula ketika Sayyid Alwi menghadiri peringatan Maulid Nabi di Palestina. Beliau terheran-heran menyaksikan orang yang terus berdiri sejak awal pembacaan maulid.

Sayyid Alwi pun memanggilnya, “Duhai tuan apa yang Anda lakukan, mengapa Anda berdiri sejak awal Maulid?”

Lalu ia menjawab bahawa dulu ia pernah berjanji saat menghadiri sebuah Maulid Nabi untuk tidak berdiri hingga acara selesai, termasuk saat Mahallul Qiyam, momen di saat jamaah berdiri serentak sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah. “Sebab menurutku itu bid’ah,” katanya.

Tiba-tiba, kata orang itu kepada Sayyid Alwi, pada momen Mahallul Qiyam ia menyaksikan Rasulullah hadir dan lewat di sebelahnya lalu berujar, “Kamu tak usah berdiri kamu duduk saja di tempatmu.”

“Aku pun ingin berdiri namun terasa susah. Sejak itulah aku sering sakit dan bahkan organ-organku bermasalah. Sehingga aku bernazar jikalau Allah menyembuhkan penyakitku maka aku berjanji setiap ada maulid aku akan berdiri dari awal maulid hingga akhir. Dan alhamdulillah, dengan izin Allah aku diberikan kesembuhan, duhai Sayyid.”

Sayyid Alwi pun mempersilakan orang tersebut melaksanakan nazarnya.


Kedua, kisah maulid Nabi yang datang dari Lebanon. 

Warga di Lebanon, biasa merayakan Maulid Nabi dengan menembakkan senjata api ke atas untuk menunjukkan kegembiraan. Tradisi ini dilakukan turun temurun. Hampir mirip dengan tradisi pernikahan di Arab pada umumnya. Nah, suatu ketika seorang puteri beragama Nasrani bani Ghatas ikut melihat perayaan tersebut. Nasib nahas menimpanya kala seorang dari mereka melepaskan tembakan. Peluru yang dilepaskan tersasar ke arah puteri tersebut dan menembus tepat di kepalanya.

Ia pun bersimbah darah dan jatuh ke tanah. Ibunya yang melihat kejadian itu berteriak histeris, “Binti… Binti… Binti…. (puteriku… Puteriku… Puteriku).”

Dengan segera anaknya dilarikan ke Rumah Sakit Ghassan Hamud. Sayang, pihak rumah sakit tak mampu berbuat apa-apa sebab pendarahan di otak terlalu parah. Mereka menyarankan agar segera dirujuk ke rumah sakit di Amerika yang lebih kompeten. Tapi ternyata kondisinya kian parah dan sudah di ambang ajal. Mereka pun tak bisa berbuat banyak.

Sementara ibunya kerana panik penuh kecewa dan marah dia menjerit-jerit dan berkata:
يا محمد أين أنت يا محمد، وأنت تدعى النبوة؟
 انظر ماذا فعل أمتك إلى بنتي في يوم احتفال مولدك؟

“Di manakah engkau, hai Muhammad yang mengaku sebagai Nabi? Lihatlah apa yang dilakukan umatmu kepada anakku pada perayaan hari kelahiranmu?”

Teriakan ini tentu dimaksudkan untuk menghendik Rasulullah SAW.

Doktor telah memastikan bahawa anaknya telah meninggal dunia dan ketua doktor di sana mempersilakan siibu untuk melihat anaknya untuk terakhir kalinya. Dengan lemas dan dipapah ibu Nasrani itu pun masuk ke ruangan.

Sebuah keajaiban terjadi. Ketika sang ibu sudah di dalam ruangan, dia melihat anaknya sedang duduk di tepi tempat tidur dalam kondisi segar bugar sambil berteriak, “”Ibu… Ibu… Ibu… Tutup pintu dan jendela ibu! Jangan biarkan ia keluar!”

Antara percaya dan tidak. Si ibu yang bingung lantas bertanya, “Siapa, duhai puteriku?”

Si ibu mendekati anaknya untuk memastikan bahawa kondisi puterinya itu baik-baik saja.

Allahu akbar! Sungguh sesuatu yang tidak masuk akal. Selain sehat bugar, percikan darah dan bekas luka tembakan di kepala puterinya itu pun sudah tidak. Bahkan tidak kesan apa-apa pun sama sekali seolah-olah tidak pernah berlaku apa pun musibah kecederaan kepada siputeri!!

“Puteriku, apa yang terjadi?”

Puterinya menjawab sambil tersenyum kegirangan, “Ibu.. Ibu… Dia datang menyapu mengusap kepalaku sambil tersenyum.”

“Siapa dia, Sayang?”

“Muhammad , Muhammad, Ibu,” jawab anak itu.

“Aku bersaksi duhai ibu bahawa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Ternyata, teriakan si ibu disambut oleh Nabi Agung Muhammad SAW. Beliau hadir dengan kelembutan dan memberikan cahaya penerang bagi kegelapan. Syahadat ini lalu diikuti para doktor yang menyaksikan peristiwa tersebut dan orang-orang di desa tempat puteri tersebut tinggal.

(Pengirim: Moh Nasirul Haq, Santri Rubat Syafi’ie Mukalla Yaman/ nuorid)

Tuesday, 2 February 2016

Apakah Ciri-Ciri Kesesatan Wahabi?


AQIDAH

1.Membahagikan Tawhid kepada 3 Kategori

(i)Tawhid Rububiyyah: Dengan tawhid ini, mereka mengatakan bahawa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tawhid.

(ii)Tawhid Uluhiyyah: Dengan tawhid ini, mereka menafikan tawhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh majoriti ulama’ Islam khasnya ulama’ empat mazhab.

(iii)Tawhid Asma’ dan Sifat: Tawhid versi mereka ini boleh menjerumuskan seseorang ke lembah tashbih dan tajsim

i. Menterjemahkan istawa sebagai bersemayam/bersila

ii. Merterjemahkan yad sebagai tangan

iii. Menterjemahkan wajh sebagai muka

iv. Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ‘ulya)

v. Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk

vi. Menterjemah nuzul sebagai turun dengan zat

vii. Menterjemah saq sebagai betis

viii. Menterjemah asabi’ sebagai jari-jari, dll

ix. Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai "surah" atau rupa.

x. Menambah bi zatihi haqiqatan [dengan zat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat, sedangkan penambahan itu tidak ada di dalam al-Qur'an dan al-Sunnah. Imam al-Zahabi sendiri mengkritik gurunya, Ibnu Taymiyyah berkenaan masalah ini di dalam Siyar A'lam al-Nubala' [Rujuk kitab yang ditahqiq oleh bukan Wahhabi kerana Wahhabi membuang kritikan ini dalam terbitan mereka] 

xi. Sebahagian golongan Mujassimah menyatakan bahawa Allah (Rujuk Kitab Ibthal al-Ta'wilat oleh Abu Ya'la al-Farra' yang telah diterbitkan semula oleh "tangan-tangan Tajsim dan Tashbih" - Penulis mempunyai buku seorang alim Al-Azhari yang mengarang kitab menolak kitab tersebut):
mempunyai gusi (اللثة) dan gigi gerham (الأضراس) 
akan "duduk" bersama Nabi Muhammad SAW di atas arash
mempunyai mulut (الفم)

2.Tafwidh yang digembar-gemburkan oleh mereka adalah bersalahan dengan tafwidh yang dipegang oleh ulama’ Asha’irah.

3.Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zahir tanpa huraian terperinci dari ulama’ mu’tabar

4.Menolak Asha’irah dan Maturidiyyah yang merupakan majoriti ulama’ Islam dalam perkara Aqidah

5.Sering mengkrititik Asha’irah bahkan sehingga mengkafirkan Asha’irah

6.Menyamakan Ashai’rah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mua’ththilah dalam perkara mutashabihat

7.Menolak dan menganggap pengajian sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek

8.Berselindung di sebalik mazhab Salaf

9.Golongan mereka ini dikenali sebagai al-Hashwiyyah, al-Karramiyyah, al-Mushabbihah, al-Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah

10.Sering menjaja kononnya Abu Hasan Al-Ash’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab Asha’irah

11.Mendakwa kononnya ulama’ Asha’irah tidak betul-betul memahami fahaman Abu Hasan al-Asha’ri, bahkan sering mendakwa kononnya mereka adalah pengikut Imam Abu al-Hasan al-'Ash'ari yang sebenar. Sungguh lucu dakwaan sebegini.

12.Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat

13.Sering mendakwa bahawa ramai umat Islam telah jatuh ke kancah syirik

14.Mendakwa bahawa amalan memuliakan Rasulullah SAW boleh membawa kepada syirik

15.Tidak mengambil berat kesan-kesan sejarah para anbiya’, ulama’ dan solihin dengan dakwaan menghindari syirik

16.Kefahaman yang salah berkenaan syirik sehingga mudah menghukum orang sebagai membuat amalan syirik

17.Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta solihin

18.Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai sebagai cabang-cabang syirik

19.Memandang remeh karamah para awliya’

20. Menyatakan bahawa ibu bapa dan datuk Rasulullah SAW tidak terselamat dari azab api neraka.

21. Mengharamkan mengucap "radiallahu anha" bagi ibu Rasulullah SAW, Sayyidatuna Aminah 

22. Menamakan Malaikat Maut sebagai 'Izrail adalah bid'ah - Fatwa Soleh Uthaymin


SIKAP

1.Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan mereka

2.Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak)

3.Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Quran dan hadis (walaupun tidak layak)

4.Sering memperlekehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.

5.Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.

6.Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu shazz (janggal).

7. Bersikap "taqiyyah" apabila dirasakan perlu. Fatwa mereka berbeza apabila bercakap di hadapan masyarakat umum dengan pengajian khusus bersama mereka.

8. Apabila mereka sedikit dan tidak berkuasa, mereka melaungkan slogan "Berlapang dada", namun apabila mereka ramai dan berkuasa mereka melaungkan slogan "Meghilangkan Bid'ah" [Sikap ini diambil berdasarkan kata-kata para ulama' Mekah yang memerhatikan sikap Wahhabi di Mekah sewaktu ia mula-mula berkembang sampai kini.]

9. Apabila mereka menerima tentangan daripada majoriti ulama', mereka menyatakan itu adalah asam garam dalam perjuangan. Sedangkan para ulama' menyatakan bahawa apabila sesuatu itu ditolak olej majoriti para ulama', maka itu adalah tanda-tanda kesesatan, kepelikan dan kejanggalan (shazz) atau ketergelinciran (zallah) kerana para ulama' umat Nabi Muhammad SAW tidak akan bersepakat di dalam kesesatan sepertimana yang disebut di dalam hadis Rasulullah SAW.


ULUM HADIS

1.Menolak beramal dengan hadis dhaif

2.Penilaian hadis yang tidak sama dengan ulama’ hadis yang lain

3.Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadis. Bahkan umum mengetahui bahawa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadis dan diketahui bahawa beliau belajar hadis secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].

4.Sering menganggap hadis dhaif sebagai hadis mawdhu’ [mereka melonggokkan hadis dhaif dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadis tersebut adalah sama]

5.Perbahasan hanya kepada sanad dan matan hadis, dan bukan pada makna hadis. Oleh kerana itu, perbincangan syawahid tidak diambil berat

6.Perbincangan hanya terhad kepada riwayah dan bukan dirayah.

ULUM QURAN

1.Menganggap tajwid sebagai menyusahkan dan tidak perlu (Sebahagian Wahhabi Malaysia yang jahil) [dan menurut sahabat penulis yang ada membuat penyelidikan di dalam bidang ini, sememangnya terdapat beberapa "ulama' Saudi" yang menyatakan tajwid itu bukanlah sunnah, tetapi bid'ah. Namun majoriti "ulama' Saudi" tidak bersetuju dengan kata-kata mereka].

2. Mendakwa ayat-ayat mutashabihat sebagai ayat muhkamat. 

FIQH

1.Menolak fahaman bermazhab kepada imam-imam yang empat; pada hakikatnya mereka bermazhab “TANPA MAZHAB”

2.Mengadunkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq yang haram

3.Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; kononnya mereka berittiba’

4.Sering mengungkit soal-soal khilafiyyah

5.Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah

6.Sering bercanggah dengan ijma’ ulama’

7.Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah bid’ah

8.Sering mendakwa orang yang bermazhab sebagai taksub mazhab, sedangkan mereka taksub kepada Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

9.Salah faham makna bid’ah yang menyebabkan mereka mudah membid’ahkan orang lain

10.Sering berhujah dengan al-tark, sedangkan al-tark bukanlah satu sumber hukum

11.Mempromosikan mazhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas terkeluar daripada fiqh empat mazhab]

12.Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tunaffiru” sehingga menjadi lebih parah daripada tatabbu’ al-rukhas

13.Sering mengatakan bahawa fiqh empat mazhab telah ketinggalan zaman


NAJIS

1. Sebahagian daripada mereka sering mempertikaikan dalil bagi kedudukan babi sebagai najis mughallazah

2. Menyatakan bahawa bulu babi itu tidak najis kerana tidak ada darah yang mengalir.


WUDHU DAN TAYAMMUM

1. Tidak menerima konsep air musta’mal

2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’

3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.

4. Kaifiyyat Tayammum yang mereka pilih ialah: Tepuk sekali dan sapu muka serta kedua pergelangan tangan sahaja (tanpa perlu sampai ke siku).


AZAN
1. Azan juma’at sekali; azan kedua ditolak


SOLAT

1. Mempromosi “Sifat Solat Nabi SAW’, dengan alasan kononnya solat berdasarkan fiqh mazhab adalah bukan sifat solat Nabi SAW yang sebenar

2. Menganggap lafaz usolli sebagai bid’ah yang keji

3. Berdiri secara terkangkang ataupun seperti huruf Y terbalik yang menyalahi konsep berdiri secara iktidal (lurus dan sederhana)

4. Tidak membaca ‘Basmalah’ secara jahar

5. Menggangkat tangan sewaktu takbir pada paras bahu

6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam

7. Menganggap perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat sebagai perkara bid’ah (sebahagian Wahhabiyyah Malaysia yang jahil)

8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah

9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah

10. Menganggap menyapu muka selepas solat sebagai bid’ah - Fatwa Soleh Uthaymin

11. Solat tarawih hanya 8 rakaat; yang lebih teruk lagi, mengatakan solat tarawih itu sebenarnya adalah solat malam (solatul-lail) seperti yang dibuat pada malam-malam biasa.

12. Zikir jahar di antara rakaat-rakaat solat tarawih dianggap bid’ah

13. Tidak ada qadha’ bagi solat yang sengaja ditinggalkan

14. Menganggap amalan bersalaman selepas solat adalah bid’ah - Fatwa Soleh Uthaymin

15. Menggangap lafaz sayyiduna (taswid) dalam solat sebagai bid’ah

16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tahiyyat awal dan akhir

17. Boleh jama’ dan qasar walaupun kurang dari dua marhalah

18. Memakai jubah dengan singkat yang melampau

19. Menolak sembahyang sunat qabliyyah sebelum Jumaat

20. Menolak konsep sembahyang menghormati waktu [li hurmah al-waqt] 

21. Menolak konsep fidyah sembahyang walaupun umum mengetahui ia adalah pendapat mazhab Hanafi dan pendapat dhaif di dalam mazhab Shafie.


DOA, ZIKIR DAN MEMBACA AL-QURAN

1. Menggangap doa beramai-ramai selepas solat sebagai bid’ah

2. Menganggap zikir dan wirid beramai-ramai selepas sembahyang atau pada bila-bila masa sebagai bid’ah

3. Mengatakan bahawa membaca “Sodaqallahul-‘azim” selepas bacaan al-Quran adalah bid’ah - Fatwa Ibn Baz 

4. Menyatakan bahawa doa, zikir dan selawat yang tidak ada dalam al-Quran dan Hadis sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khayrat, Selawat al-Syifa’, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll, bahkan dikatakan semua itu bertentengan dengan Aqidah Islam 

5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jumaat sebagai bid’ah yang haram - dengan alasan "Jangan diiktikadkan wajib" 

6. Mengatakan bahawa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat

7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah

8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah, tetapi kalau tidak berzikir atau lalai (al-ghaflah) tak mengapa pulak??!!! 

9. Menolak amalan ruqiyyah shar’iyyah dalam perubatan Islam seperti wafa’, azimat, dll

10. Menolak zikir isim mufrad: Allah Allah

11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram

12. Sering menafikan dan mempertikaikan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban

13. Sering mengkritik kelebihan malam Nisfu Sya’ban

14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah

15. Mempertikaikan kedudukan solat sunat tasbih

16. Berusaha mengharamkan wirid-wirid yang terkandung di dalam "Majmu' Sharif." 

17. Menyatakan bahawa mencium al-Quran adalah bid'ah terkeji - Fatwa Soleh Uthaymin


PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR

1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah SAW, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan solihin sebagai bid’ah dan solat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini

2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur

3. Menganggap talqin sebagai bid’ah

4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram

5. Tidak membaca doa’ selepas solat jenazah

6. Sebahagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah SAW dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik

7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram

8. Doa dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah


MUNAKAHAT

1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)


MAJLIS SAMBUTAN MAULID NABI

1. Menolak sambutan Mawlid Nabi; bahkan menolak cuti sempena hari Mawlid Nabi; bahkan yang lebih teruk lagi menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan Kristian bagi nabi Isa a.s.

2. Menolak amalan marhaban

3. Menolak amalan barzanji.

4. Berdiri ketika bacaan mawlid adalah bid’ah

5. Menolak sambutan Ma’al Hijrah, Isra’ Mi’raj, dll.

Haji dan Umrah

1. Cuba mengalihkan "Maqam Ibrahim a.s." namun usaha tersebut telah dipatahkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha'rawi apabila beliau pergi bertemu dengan Raja Faisal ketika itu.

2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam untuk dielak oleh orang yang bertawaf ketika bertawaf [Dengar khabar, sekarang tanda tersebut hendak dibuat semula] 

3. Mengubah tempat sa'ie di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama' Islam dari seluruh dunia [Terbaru - dan Khilafiyyah di antara para ulama' kontemporari].

4. Nama "Hajar Ismail" bagi bahagian sisi Ka'bah adalah bid'ah dan tidak harus - Fatwa Soleh Uthaymin


PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN


1. Ramai para professional menjadi ‘ustaz-ustaz’ mereka (di Malaysia)

2. Ulama’ yang sering menjadi rujukan mereka adalah:

a. Ibnu Taymiyyah

b. Ibnu al-Qayyim

c. Muhammad Abdul Wahhab [Perbezaan yang ketara di antara pendekatan Ibnu Taymiyyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab ialah: (i) Ibnu Taymiyyah tidak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dengan pedang dan kuasa, ini adalah berbeza dengan pendekatan Muhammad Ibn Abdul Wahhab; (ii) Ibnu Taymiyyah juga tidak bersepakat dengan bukan Muslim untuk menjatuhkan saudara Islamnya]

d. "Sheikh" Abdul Aziz Ibn Bazz

e. Nasiruddin al-Albani

f. "Sheikh" Soleh Ibn Uthaimin

g. "Sheikh" Soleh Fawzan al-Fawzan [Secara peribadi, penulis mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata sendiri di Madinah, Dr. Soleh Fawzan al-Fawzan, Rektor, Universiti Islam Madinah pada waktu tersebut menyatakan bahawa ulama' Al-Asha'irah dan al-Maturidiyyah bukanlah daripada "golongan yang terselamat dari api neraka" (al-firqah al-najiyah)."] 

3. Sering mewar-warkan untuk kembali kepada al-Quran dan Hadis (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Quran dan Hadis sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ jua yang memelihara al-Quran dan Hadis untuk umat ini)

4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumiddin”

5. Masih lagi menggunakan kitab al-Tawhid oleh Imam Ibnu Khuzaimah walaupun Imam al-Bayhaqi telah menyatakan bahawa Imam Ibnu Khuzaimah telah pun menarik semula dan bertaubat daripada penulisannya itu. Ini dinyatakan oleh Imam al-Bayhaqi di dalam Kitab al-Asma' dan al-Sifat. 


PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM

1. Bersepakat dengan Inggeris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Usmaniyyah

2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab turath yang tidak sehaluan dengan mereka

3. Ramai ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka

4. Memusnahkan sebahagian besar kesan-kesan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah saw, jannat al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah SAW di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakr dll, dengan hujah perkara tersebut boleh membawa kepada syirik.

5. Di Malaysia, sebahagian mereka dahulu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [kerana hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].

6. Antara nama/seruan yang pernah digunakan/dilaungkan oleh mereka di Malaysia dahulu ini ialah Ittiba’ Sunnah. Pihak Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Kali Ke-14 yang bersidang pada 22-23 Oktober 1985 telah pun mengeluarkan fatwa menyatakan kesesatan ajaran Ittiba’ al-Sunnah ini.



TASAWWUF DAN TAREQAT

1. Sering mengkritik aliran Sufi dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar

2. Sufiyyah dianggap sebagai terkesan dengan ajaran Budha dan Nasrani

3. Tidak dapat membezakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat


Perhatian:
Sebahagian daripada ciri-ciri di atas adalah perkara khilafiyyah. Namun sebahagiannya adalah bercanggah dengan ijma’ dan pendapat mu’tamad empat mazhab. Sebahagian yang lain adalah perkara yang sangat kritikal dalam masalah usul (pokok) dan patut dipandang dengan serius. Ini adalah sebahagian daripada ciri-ciri umum golongan Wahhabiyyah yang secara sedar atau tidak diamalkan dalam masyarakat kita. Sebahagian daripada ciri-ciri ini adalah disepakati di antara mereka dan sebahagiannya tidak disepakati oleh mereka. Ini adalah kerana di dalam golongan Wahhabiyyah ada berbagai-bagai pendapat dan mazhab dalam berbagai peringkat. Apatah lagi apabila setiap tokoh Wahhabiyyah cuba berijtihad dan mengenengahkan pendapat masing-masing sehingga sebahagiannya terpesong terlalu jauh dari aliran Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. 
 SAY NO TO THE WAHHABI!!!

KREDIT SUMBER
 

Sample text

Sample Text

Sample Text