Social Icons

Thursday, 1 June 2017

Imam Jaafar As Sadiq Adalah Imam Ahli Sunnah Wal Jamaah (SIRI 1)

Hanya sedikit ulama yang selama berabad-abad telah berusaha menjembatani perbedaan antara Syiah dan Sunni, Sufi dan Salafi, Modernis dan Tradisionalis; dan lebih sedikit lagi yang dinaikkan begitu tinggi dalam keilmuan mereka dan diklaim dengan validitas yang sama oleh kaum Syiah dan Sunni, Sufi dan Salafi, Modernis dan Tradisionalis. Imam Ja'afar Sadiq adalah salah satu dari ulama tersebut. 

Kaum Syiah menganggap beliau sebagai Imam keenam. Kaum Sunni menganggap beliau sebagai seorang guru dari mujtahidin besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas. Para Sufi dari semua tariqah mendudukkannya dalam rantai periwayatan pengetahuan spiritual dari Nabi, kaum Salafi menerima hadis yang diriwayatkan melalui beliau, kaum modernis menganggap beliau sebagai guru dari beberapa saintis empiris dan rasional terbaik yang terkenal pada zamannya, dan tradisionalis mengikuti bimbingan beliau dalam hal iman dan ritual. Bila Sunnah Nabi adalah seperti batang pohon, Imam Ja'afar adalah salah satu cabang utamanya.

Imam Ja'afar mengajarkan rekonsiliasi dan persaudaraan di antara perselisihan agama dan sektarian. Mengenai Sunni ia berkata: "Berdoalah dengan suku mereka, ambil bagian dalam pemakaman mereka, kunjungi mereka yang sakit dan berikan kepada mereka apa yang menjadi hak mereka". Syekh Hisyam meriwayatkan doa berikut dari Imam Ja'afar tentang Abu Bakar as Siddiq RA dan Umar bin Al Khattab RA: "Ya Allah, Engkau adalah saksiku, bahwa aku mengasihi Abu Bakar dan aku mencintai Umar dan jika apa yang aku katakan tidak benar semoga Allah memutuskanku dari syafaat Muhammad". 

Sungguh berbeda pendekatan para Imam besar dengan pendekatan picik dari kaum Syiah dan Sunni hari ini yang menaruh pisau di leher saudara mereka yang lain karena mereka tenggelam di dalam kebodohan dan prasangka yang terakumulasi selama berabad-abad untuk melayani narasi sejarah yang mereka buat di masa lalu.

Imam Ja'afar as Sadiq adalah Syaikh dari Syaikh besar, guru dari Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi), Imam Malik (pendiri mazhab Maliki), Jabir bin Hayyan (Kimiawan) dan Wasil bin Atta (pendiri mazhab Muta'zilah). Keilmuannya mencakup esoteris dan juga eksoteris, ilmu Isyarah dan juga ilmu Ibarah, ilmu kalam dan ilmu hadis, sunnah, ilmu alam dan ilmu-ilmu sejarah. 

Dia adalah al-Hakim, orang bijaksana sejati sesuai Alquran, seorang alim yang lengkap yang mengerti bahwa Syariah diterapkan tidak hanya untuk dunia manusia tetapi juga untuk dunia semesta alam. Beliau menerapkan pengetahuan yang tajam untuk menciptakan pola Ilahi di dunia manusia melalui Fiqh, tetapi beliau juga melihat pola-pola di alam dan dalam sejarah dan beliau mengajarkannya kepada murid-muridnya. Beliau adalah pewaris dua rahasia, satu dari Abu Bakar as Siddiq RA, dan yang lain dari Ali bin Abi Thalib kwh. 

Ja'far as Shadiq lahir di Madinah pada tanggal 20 April 702 Masehi dari rahim Ummu Farwa, yang merupakan cucu dari Muhammad bin Abi Bakr, salah seorang putra dari Abu Bakar as Siddiq, Khalifah Rasyidin pertama dalam Islam versi Sunni. Ayahnya adalah Muhammad al-Baqir bin Ali bin Zainul Abidin bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib kwh yang dianggap oleh Syiah sebagai Imam kelima. Beliau adalah seorang ulama yang bekerja keras untuk menjembatani kesenjangan antara Syiah dan Sunni dan antara Islam dan agama lain. Tak heran jika Syiah dan Sunni, Sufi dan Salafi, tradisionalis dan modernis mengklaim beliau sebagai milik mereka.

Imam Ja'afar adalah seorang master dari Ilmu Ibarah dan Ilmu Isyarah. Ulama Islam klasik membagi pengetahuan ke dalam dua kategori besar, yaitu yang bisa diakses oleh pikiran dan yang hanya dapat diakses oleh hati. Yang termasuk kategori pertama adalah rasional, logika, matematika, sains, sosiologi, hadis dan kewajiban-kewajiban dan ritual-ritual agama. 

Pengetahuan ini dapat diajarkan dan dapat dipelajari dari seorang Alim. Ilmu ini disebut Ilmu Ibarah dari akar bahasa Arab Alif-Ba-Ra yang berarti menyeberang, seperti mengarungi dari satu tepi sungai ke tepi lainnya. Ini adalah pengetahuan yang diberikan kepada murid di dalam sekolah atau universitas. Pengetahuan hati, di sisi lain, tidak dapat diakses oleh pikiran tetapi hanya dapat diakses oleh hati. Yang termasuk dalam kategori ini termasuk cinta, kasih sayang, kerendahan hati (zuhud), kesalehan (wara), etika (akhlak) dan kesadaran akan kehadiran Ilahi. 

Pengetahuan ini tidak dapat diajarkan. Namun Syaikh besar dapat membantu murid-murid untuk membersihkan hati mereka dan membukakannya kepada kemungkinan yang tak terbatas dari ilmu Isyarah. Kadang-kadang, kedua aliran pengetahuan itu juga disebut sebagai Ilmu Ghaib (pengetahuan yang berada di luar persepsi) dan Ilmu Zahir (pengetahuan yang dapat diakses oleh persepsi). Terminologi ini konsisten dengan terminologi Quran. Namun, diskusi Ilmu ghaib adalah di luar lingkup tulisan ini.

Imam Ja'afar as Sadiq menjauhkan diri dari ketegangan politik pada masanya, dan berfokus pada mengajar dan mendidik masyarakat. Pilihan ini merupakan keuntungan besar bagi peradaban Islam. Ada kebijaksanaan dalam strategi ini. Sejarah berhutang budi kepada Imam Ja'afar as Sadiq atas dedikasi beliau bagi pengetahuan dan pengajaran yang menghasilkan tokoh-tokoh besar di bidang fikih, tasawuf, sains dan matematika.

Di bawah penguasa Umayyah, Ja'far as Sadiq dianggap oleh banyak pengikut Syiah sebagai imam Syi'ah keenam, dan bagaimanapun, Syiah dianggap bidah dan pemberontak oleh para khalifah Umayyah. Banyak kerabat Ja'far as Shadiq telah tewas di tangan Umayyah. Tak lama setelah kematian ayahnya, paman Ja'far as Sadiq, Zaid bin Ali memimpin pemberontakan melawan Bani Umayyah. Ja'far as Sadiq tidak berpartisipasi, tetapi banyak dari sanak saudaranya, termasuk pamannya tewas, dan lainnya dihukum oleh Khalifah Umayyah. Ada pemberontakan lain selama tahun-tahun terakhir dari Bani Umayyah, sebelum Bani Abbasiyah berhasil merebut kekhalifahan dan mendirikan dinasti Abbasiyah pada tahun 750 Masehi, ketika Ja'far as Shadiq berusia 48 tahun. 

Muhammad al-Baqir dan putranya, Ja'far as Sadiq, secara eksplisit menolak gagasan pemberontakan bersenjata. Banyak faksi pemberontak berusaha meyakinkan Ja'afar as Sadiq untuk mendukung klaim mereka. Ja'afar as Sadiq menghindari permintaan mereka tanpa secara eksplisit mengajukan klaimnya sendiri. As Sadiq menyatakan bahwa meskipun ia, sebagai imam yang ditunjuk, adalah pemimpin sejati umat, ia tidak akan mengajukan klaimnya untuk kekhalifahan. Kediaman politik Ja'far as Sadiq pada pandangan ini dikatakan telah melahirkan taqiyyah sebagai doktrin Syiah. Taqiyyah adalah doktrin Syiah yang mengatakan bahwa dibolehkan untuk menyembunyikan pendapat benar seseorang jika dengan mengungkapkannya, ia menempatkan diri sendiri atau orang lain dalam bahaya.

Para penguasa baru Abbasiyah, yang telah naik ke tampuk kekuasaan atas dasar klaim mereka atas keturunan mereka dari paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib, sangat curiga terhadap Ja'far as Sadiq, yang dianggap oleh banyak orang memiliki klaim yang lebih baik untuk kursi kekhalifahan. Banyak pengikut Zaid bin Ali yang siap untuk mengikuti Ja'afar as Sadiq dieksekusi secara kejam oleh Abbasiyah. 

Ja'far as Sadiq diawasi secara ketat dan sesekali dipenjarakan untuk memutuskan hubungan beliau dengan pengikutnya. Ja'afar as Sadiq menjalani penganiayaan dengan sabar dan melanjutkan studi dan menulis di mana pun beliau menemukan dirinya. Beliau meninggal pada tanggal 14 Desember 765 akibat diracuni oleh khalifah Al-Mansur. Beliau dimakamkan di Madinah, di kuburan terkenal Jannatul Baqi.

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text