Social Icons

Featured Posts


Sila layari laman web SuaraMuhajirin313.com di server BARU...


Saturday, 24 September 2016

Isu Riwayat Kewafatan Nabi SAW Menyebut Perkataan Ummati Ummati

Terlalu berlebihan mempermasalahkan kisah kewafatan Nabi SAW yang mengucapkan ummati, ummati. Seandainya tidak ada riwayat sahihnya tentang ucapan ini ketika menjelang wafat beliau, maka sungguh kehidupan beliau mulai sejak diutus menjadi Rasul hingga akhir hidup Baginda bahkan kelak di hari kiamat, beliau sangat khuatir dan sangat memperdulikan umatnya.

Bukankah Allah sendiri telah mensifati Nabi Muhammad dengan Harisun ‘alaikum bil mukminiina Ra'ufun Rahiim?? Tidakkah kamu merenungi ucapan yang menggetarkan hati dan jiwa yang membaca ucapan itu??

Mari kita renungi firman Allah Ta’ala berikut ini :

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman“. (QS: at-Taubah: 128)

Ibnu Kasir mengomentari ayat ini :
وقوله: { عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ } أي: يعز عليه الشيء الذي يعنت أمته ويشق عليها، { حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ } أي: على 
هدايتكم ووصول النفع الدنيوي والأخروي إليكم

“Ucapan, {berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami}, Nabi SAW begitu merasakan berat (susah) dengan kesusahan yang dialami umatnya. (dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu), maksudnya sangat menginginkan kalian mendapat petunjuk dan mendapatkan manfaat di dunia maupun di akhirat “.

Ayat ini sudah cukup menunjukkan bahawa Nabi SAW begitu merasakan khuatir dan peduli dengan umatnya sepanjang hidup Baginda bahkan kelak ketika di Mahsyar, Nabi  SAW pun akan sangat berusaha keras untuk menyelamatkan umat Baginda dari neraka. Untuk apa mereka mempermasalahkan riwayat “ummati, ummati“ ketika menjelang kewafatan Baginda? Tidakkah mereka percaya bahawa Nabi SAW begitu mengambil berat dan sangat bimbang atas nasib umatnya?? Bukankah nasihat mengenai solat di akhir usia Baginda juga menunjukkan betapa bimbangnya Baginda atas umatnya agar tidak meninggalkan solat, supaya umatnya bahagia dunia dan akhirat?? Ayat di atas sudah cukup menjelaskan sifat mulia Nabi dan kebimbangan Nabi SAW atas umatnya sepanjang hidup Baginda.

Hadis:
أنه صلى الله عليه وسلم قال لجبريل عند موته " من لأمتي بعدي " فأوحى الله تعالى إلى جبريل أن بشر حبيبي إني لا أخذله في أمته ، وبشره بأنه أسرع الناس خروجا من الأرض إذا بعثوا ، وسيدهم إذا جمعوا وأن الجنة محرمة على الأمم حتى تدخلها أمته . فقال " الآن قرت عيني

“Sesungguhnya Nabi bertanya kepada Jibril, “Siapa yang memperhatikan umatku setelah wafatku?“, maka Allah mewahyukan kepada Jibril untuk memberikan khabar gembira bahawa AKU (Allah) tidak akan melalaikan umatnya, dan berikan khabar padanya bahawa ia (Nabi) adalah manusia pertama (paling cepat) keluarnya dari kubur ketika hari kebangkitan dan pemimpin mereka di hari Mahsyar, dan sesungguhnya syurga itu haram atas umat-umat lainnya sebelum umat Muhammad memasukinya terlebih dahulu “, maka Nabi berkata, “Sekarang aku sudah tenang“. (HR. Ath-Thabrani)

Hadis ini memang sanadnya dhaif, namun hadis dhaif bukanlah hadis maudhu’ yang boleh dibuang begitu sahaja. Kerana adanya kecacatan perawinya yang tidaklah terlalu serius kecacatannya. Hadis ini pun boleh diamalkan dalam bab manaqib (kisah-kisah) sesuai pendapat jumhur ulama ahli hadis.

Dan tidak ada satupun ulama ahli hadis terdahulu yang menghukumkan hadits ini maudhu’. Oleh sebab itu al-Hafidz al-Iraqi mengatakan bahawa sanad ini dhaif.

Hadis di atas pun memiliki banyak syawahidnya diantaranya hadis :

إن الجنة حرمت على الأنبياء كلهم حتى أدخلها، وحرمت على الأمم حتى تدخلها أمتي

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Adi dan ini dihukumi gharib oleh ad-Daraquthni, sedangkan Albani menghukuminya hadits mungkar. Juga hadis berikut ini :

أنا أول الناس خروجاً إذا بعثوا، وأنا خطيبهم إذا أنصتوا، وقائدهم إذا وفدوا، وشافعهم إذا حبسوا، وأنا مبشرهم إذا يئسوا، لواء الحمد بيدي، ومفاتح الجنة يومئذ بيدي، وأنا أكرم ولد آدم يومئذ على ربي ولا فخر, يطوف علي ألف خادم كأنهم اللؤلؤ المكنون

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi yang beliau mengatakan: Ini Hadis Hasan Gharib.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahawasanya Sayyidina Ali berkata :

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر نفسه حرك شفتيه مرتين فالقيت سمعي يقول خفية امتي امتي فقبض 
رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الاثتثن من شهر ربيع الاول

“Sesungguhnya Rasulullah sallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hidup Baginda menggerakkan kedua bibirnya dua kali, lalu aku mendekatkan telingaku dan aku mendengar Nabi mengucapkan “Ummatku, ummatku“ secara perlahan, lalu wafatlah Rasulullah sallahu ‘alaihi wa sallam di hari Isnin bulan Rabi’ul Awwal “.

Dalam hadis sahih disebutkan bahawa ketika Nabi SAW selesai membaca surah Ibrahim ayat 36 dan surah al-Maidah ayat 118, maka Nabi SAW mengangkat kedua tangan Baginda dan mengucapkan :

اللهم أمَّتِي أمّتِي، وبكى فقال الله -عز وجل-: "يا جبريل، اذهب إلى محمد -وربك أعلم- فَسَلْه: ما يبكيك؟"، فأتاه جبريل فسأله، فأخبره رسول الله -صلى الله عليه وسلم- بما قال-وهو أعلم- فقال الله: "يا جبريل، اذهب إلى محمد فقل: إنا سنرضيك في أمتك ولا نسوءك

“Ya Allah, umatku, umatku..dan Nabi menangis. Maka Allah berkata, “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – Dan Tuhanmu Maha Mengetahui – dan tanyakan padanya apa yang menyebabkannya menangis? maka Jibril mendatanginya dan menanyakannya, maka Rasulullah sallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang telah diceritakan, maka Allah menjawab : “ Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah, “ Sesungguhnya Kami akan meridhai umatmu, dan tidak akan berbuat buruk pada umatmu “. (HR. Muslim)

Perhatikan hadits sahih ini, sangat menunjukkan bahawa Nabi sallahu ‘alaihi wa sallam begitu cinta dan perhatiannya kepada umatnya, Baginda tidak rela umatnya celaka di dunia mahupun di akhirat kelak. Beliau menyebut “ ummati “ dua kali. Renungi, dan resapi seruan dan doa Nabi tersebut dalam diri kita, bayangkan Baginda menyebut nama kita dua kali….tidakkah engkau merasakan seruan lisan mulia seorang Nabi yang berdoa dan memohon kepada Allah agar kita sebagai umatnya diselamatkan dari neraka Allah?? sungguh kita khuatir mereka yang mempermasalahkan riwayat “ummati, ummati“ menjelang kewafatan Nabi, dicabut rasa cinta dan rindunya kepada Nabi, Allahumma nas’alukal ‘afwa wal ‘afiyah…

Ditulis Oleh: Ustazah Shofiyyah An-Nuuriyah

Kerajaan Allah


Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman :
(*1. Hadits seperti ini disebut hadits qudsi, yaitu hadits yang maknanya dari Allah dan redaksinya dari Rasulullah saw.):

Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.

Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah.

Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan.

Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian.

Wahai hamba-Ku, kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku.

Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun .

Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga.

Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Riwayat Muslim)

—————
Hikmah hadits :

Sudah sangat jelas, ketika kita berucap “Allohu Akbar”, Allah lah sang pemilik dan pembuat skenario semua yang ada di alam ini. Manusia itu sangatlah kecil, tak berdaya dan tak punya apa-apa. Semua milik Allah sang pencipta. Manusia mau berbuat sedurhaka-durhakanya, tidak akan mengurangi kemuliaan Allah sedikitpun. Mudah-mudahan, Hadits Qudsi ini mengingatkan kita, siapa kita dan kepada siapa kita akan kembali. 

KREDIT SUMBER:
https://nizarnitisara.wordpress.com/2009/08/27/hadits-qudsi-keagungan-allah/

Tuesday, 6 September 2016

Ibadah Korban - Upah Penyembelih

Upah Penyembelih dan Petugas Korban

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Dari Ali ia berkata; "Aku disuruh Rasulullah SAW mengurus penyembelihan haiwan korban, menyedekahkan daging dan kulitnya, serta mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan korban. Tetapi aku dilarang oleh baginda mengambil upah untuk tukang potong dari haiwan korban itu. Maka untuk upahnya kami ambilkan dari wang kami sendiri." HR Muslim No : 2320 (Status : Hadis Sahih)

Pengajaran:

1.  Daging serta apa sahaja daripada binatang korban hendaklah disedekahkan kepada yang berhak seperti fakir miskin.

2.  Memberi daging korban kepada penyembelih atau pelapah atau petugas sebagai upah hasil kerja yang mereka lakukan adalah termasuk juga dalam hukum jual beli, iaitu menjual daging untuk membeli tenaga kerja yang dilarang. 

3.  Imam an-Nawawi ketika mengulas hadis itu menyatakan dalam Syarh Sahih Muslim: “Hadis ini meminta agar kita tidak memberikan kepada penyembelih dan pelapah bahagian dari sembelihan korban kerana jika diberi kepadanya sebagai ganjaran kepada pekerjaannya sama ertinya dengan menjual satu juzuk darinya. Ini adalah tidak dibolehkan” (9/435 Cetakan Dar al-Khair, Beirut).

4.  “Telah sepakat al-Imam al-Syafi`i dan tokoh-tokoh mazhab al-Syafi`i bahawa tidak boleh sedikit pun dari sembelihan semasa haji dan `umrah dan sembelihan korban dijual. Sama ada ia korban nazar atau sunat. Hal ini termasuk daging, lemak, kulit, tanduk, bulu dan sebagainya. Tidak boleh pula kulit atau selainnya dijadikan upah untuk penyembelih ..”(8/419-420. Beirut: Dar al-Fikr)

5.  Hadis - bukan melarang memberikan upah kepada para penyembelih atau pelapah. Larangan hanya jika upah itu diambil dari bahagian korban – boleh upah itu berbentuk wang atau selainnya yang tidak dari bahagian korban - kerja dan tenaga seseorang itu patut dibayar upah.

6.  Saidina Ali menyebut: Maka untuk upahnya (penyembelih dan pelapah), kami ambil dari wang kami sendiri. 

7.  “Jika diberi kepada penyembelih dari apa yang dikorban disebabkan kemiskinannya atau sebagai hadiah kerana dia jiran dan sebagainya, maka ini tidak mengapa“. (juz. 3/ m .s.633. ctk. Dar al-Fikr, Damsyik.)

Justeru itu, diingatkan kepada para petugas korban, JANGAN sekali-kali mengambil sendiri bahagian dari sembelihan korban sebagai habuan seperti kaki, kepala, ekor dan lain-lain melainkan yang dihadiahkan oleh orang yang berkorban atau yang diterima seperti agihan kepada penerima lain yang layak.

Oleh itu marilah kita bersikap RAHMAH sebagai petugas, penyembelih juga pelapah dalam melaksanakan ibadah korban.

Saturday, 3 September 2016

Surat Terakhir Seorang Banduan Kepada Ibunya

IBU…,

Sekiranya terdapat LEBIH keadilan di dunia ini, kita berdualah yang seharusnya dihukum bunuh, dan bukan hanya saya seorang. Ibu juga bersalah ke atas liku kehidupan yang saya jalani.

INGATKAH IBU ketika saya mencuri basikal milik seorang budak lelaki yang sebaya saya? Ibu yang membantu saya menyorokkan basikal itu dari pengetahuan ayah.

INGATKAH IBU ketika saya mencuri wang dari dompet jiran kita? Ibu juga yang pergi bersama saya ke sebuah pasaraya untuk membelanjakannya.

INGATKAH IBU ketika saya bertengkar dengan ayah dan kemudian ayah pergi meninggalkan kita? Ayah sekadar mahu memperbetulkan diri saya kerana perbuatan saya mencuri keputusan akhir sebuah pertandingan yang menyebabkan saya dibuang sekolah.

IBU…

KETIKA ITU saya hanyalah seorang kanak-kanak, yang tidak lama selepas itu saya menjadi seorang remaja yang bermasalah. Dan sekarang, saya hanyalah seorang lelaki yang rosak.

KETIKA ITU saya hanyalah seorang kanak-kanak yang memerlukan pembetulan, bukannya keizinan (untuk berbuat kerosakan).

TETAPI, SAYA TETAP MEMAAFKAN IBU….

Saya mohon agar surat ini sampai kepada seberapa banyak ibubapa di dunia ini, agar mereka tahu yang menjadikan seorang anak itu baik atau jahat adalah… PENDIDIKAN IBUNYA!!!.

Terima kasih ibu kerana MEMBERIKAN ‘nyawa’ kepada saya dan juga menyebabkan saya KEHILANGANNYA.

Dari anakmu,
(Seorang Banduan Hukuman Mati)
***********************************************

PELAJARAN BUAT IBUBAPA

Perkara paling sukar dalam usaha memperbetulkan masyarakat sekarang ini ialah untuk membuatkan seorang ibu SEDAR akan kesilapan diri mendidik anaknya. Lebih sukar lagi untuk menerima teguran tentang tabiat buruk yang telah berlaku pada anaknya sekalipun bukti terang nyata di depan mata.

Tiada guna adanya ayah yang tegas dan bijaksana sebagai ketua keluarga jika si ibu tidak telus dan tulus merujuk dan berkongsi maklumat mengenai perkembangan anak-anaknya. Apabila sedar, keadaan sudah terlambat…. “Rebung sudah menjadi buluh”.

Lebih sulit lagi jika si Ayah juga jenis yang tidak ambil kisah. Hal ehwal keluarga dan urusan anak-anak diserahkan kepada isteri semata-mata. Urusan mencari rezeki dan persekolahan anak semuanya si ibu uruskan. Apabila anak bermasalah, mencuri, merempit, merogol, hisap dadah bahkan dilokap polis pun minta isteri juga yang uruskan.

Ramai sekali suami yang hanya tahu meniduri isteri sahaja. Lebih berat lagi jenis yang hari-hari minta duit isteri dan asyik keluar bersama rakan-rakan sampai ke tua. Ada pula yang kaki joli, ketagihan dadah, arak dan judi. Ada pula yang hanya mahu mencukupkan quota poligami sahaja. Kemudian dikuda pula semua isteri yang ada untuk turut ‘membaiayai’ dirinya. Hidup tidak ubah seperti ‘jantan sewaan’ sahaja.

Ada ibu yang berjaya melepasi ujian ini. Ada pula yang terpaksa membiarkan bukan sahaja anak, malah diri sendiri untuk ikut mencuri. Mungkin dia ‘terpaksa’ kerana itu sahaja punca nafkah buat mereka.

Apapun, perlu diingat bahawa tugas utama ibu adalah mendidik anak. Jika berjaya ibu melangkah ke syurga, maka jejak yang sama jugalah bakal diikuti oleh anaknya. JEJAK KAKI IBU itulah yang menjadi hakikat di sebalik ungkapan, “syurga itu di telapak kaki ibu”. Kisah Siti Hajar dan Ismail a.s. adalah antara contohnya.

Jika ibu sampai bersikap degil dan mungkar, maka jejak yang sama jugalah bakal ditiru oleh anak-anaknya. Kisah isteri dan anak-anak Nabi Noh a.s. adalah rujukannya.

Semuga kisah pendek ini ada motivasinya buat ibubapa 

Thursday, 1 September 2016

Untung Ramainya Anak!!!

Semalam saya berkesempatan menghadiri majlis pengkebumian datuk saudara sebelah ayah di Taiping, Perak..kami sampai betul2 waktu keranda jenazah sedang diusung ke Tanah Perkuburan..kebetulan rumah Allahyarham tak jauh dari tanah perkuburan jadi kerandanya dipikul oleh anak2 dan cucu lelakinya yang sememangnya ramai..
.
Saya terpanggil untuk berkongsi apa yang saya rasa dan saya lihat..sy akui sy menagis smlm bukan sbb terlalu sedih meratapi pemergiannya..tp sayu melihat betapa bertuahnya Allahyarham berbanding sy dan kita semua..Allahyarham punya 6 orang anak lelaki dan 4 orang anak perempuan..bilangan yang agak besar bg kita..
.
Ada org takut beranak ramai, banyak kali sy dgr kononnya biar kuantiti sikit tapi berkualiti..tp apa yang sy lihat semalam mengubah 360° pemikiran sy sebelum ini..bayangkan bukan setakat urusan memandi, mengkafan, mengimamkan solat jenazah si ayah..malah menurunkan ke liang lahat hatta talkin juga dibaca oleh anak Allahyarham sendiri..mereka seolah tahu peranan masing2..sambil sebahagian anak dan cucu menguruskan pengkebumian, beberapa anak sempat bertahlil sementara jenazah ayahnda mereka selamat dikebumikan..
.
Usai jenazah ditanam, anak yg bertahlil berhenti dan salah seorang anak pula mengambil alih membaca talkin..bayangkan talkin di baca dgn menyebut "Wahai ayahku ....."  keadaan hiba bila kesemua 6 orang anak lelaki Allahyarham menitis air mata waktu bacaan doa dibacakan..sy dapat rasakan betapa tersenyumnya roh Allahyarham bila melihat kesemua urusan di pengakhiran perjalanan hidupnya dilakukan oleh darah dagingnya..
.
Benarlah jika anak dibesarkan dengan agama..segalanya sangat sempurna..mereka bukan sahaja berjaya dari segi akademik tapi juga sahsiah dan ilmu akhirat..betapa saya teringin dan sy harap semua yang membaca kisah ini juga teringin melalui pengalaman ini..
.
Sekarang sy lebih faham kenapa Islam menyebut 3 amalan yang dibawa selepas mati selain SEDEKAH JARIAH dan ILMU YANG BERMANFAAT adalah DOA ANAK YANG SOLEH..kerana 3 perkara ini lah yang sepatutnya kita jadikan panduan dalam kehidupan sebagai seorang yang bergelar ayah dan ibu..
.
Hanya jika kita berjaya menjadikan anak2 kita anak yang soleh sahaja yang mampu menyampaikan amalan dan doa sebagai bekalan pencen kubur kita di sana..bukan anak yang berjaya di dunia sahaja tp dgn ayah ibu sendiri mereka tak mampu hormati apa lagi punya sahsiah yang baik..
.
Kita masih mampu mengubah untuk jadi ibubapa yang baik dan berusaha menjadi anak yang baik dan soleh untuk ayah dan ibu kita..selagi Allah masih sudi pinjamkan nikmat untuk kita bernafas dan meneruskan hidup..moga Allah merahmati hidup kita semua..in sya Allah..

Tuesday, 30 August 2016

Sejarah Pemerintahan Sultan Muhammad Al Fateh

MUHAMMAD AL-FATIH


Muhammad II (Bahasa Arab: محمد الثانى) juga dikenali dengan Muhammad al-Fatih kata terbitan dari fath(الفاتح) seperti surah al fatihah beerti surah pembukaan atau "Pembuka yang besar" dilahirkan pada 30 Mac 1932 di Edirne dan meninggal dunia pada 3 Mei 1481 di Hünkârcayırı, berdekatan Gebze. Bapa baginda adalah Sultan Murad II (1404–51) ibu baginda Huma Hatun, anak perempuan Abd'Allah dari Hum. Baginda adalah Sultan yang memerintah Empayar Uyhmanidalam masa singkat iaitu dari tahun 1444 ke 1446 dan kemudian dari tahun 1451 ke 1481.

Muhammad al-Fatih merupakan seorang sultan yang mementingkan kekuatan dalaman dan luaran para tenteranya. Bginda mempunyai kepakaran dalam bidang ketenteraan, sanis, matematik dan menguasai enam bahasa ( bahasa Turki, Greek, Hebrew, Arab, Parsi dan Latin ) pada ketika berumur 21 tahun. Malah, pada usia tersebut juga baginda menakluk Constantinople yang membawa kepada kehancuran Empayar Byzantie.Baginda merupakan seorang pemimpin yang hebat, warak dan tawaduk selepas Sultan Salahuddin Al-Ayubbi(pahlawan Islam dalam Perang Salib) dan Sultan Saifuddin Muzaffar Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain Jalut menentang tentera Moggol). Malah sifat-sifat baginda dan tenteranya telah diisyaratkan oleh Rasulullah S.A.W

"Constantinople akan ditakluki oleh tentera Islam. Rajanya (yang menakluk) adalah sebaik-baik raja dan tenteranya (yang menakluk) adalah sebaik-baik tentera"

KELEBIHAN MUHAMMAD AL-FATIH MENGIKUT SEJARAH

Seorang Sahabat Rasullullah S.A.W, Abu Ayub Al Ansari pernah mengikuti ekspidisi perang menentang tentera Rom di Constantinople ketika di zaman kerajaan Bani Umaiyyah . Beliau ingin jasadnya dikuburkan di tembok Constantinople dan ketika ditanya mengapa beliau ingin dikuburkan ditembok tersebut, beliau berkata kepada panglima Bani Umaiyah: "Aku mendengar baginda Rasulullah S.A.W mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentera seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda."

JASA DAN SUMBANGAN

Kejayaan baginda dalam menewaskan tentera salib menyebabkan ramai kawan dan lawan kagum dengan kepimpinan beliau serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Baginda merupakan anak didik Syeikh Syamsuddin yang mana merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Antara sumbangan baginda adalah menakluk Constantinople yang juga menyebabkan berakhirnya Empayar Byzantine. Baginda jugalah yang menukar nama Constantinople kepada Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah ditukar oleh Mustafa Kamal Ataturk kepada Istanbul . Di atas jasanya, Masjid Al Fatih telah dibina bersebelahan makamnya.

Diceritakan bahawa para tentera Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih sajalah yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hinggalah ke saat baginda meninggal dunia.

RENTETAN PENAKLUKAN CONSTANTINOPLE

Jihad untuk menawan Constantinople

Semangat membara umat Islam untuk menguasai Constantinople berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang telah beberapa kali memberikan khabar gembira tentang pembukaan kota ini di tangan umat Islam seperti yang dinyatakan ketika Perang Khandak . Sabda baginda SAW: ”Sesungguhnya Costantinople itu pasti akan dibuka. Sebaik-baik ketua adalah ketuanya, dan sebaik-baik tentera adalah tenteranya”.

Pada awal kurun ke-14M, Empayar Uthmaniyyah telah mengadakan persepakatan bersama Seljuk Rum yang ketika itu berpusat di bandar Konya. Usaha awal dilakukan oleh Sultan Yildrim Beyazid yang berjaya mengepung kota itu pada tahun 1393M. Akan tetapi, usahanya terbantut dengan kedatangan bantuan Eropah dan dalam masa yang sama, tentera Monggol di bawah pimpinan Timurlane telah menyerang Empayar Uthmaniyyah. Ini memaksa Sultan Beyazid untuk menarik balik tenteranya bagi mempertahankan negara dari serangan Mongol. Dalam perang dengan Mongol yang dikenali Perang Ankara, baginda telah ditawan dan kemudiannya meninggal dunia pada tahun 1402M. Kejadian itu telah menyebabkan usaha untuk menawan Costantinople terhenti untuk beberapa ketika.

Cubaan Sultan Murad II

Sultan Murad II (1421-1451M) meneruskan usaha untuk menawan Costantinople. Beberapa usaha telah berjaya dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama berlaku pengkhianatan di pihak umat Islam. Mahajara Byzantine telah mengambil peluang ini untuk memecah belahkan tentera Islam. Usaha Sultan Murad II itu tidak berjaya sampai ke sasarannya sehinggalah di zaman anak beliau, Sultan Muhammad II atau dikenali dengan nama Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Empayar Uthmaniyyah.

Persiapan Sultan Muhammad al-Fatih

Sultan Muhammad Al-Fatih telah membuat persediaan rapi untuk menawan Costantinople. Baginda telah mengumpul kira-kira 250,000 tentera yang bersemangat dan cukup latihan. Baginda juga telah membina Kota Rumeli (Rumeli Hisari) di tebing Selat Bosphorus iaitu di bahagian tersempit antara tebing Asia dan Eropah. Kota ini, mempunyai peranan yang besar dalam usaha mengawal lalu lintas di selat tersebut. Maharaja Byzantine telah berusaha gigih untuk menghalang Sultan Muhammad Al-Fatih daripada membina kota berkenaan tetapi gagal menghalangnya.

Sultan Muhammad Al-Fatih juga mendapat khidmat pakar membina meriam. Beberapa meriam telah dibina termasuk Meriam Diraja yang masyhur dan terbesar di zaman berkenaan. Baginda juga menyediakan kira-kira 400 buah kapal laut untuk tujuan yang sama.

Sebelum serangan dibuat, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mengadakan perjanjian dengan musuh-musuh yang lain. Antaranya ialah perjanjian yang dibuat dengan kerajaan Hungary , Venice dan Galata yang berjiran dengan Byzantine.

Dalam pada masa yang sama, Maharaja Byzantine berusaha mendapatkan pertolongan daripada negara-negara Eropah. Baginda memohon pertolongan dari gereja Katholik , sedangkan ketika itu kerajaan Constantinople bermazhab Ortodoks . Demi mengekalkan kuasanya, Maharaja Byzantine bersetuju untuk menukar mazhab untuk menyatukan kedua-dua aliran yang saling bermusuh itu. Baginda berkhutbah di Gereja Aya Sofya menyatakan kesediaan Byzantine tunduk kepada Eropah Barat yang bermazhab Katholik. Hal ini telah menimbulkan kemarahan penduduk Costantinople yang bermazhab Ortodoks.
Serangan

Costantinople dikelilingi oleh lautan dari tiga penjuru iaitu Selat Bhosphore, Lauan Tanjung Emas, Marmara dan Perair yang dihalang pintu masuknya oleh rantai besi raksasa. Ia berfungsi menghalang kapal daripada masuk ke pintu utama Kota Costantinople.

Serangan Sultan Muhammad bermula pada 6 April 1453 . Baginda dengan bijak menyusun strategi mengepung Constantinople sambil menghalakan Meriam Diraja ke pintu kota. Kapal-kapal laut diletakkan di sekitar perairan yang mengelilingi Costantinople tetapi tidak berjaya memasuki perairan Tanjung Emas disebabkan oleh kehadiran rantai raksasa yang mengawal pintu masuk.

Jatuhnya Constantinople

Tentera Byzantine berusaha keras menghalang tentera Uthmaniyyah daripada merapati pintu-pintu masuk kota mereka. Tetapi serangan strategik tentera Islam telah berjaya mematahkan halangan itu, ditambah pula dengan serangan meriam dari pelbagai sudut.

Sultan Muhammad Al-Fatih telah menemui satu kaedah luar biasa untuk membawa kapalnya masuk ke perairan Tanjung Emas yang dikawal dengan rantai raksasa. Baginda telah memanggil tenteranya dan menyarankan kepada mereka supaya membawa kapal-kapal itu masuk ke perairan Tanjung Emas melalui jalan darat. Malam itu juga, tentera Uthmaniyyah telah berjaya menarik 70 kapal dari pantai.

Akhirnya pada 29 Mei, Constanstinople berjaya ditundukkan. Maharaja Constantine X1 mati bersama penyokong baginda dareni Genoa dan penduduk kota. Muhammad II dikenali sebagai Sultan Muhammad al-Fatih atau di barat sebagai Muhammad si Penakluk.
Kesan peristiwa

Kehilangan Constantinople memberi tamparan hebat kepada kerajaan Kristian barat. Seruan Paus untuk melancarkan perang balas sebagai Perang Salib tidak diendahkan oleh raja-raja Eropah. Ini menyebabkan paus sendiri pergi untuk berperang tetapi kematian awal paus melenyapkan harapan serangan balas.

Muhammad al-Fatih mendapat sebuah kota yang agung walaupun dalam keadaan teruk kerana perang yang berlanjutan. Constantinople membolehkan bangsa Turki mengukuhkan kedudukan mereka di Eropah serta meluaskan wilayah mereka ke Balkan dan Mediterranean.

Selain faedah ketenteraan, kota itu juga memberi faedah ekonomi melalui perdagangan rempah. Bangsa Eropah terus berdagang di Constantinople sehingga abad ke-16 apabila harga yang tinggi memaksa mereka mencari alternatif lain. Bangsa Eropah seperti Portugal, Sepanyol dan belanda mula belayar ke India dan Asia untuk mencari bekalan rempah yang lebih murah. Malah, Christopher Columbus juga menjumpai dunia baru apabila bangsa Eropah mula memberanikan diri belayar jauh untuk menjalankan perdagangan.

Sumber: www.wikipedia.com CAWA

Panduan Umum Daripada Nabi Saw Tentang Kesempurnaan Agama

- HADIS TERUNGGUL -

Daripada Saidina Khalid bin Al-Walid RA berkata:
“Telah datang seorang Arab Baduwi kepada Rasulullah SAW dan dia menyatakan tujuannya:

Wahai Rasulullah...!
Kedatanganku untuk bertanya engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku didunia dan akhirat.”

Rasulullah berkata kepadanya:
“Tanyalah apa yang engkau kehendaki.”

1.  Arab Baduwi itu berkata:
      Aku mahu menjadi orang alim.

Baginda menjawab:
"Takutlah kepada Allah SWT"

2.   Dia bertanya lagi:
       “Aku mahu menjadi orang paling kaya.”

Rasulullah menjawab:
“Jadilah orang yang yakin pada diri.”

3.  Bertanya lagi Arab Baduwi itu:
       “Aku mahu menjadi orang yang adil.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah:
“Kasihanilah manusia lain seperti engkau kasih pada diri.”

4.  Dia bertanya:
      “Aku mahu menjadi orang paling baik.”

Baginda menjawab:
“Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat.” 

5.  Dia bertanya lagi:
“Aku mahu menjadi orang istimewa di sisi Allah.”

Dan dijawab oleh Rasulullah:
“Banyakkan zikrullah.”

6.   Arab Baduwi itu bertanya:
“Aku mahu sempurnakan imanku.”

Baginda menjawab:
“Perelokkan akhlakmu.”

7.  Dia bertanya lagi:
“Aku mahu termasuk dalam golongan orang yang muhsini (baik). “

Baginda menjawab:
Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak berasa begitu, sekurang-kurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau.”

8.   Arab Baduwi bertanya lagi:
“Aku mahu termasuk dalam golongan yang taat,”

Lalu dijawab baginda:
“Tunaikan segala kewajipan yang difardukan.”

9.   Dia bertanya lagi:
“ Aku mahu berjumpa Allah dalam keadaan bersih daripada dosa.”

Rasulullah menjawab:
“Bersihkan dirimu daripada najis dosa.”

10.  Dia terus bertanya:
“Aku mahu dihimpun pada hari kiamat di bawah cahaya.”

Baginda menjawab:
“Jangan menzalimi seseorang.”

11.  Dia bertanya lagi:
“Aku mahu dikasihi oleh Allah pada hari kiamat.”

Baginda berkata:
“Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain.”

12.  Dia bertanya:
Aku mahu dihapuskan segala dosaku.”

Baginda menjawab:
“Banyakkan beristighfar.”

13.  Dia berkata:
“Bagaimana pula aku mahu menjadi semulia-mulia manusia,”

Lalu baginda menjawab:
“Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain.”

14.  Dia bertanya:
“Aku mahu menjadi segagah-gagah manusia.”

Baginda menjawab:
“ Sentiasa menyerah diri (tawakal) kepada Allah.”

15.  Dia bertanya lagi:
“Aku mahu dimurahkan rezeki oleh Allah.”

Baginda menjawab:
“Sentiasa berada dalam keadaan bersih (daripada hadas).”

16.  Dia bertanya:
“Aku mahu termasuk dalam golongan yang dikasihi Allah dan rasul-Nya.”

Baginda menjawab:
“Cintailah segala yang disukai Allah dan Rasul-Nya.”

17.  Dia bertanya:
“ Aku mahu diselamatkan daripada kemurkaan Allah pada hari kiamat.”

Baginda menjawab:
“Jangan marah kepada orang lain.”

18.  Dia bertanya lagi kepada Rasulullah:
“Aku mahu diterima segala permohonanku.”

Baginda menjawab:
“Jauhilah makanan haram.”

19.  Dia bertanya:
“ Aku mahu Allah menutupkan segala keabianku pada hari kiamat.”

Baginda pun menjawab:
“Tutuplah keburukan orang lain.”

20.  Dia bertanya:
“Siapa yang terselamat daripada dosa?”

Rasulullah menjawab:
“Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan, meraka yang tunduk pada kehendak-Nya dan meraka yang ditimpa kesakitan.”

21.  Dia terus bertanya:
“Apakah sebesar-besar kebaikan disisi Allah?” 

Baginda menjawab:
“Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian (bala).”

22.  Dia bertanya lagi:
“ Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah?”

Baginda menjawab:
“Buruk akhlak dan sedikit ketaatan.”

23.  Dia bertanya:
“Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat?”

Baginda menjawab:
“Sedekah dalam keadaan sembunyi (tidak diketahui) dan menghubungkan kasih sayang.”

24.  Dia bertanya lagi:
“Apa yang akan memadamkan api neraka pada hari kiamat?”

Baginda menjawab:
“Sabar didunia dengan bala dan musibah.”

Dan telah berkata Imam Mustaghfirin: “Aku tidak pernah menemui hadis sebegini lengkap merangkumi kesempurnaan agama dan kehidupan selain hadis ini.”

Maka tugas kita seterusnya adalah berkongsi Hadis Nabi SAW ini dengan orang lain, moga ianya memberikan manfaat kepada semua. Insyallah...

Monday, 29 August 2016

Cara Buat Lemang


1. Buluh
Gunakan buluh yang sesuai elakan mengambil buluh yang nipis seperti ” buluh telur” atau buluh yang terlalu tebal. Buluh yang nipis akan mudah pecah dan buluh yang tebal melambatkan proses pembakaran lemang. Potong Buluh mengikut kesesuaian, panjang yg dicadangkan adalah lebih kurang 80 cm bersamaan 2.5 kaki. kalau terlalu panjang dikuatiri lemang sebelah atas tidak masak dgn sempurna. Setelah buluh dipotong mengikut saiz buluh- buluh tersebut hendaklah dibersihkan dahulu.
2. Daun pisang .
Daun yang sesuai adalah yg tidak tua dan tidak terlalu muda. Daun pisang tua akan mudah pecah bila di masukan kedalam buluh dan daun pisang terlalu muda pula akan melekat pada pulut setelah masak nnt. Daun pisang jenis pisang hutan (pisang karuk), pisang Awak, dan pisang kapas adalah yg paling baik untuk dibuat daun lemang, jenis pisang2 lain juga bole di gunakan. potong mengikut saiz  dan bersihkan daun dengan mengelap dgn kain basah.
3, Cara-cara memasukan daun pisang.
Ambil pelepah pisang (yang sederhana kecil) dibelah dua dan tinggalkan dalam 1/2 kaki (jgn di belah sampai pangkal) untuk dibuat “telutuk”. Telutuk ini gigunakan untuk menyepit daun pisang dan digulung semasa memasukan kedalam buluh. Sebaiknya tindanan daun pisang dalam buluh hanya sedikit sahaja.
3. Pulut dan Santan Kelapa
Satu gantang pulut memerlukan 3-4 biji kelapa, lebih byk santan lebih enak lemangnya. Bersihkan pulut dan rendam pulut dalam santan dan masukan sedikit garam dalam santan tersebut. Masukkan pulut dan santan kelapa kedalam buluh pelahan-lahan sehingga  sejengkal dari paras atas buluh, memberi ruang untuk pulut mengembang semasa pembakaran. Setelah diisi sumbat di bahagian atas dgn daun pisang dan dicampurkan dgn daun pandan untuk memberi aroma baun pandan pd lemang bila sudah masak… setelah buluh siap diisi dgn pulut dan seterusnya di letakan di lanngai dan sedia untuk di bakar.
4. Api/ Langgai
Sediakan Langgai seperti dalam gambar dan hidupkan api. Peringkat awal api yang menyala hendaklah jauh dari buluh lemang yang diletakkan di langgai, anggaran 1.5 kaki. Kalau terlalu dekat menyebabkan buluh akan hangus terbakar. Setelah kayu yang sudah berbara (tidak menyala lagi), barulah di alihkan dekat dgn buluh sehingga santan kering. Untuk memanaskan bahagian bawah buluh tersebut, setelah buluh bertukar warna kedudukan buluh di letakan lebih condong daripada sebelumnya dan serakan bara-bara api di bawah buluh untuk memaskan bahagian atas lemang tadi.
Bahan-Bahan:
1 kg beras pulut
3-4 biji kelapa (ambil santannya)
2 batang buluh sederhana besar
Garam..
Basuh beras pulut dan tuskan airnya.
Masukkan daun pisang ke dalam buluh mengikut bulatan buluh.
Kemudian masukkan beras pulut yang telah dituskan dan jangan terlalu penuh.
Masukkan sedikit garam ke dalam santan dan tuangkan ke dalam buluh.
Bakar dengan menggunakan api yang sederhana besar. Setiap 15 minit hendaklah dibalik-balikkan dan di padatkan dengan mehetak pelahan buluh tersebut agar masaknya sama rata.
Masak sehingga tiga hingga empat jam sebelum diangkat.
1. Buluh
Gunakan buluh yang sesuai elakan mengambil buluh yang nipis seperti ” buluh telur” atau buluh yang terlalu tebal. Buluh yang nipis akan mudah pecah dan buluh yang tebal melambatkan proses pembakaran lemang. Potong Buluh mengikut kesesuaian, panjang yg dicadangkan adalah lebih kurang 80 cm bersamaan 2.5 kaki. kalau terlalu panjang dikuatiri lemang sebelah atas tidak masak dgn sempurna. Setelah buluh dipotong mengikut saiz buluh- buluh tersebut hendaklah dibersihkan dahulu.
2. Daun pisang .
Daun yang sesuai adalah yg tidak tua dan tidak terlalu muda. Daun pisang tua akan mudah pecah bila di masukan kedalam buluh dan daun pisang terlalu muda pula akan melekat pada pulut setelah masak nnt. Daun pisang jenis pisang hutan (pisang karuk), pisang Awak, dan pisang kapas adalah yg paling baik untuk dibuat daun lemang, jenis pisang2 lain juga bole di gunakan. potong mengikut saiz  dan bersihkan daun dengan mengelap dgn kain basah.
3, Cara-cara memasukan daun pisang.
Ambil pelepah pisang (yang sederhana kecil) dibelah dua dan tinggalkan dalam 1/2 kaki (jgn di belah sampai pangkal) untuk dibuat “telutuk”. Telutuk ini gigunakan untuk menyepit daun pisang dan digulung semasa memasukan kedalam buluh. Sebaiknya tindanan daun pisang dalam buluh hanya sedikit sahaja.
3. Pulut dan Santan Kelapa
Satu gantang pulut memerlukan 3-4 biji kelapa, lebih byk santan lebih enak lemangnya. Bersihkan pulut dan rendam pulut dalam santan dan masukan sedikit garam dalam santan tersebut. Masukkan pulut dan santan kelapa kedalam buluh pelahan-lahan sehingga  sejengkal dari paras atas buluh, memberi ruang untuk pulut mengembang semasa pembakaran. Setelah diisi sumbat di bahagian atas dgn daun pisang dan dicampurkan dgn daun pandan untuk memberi aroma baun pandan pd lemang bila sudah masak… setelah buluh siap diisi dgn pulut dan seterusnya di letakan di lanngai dan sedia untuk di bakar.
4. Api/ Langgai
Sediakan Langgai seperti dalam gambar dan hidupkan api. Peringkat awal api yang menyala hendaklah jauh dari buluh lemang yang diletakkan di langgai, anggaran 1.5 kaki. Kalau terlalu dekat menyebabkan buluh akan hangus terbakar. Setelah kayu yang sudah berbara (tidak menyala lagi), barulah di alihkan dekat dgn buluh sehingga santan kering. Untuk memanaskan bahagian bawah buluh tersebut, setelah buluh bertukar warna kedudukan buluh di letakan lebih condong daripada sebelumnya dan serakan bara-bara api di bawah buluh untuk memaskan bahagian atas lemang tadi.
Bahan-Bahan:
1 kg beras pulut
3-4 biji kelapa (ambil santannya)
2 batang buluh sederhana besar
Garam..
Basuh beras pulut dan tuskan airnya.
Masukkan daun pisang ke dalam buluh mengikut bulatan buluh.
Kemudian masukkan beras pulut yang telah dituskan dan jangan terlalu penuh.
Masukkan sedikit garam ke dalam santan dan tuangkan ke dalam buluh.
Bakar dengan menggunakan api yang sederhana besar. Setiap 15 minit hendaklah dibalik-balikkan dan di padatkan dengan mehetak pelahan buluh tersebut agar masaknya sama rata.
Masak sehingga tiga hingga empat jam sebelum diangkat.

Thursday, 11 August 2016

Pembahagian Manusia Di Akhirat

Pembahagian Manusia Di Akhirat

Di dalam Al Quran Allah SWT telah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ.وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

“Setiap yang ada di atas muka bumi ini akan binasa dan yang kekal hanyalah zat Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Besar.”
Ar Rahman: 26-27

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ

“Setiap yang bernyawa akan menemui kematian.”
Al Anbiya: 35

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ…

“Sesungguhnya mati yang kamu ingin lari daripadanya itu ia akan menemui kamu.”
Al Jumu’ah: 8

Demikianlah ketiga-tiga ayat di atas yang memberi pengertian kepada kita bahawa dunia ini dan juga kita akan mengalami kiamat. Sebelum dunia ini mengalami “kiamat kubra” (kiamat besar) maka secara beransur-ansur dunia ini dikiamatkan secara kecil-kecilan, umpamanya pohon yang tumbang kerana badai, bangunan yang runtuh kerana gempa bumi atau makhluk-makhluk Allah SWT yang binasa dan musnah kerana bencana alam.

Begitu juga manusia setiap hari ada yang menemui kematiannya. Adakalanya kematiannya disebabkan oleh sakit, dilanggar kereta, bunuh diri, mati disebabkan oleh peperangan dan berbagai lagi bentuk atau cara manusia menemui kematiannya.

Sudah menjadi “sunatullah” bahwa Allah SWT hendak menjadikan sesuatu itu dengan sebab-sebab yang tertentu. Dan matinya manusia dengan berbagai-bagai cara itu diibaratkan sebagai kiamat secara kecil-kecilan sementara menunggu kiamat besar.

Allah SWT telah mentakdirkan bahawa dunia ini adalah negara sementara waktu yang tidak kekal bagi manusia. Manusia yang dilantik oleh Allah SWT di dunia ini adalah sebagai khalifah atau duta-Nya di dunia yang sementara waktu. Sementara itu kehidupan manusia di dunia adalah sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Begitu juga Allah SWT telah menetapkan bahawa di samping dunia yang hanya untuk sementara waktu, ada akhirat sebagai tempat yang kekal abadi. Manusia bukan menjadi warganegara dunia yang tetap, melainkan sebagai duta Allah SWT sebelum mengalami kehidupan akhirat yang kekal abadi atau lebih tepat lagi bahawa manusia ini adalah warganegara akhirat, sebab manusia akhirnnya akan menuju juga ke akhirat.

Siapapun juga orangnya, ia pasti akan menuju ke akhirat. Yang suka akan sampai ke akhirat, yang tidak suka pun pasti sampai juga ke akhirat. Orang yang ingat kepada akhirat akan pergi ke akhirat, orang yang tidak ingat pun pasti akan pergi juga ke akhirat.

Semua manusia akan menghadapi kehidupan di akhirat, mahu tidak mahu. Oleh kerana itu sewaktu kita diamanahkan sebagai duta atau wakil Allah SWT di atas muka bumi ini hendaklah kita mengatur diri kita, rumahtangga kita, ekonomi, pendidikan, politik, negara dan seterusnya alam sejagat, hingga selaras dengan peraturan yang datang dari Allah SWT. Atau lebih tepat lagi hendaklah semua aspek berdasarkan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal yang fardhu atau sunat hendaklah sungguh-sungguh ditegakkan. Begitu juga dengan hal yang haram dan makruh hendaklah kita jauhi sungguh-sungguh. Dan dari hal yang mubah hendaklah dijadikan sebagai amal bakti (ibadah) kita kepada Allah SWT.

Apabila kita telah berjaya mengatur diri kita, rumahtangga kita, masyarakat kita dan seterusnya persoalan alam sejagat dengan segala peraturan yang datang dari Allah SWT, maka itulah yang dikatakan sebagai amal bakti atau amal soleh.

Hal inilah yang hendak kita bawa dan persembahkan di hadapan Allah SWT di akhirat nanti. Inilah yang dikatakan pengabdian diri kepada Allah SWT. Sebuah konsep ibadah di dalam ajaran Islam adalah luas. Dan hendaklah kita ingat bahwa persoalan rukun iman yang lima itu adalah merupakan ibadah yang asas dan yang menjadi tapak dalam ajaran Islam.

Apabila setiap amal bakti kita, usaha dan ikhtiar kita baik kecil atau besar dan juga setiap perjuangan dan jihad kita selaras dengan Al Quran dan sunnah, maka itulah yang dikatakan sebagai amal taqwa. Amalah taqwa itulah yang merupakan bekal kita yang paling baik lagi teguh untuk menjalani kehidupan di akhirat nanti., Ini bertepatan sekali dengan firman Allah SWT:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, sebaik-baik bekal (untuk dibawa ke akhirat ialah taqwa.”
Al Baqarah: 197

Amal taqwalah yang bakal menyelamatkan kita dari neraka dan sebab untuk kita masuk ke dalam syurga Allah SWT. Sebab itu hendaklah kita sentiasa berbekal sewaktu kita menjadi duta dan wakil Allah SWT sewaktu berada di dunia ini. Apa saja pekerjaan dan perbuatan kita hendaklah dijadikan sebagai ibadah yang merupakan amalan taqwa.

Apabila dunia hendak dikiamatkan oleh Allah SWT, maka di kala itu tidak terdapat seorang pun orang Mukmin, bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut perkataan ALLAH. Mereka inilah yang akan dikiamatkan kubra oleh Allah SWT nanti. Mereka nantinya akan terkejut menghadapi persoalan kiamat yang begitu hebat sekali. Itulah yang dikatakan sebagai “sangkakala” yang pertama. Maka di kala itu musnah, punah, dan huru-haralah bumi dan seluruh alam sejagat.

Ditiupnya sangkakala yang kedua menghidupkan seluruh makhluk yang bangkit dari kubur dalam keadaan tanpa berpakaian. Di samping itu manusia juga dihidupkan sesuai dengan tabiat atau perilaku mereka masing-masing sewaktu di dunia. Ertinya bentuk dan rupa mereka mengikuti seperti apa bentuk kehidupan yang mereka jalani sewaktu di dunia ini.

Seandainya sewaktu hidupnya di dunia suka menipu, berdusta, pembelit seperti ular, maka ia akan dirupakan Allah SWT seperti ular. Jika tabiatnya sewaktu hidup seperti serigala, maka ia akan dibangkitkan seperti serigala. Jika hidupnya sewaktu di dunia seperti babi, maka ia akan dirupakan seperti babi juga. Begitu juga sekiranya hidup di dunia berperangai seperti anjing, maka ia akan dirupakan seperti anjing.

Setelah itu seluruh makhluk akan dihalau ke suatu padang yang dinamakan “Padang Mahsyar”. Iaitu suatu padang tempat berhimpunnya seluruh makhluk Allah SWT terutamanya manusia, yang dimulai dari Nabi Adam a.s hingga akhir manusia yang belum kita ketahui siapa adanya. Di Padang Mahsyar inilah berkumpulnya seluruh makhluk dan ini merupakan suatu perhimpunan raksasa yang belum pernah wujud sebelumnya.

Terlalu banyaknya makhluk yang berkumpul, menyebabkan keadaan saat itu terlalu bersesakan bahkan untuk duduk pun tidak boleh. Umpama susunan rokok yang berada di dalam kotak rokok. Ini disebabkan oleh kerana terlalu ketat dan padatnya manusia saat itu. Sementara matahari berada hanya sejengkal di atas kepala manusia. Maka sudah tentu suasana ini menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan kepada manusia dan seluruh makhluk Allah SWT.

Walaupun manusia seluruhnya di waktu itu dalam keadaan tanpa berpakaian, namun masing-masing tidak mempedulikan diri orang lain. Ini disebabkan oleh huru-hara dan kesulitan yang menimpa manusia. Manusia di kala itu hanya memikirkan diri mereka masing-masing kerana terlalu bimbang dan takut menghadapi hari akhirat.

Kemudian manusia yang begitu bannyak itu dibariskan oleh Allah SWT sebanyak 120 barisan. Mungkin timbul di dalam fikiran kita, di antara 120 barisan itu berapa banyaklah yang matinya membawa iman? Sebab di dalam Al Quran Allah SWT menjelaskan:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali di kalangan hamba-hambaKu yang bersyukur”.
Saba’: 13

Sebenarnya, hanya tiga barisan saja di antara sekian banyaknya manusia yang matinya membawa iman. Inilah diantara mereka yang dianggap sebagai orang yang beriman. Sementara 117 barisan yang lain itu adalah terdiri dari orang-orang kafir dan mereka kekal di dalam neraka.

Jelaslah bahawa hanya tiga barisan saja yang membawa iman, sementara yang lainnya itu matinya dalam keadaan kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Oleh kerana iman manusia di antara satu sama lain tidak sama, maka Allah SWT membahagikan tiga barisan ini kepada empat barisan pula atau kita katakan bahawa mereka yang mati membawa iman itu terbahagi kepada empat golongan:

1) Golongan Bi-ghairi Hisab (golongan yang tidak dikenakan hisab)

2) Golongan Ashabul Yamin (golongan yang menerima suratan di tangan kanan)

3) Golongan Ashabus Syimal (golongan yang menerima suratan di tangan kiri)

4) Golongan Ashabul A’raf (golongan yang berada di antara syurga dan neraka)

• Adapun golongan Bi ghairi hisab adalah terdiri dari para nabi dan rasul dan pada aulia Allah (kekasih Allah). Para aulia Allah adalah mereka yang memang bersungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan dari Allah. Mereka begitu menjaga hal yang wajib dan sunat dan sungguh meninggalkan hal yang haram bahkan hal yang makruh pun mereka tinggalkan.

Para aulia Allah adalah mereka yang paling sabar dan sentiasa redha terhadap apa saja yang menimpa mereka. Hati mereka sentiasa baik sangka kepada Allah atas apa saja musibah yang menimpa mereka.

Selain dari itu, mereka yang termasuk dalam golongan Bi ghairi hisab ini adalah para syuhada (orang yang mati syahid). Mereka adalah golongan orang Muqarrabin yang ertinya orang yang terlalu dekat dengan Allah SWT disebabkan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah SWT. Bahkan nyawa pun sanggup mereka korbankan semata-mata untuk mempertahankan agama Allah SWT. Sebab itu tidak hairan mengapa mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.

Orang yang terlalu sabar juga termasuk dalam golongan Bi ghairi hisab. Sabar itu terbahagi kepada tiga bahagian:

1. Sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT

2. Sabar menjauhi larangan dari Allah SWT

3. Sabar menghadapi segala ujian dari Allah SWT

Sabar melaksanakan perintah Allah SWT bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar melaksanakan perintah Allah SWT ialah seperti sabar mengerjakan solat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semuanya itu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menjauhi larangan dari Allah SWT. Terutama untuk boleh sabar menjauhi larangan Allah SWT pada maksiat pandangan mata.

Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menerima ujian dari Allah SWT. Kita dituntut untuk sabar terhadap ujian-ujian dari Allah SWT kepada manusia seperti sakit, miskin, difitnah, kematian isteri, kematian ibu ayah dan sebagainya. Itu semuanya adalah ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siapa di antara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Manusia hendaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut. Kerana ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia itu hakikatnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia dididik melalui manusia yang lain melalui zahirnya. Tetapi pada hakikatnya yang mendidik manusia adalah Allah SWT sendiri. Dan ujian-ujian yang menimpa manusia sebenarnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT.

Oleh kerana itu kita sebagai hamba-Nya hendaklah bersabar dan redha. Sebab sebagaimana yang kita tahu ujian-ujian yang datang dari Allah SWT sekiranya kita bersabar, sebenarnya ini merupakan kasih sayang dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Hal itu juga merupakan penghapusan dosa dari Allah SWT sekiranya kita bersabar. Demikian juga ia merupakan darjat dan pangkat yang akan Allah SWT kurniakan bagi manusia yang mahu menerima didikan secara langsung dari Allah SWT seperti ini.

Seringkali, apa yang manusia mahu ialah didikan melalui manusia yang lain seperti dari para tuan guru, ustaz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah SWT seperti ini kerana tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya.

Ingatlah, seandainya manusia tidak berhasil dididik secara langsung dari Allah SWT, maka janganlah diharapkan ia berjaya untuk menerima didikan dari manusia yang lain. Sebab itu kita melihat betapa kuatnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul, kerana sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada mereka.

Oleh kerana itulah tidak hairan bagaimana kuatnya iman para nabi dan rasul semuanya. Sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah SWT.

Jauh berbeza dengan keadaan kita yang tidak senang apabila menerima ujian dari Allah SWT sedangkan itu merupakan didikan secara langsung dari Allah SWT. Sedangkan seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan Bi ghairi hisab di akhirat kelak.

Dan termasuk juga dalam golongan ini di akhirat kelak ialah orang fakir yang mana dia bersabar dengan kefakirannya. Mereka ialah orang yang tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian yang sehelai sepinggang. Sebab itu mereka tidak dihisab di akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan dihisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Disamping itu, termasuk dalam golongan Bi ghairi hisab ini ialah orang ahli makrifat. Yaitu orang yang begitu kenal dengan Allah SWT. Oleh kerana mereka terdiri dari orang yang kenal akan Allah, maka hati mereka setiap masa sentiasa ingat akan Allah SWT. Hatinya juga setiap masa terasa hebat tentang kebesaran dan keagungan Allah SWT. Begitu juga hatinya itu setiap masa sentiasa terasa rindu kepada Allah SWT.

Apabila kita ukur diri kita dengan mereka, terasa sekali jauh perbezaannya. Mereka adalah orang yang sentiasa mengingati Allah SWT, sedangkan kita sentiasa lalai dan derhaka kepada Allah SWT. Bukan suatu hal yang mudah untuk sentiasa ingatkan Allah SWT. Sedangkan solat yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai mengingati-Nya pun tidak dapat kita mengingat Allah SWT, lagilah di luar solat kita akan semakin tidak dapat mengingati Allah SWT.

Jelaslah bahawa untuk menjadi ahli makrifat yaitu orang yang benar-benar kenal Allah SWT bukanlah suatu hal yang mudah. Ianya merupakan suatu hal yang amat susah untuk dicapai oleh kita yang memang sentiasa lalai terhadap Allah SWT.

Itulah di antara orang-orang yang termasuk di dalam golongan Bi ghairi hisab di akhirat kelak. Cubalah ukur diri kita, apakah kita termasuk dalam golongan ini?

• Adapun golongan Ashabul Yamin atau golongan orang yang menerima kitab dari tangan kanan ialah golongan orang-orang soleh, abrar ataupun golongan muflihun. Adapun golongan Ashabul Yamin Iaitu orang-orang yang memiliki sekurang-kurangnya Iman Ayyan dan mereka juga adalah orang yang amal kebajikannya melebihi kejahatannya. Sungguh pun golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tidak terlepas menerima hisab dari Allah SWT. Mereka agak lambat untuk menempuh Siratul Mustaqim disebabkan oleh pemeriksaan terhadap mereka.

Diterangkan bahawa di atas titian Siratul Mustaqim terdapat lima tempat pemeriksaan. Dan lima tempat pemeriksaan itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita terhenti di kelima-lima tempat pemeriksaan itu? Sedangkan sehari di akhirat dinisbahkan dengan hari dunia adalah selama seribu tahun.

Sebab itu tidak hairan mengapa orang-orang Muqarrabin itu tidak mahu menjadi orang soleh. Sebab orang soleh, walaupun masuk ke syurga, terpaksa dihisab terlebih dahulu. Ini sudah tentu menyusahkan mereka. Sebab itu mereka lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah SWT. Sebab orang yang mati syahid, langsung dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam syurga.

Terpaksa terhenti untuk dihisab di Siratul Mustaqim adalah merupakan penderitaan dan azab bagi golongan Muqarrabin. Sebab itu di dalam kitab terutama kitab-kitab Tasawuf ada diterangkan bahawa kebaikan yang dibuat oleh orang abrar/orang soleh adalah merupakan ‘kejahatan’ bagi golongan Muqarrabin. Bagi golongan Muqarrabin, sesuatu hal yang dianggap halal tetapi menyebabkan akan dihisab, itu adalah suatu kejahatan.

Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang soleh, marilah kita lihat kenyataan Al Imam Ghazali. Al Imam Ghazali mengatakan bahawa orang yang hendak menjadi orang yang soleh itu mestilah 24 jam yang Allah SWT untukkan kepadanya, mestilah 18 jam diisi dengan alam baik. Cuma 6 jam saja masanya itu digunakan untuk melakukan hal yang mubah.

• Adapun golongan yang ketiga yaitu Ashabul Syimal yaitu golongan yang akan menerima kitab dari tangan kiri. Mereka ini ialah orang Mukmin yang ‘Asi atau Mukmin yang derhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari kebaikan yang mereka lakukan. Mereka ini akan dimasukkan ke dalam neraka dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam syurga. Mereka dimasukkan ke dalam neraka sebagai berdasarkan kepada dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah tamat seksaan mereka di neraka, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam syurga.

• Adapun golongan yang akhir ialah golongan Ashabul A’raf aitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka terselamat dari masuk ke neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke syurga daripada golongan Ashabul Yamin yang setelah menempuh Siratul Mustaqim, tidak ada halangan lagi untuk masuk ke syurga. Tetapi bagi golongan Ashabul A’raf, setelah mereka menempuh Siratul Mustaqim mereka masih lagi dihalang untuk ke syurga.

Mereka akan didera oleh Allah SWT di hujung Siratul Mustaqim. Bagaimana deraan Allah SWT terhadap mereka ? Deraan yang dikenakan Allah SWT kepada golongan Ashabul A’raf ialah diperintah supaya mereka meminta satu amal kebajikan kepada penghuni syurga. Sesiapa dari golongan mereka yang diberi oleh penghuni syurga satu amal kebajikan, maka dia diperbolehkan untuk masuk ke syurga. Maka mundar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan penghuni-penghuni syurga. Setelah sekian lama, maka barulah Allah SWT masukkan ke dalam hati penghuni syurga untuk memberikan kepada mereka satu amalan kebajikan.

Tetapi anehnya, orang yang mempunyai banyak amal kebajikannya tidak mahu langsung memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Sebaliknya mereka yang memberikan amal kebajikannya ialah orang yang mempunyai lebih satu saja amalan kebajikannya.

Maka Allah SWT pun berfirman kepada golongan ini yang antara lain,

“Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai lebih satu amalan kebajikan, begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku dan terus ke syurga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka dengan ini hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan darjatnya oleh Allah SWT di syurga. Inilah kelebihan yang dikurniakan oleh Allah SWT kepada mereka di akhirat.

Dari huraian-huraian yang dijelaskan di atas marilah kita membuat ukuran di golongan manakah kita berada? Apakah kita berada di dalam golongan Bi ghairi hisab? Ashabul Yamin? Ashabus syimal? atau Ashabul A’raf?

 

Sample text

Sample Text

Sample Text