Social Icons

Tuesday, 25 February 2014

Munajat Indah Habib Munzir


Kita sangat perlukan Nabi Muhammad SAW. Baginda kena diyakini masih berperanan di zaman ini. Bukankah Baginda itu hidup di alam sana. Tentulah Tuhan itu maha adil memberi peluang untuk umat akhir zaman mendapat pembelaan Baginda SAW. 

Diantaranya yang kita rasakan kehadiran Baginda ialah kembalinya umat Baginda untuk mencintai dan memperjuangkan cita-cita Baginda. Ianya satu dorongan yang menyeluruh terutama di dunia sebelah sini iaitu Malaysia dan Indonesia. Fenomena kaum muslimin sedang mahu berselawat di mana-mana. 

Bahkan ajakan berselawat beramai-ramai diprogramkan secara besar-besaran di stadium-stadium!! Inilah kesan dari kewujudan baginda Nabi SAW di zaman ini bersama umatnya yang sudah mahu kembali mencintai Baginda.

Dipaparkan munajat seorang ulamak muda dari Indonesia yang baru saja berpindah ke alam akhirat - menemui cintanya yang hakiki. Beliau adalah Habib Munzir Ibn Fuad Ibn Abdurrahman Al Musawwa (Gambar) - seorang daripada zuriat keturunan Rasulullah SAW yang kembali mengadapNya pada usia 40 tahun.
 

“Ketika malam telah larut, alam fikiranku melayang mengembara ke arah kegelapan malam, fikiranku menerawang ke sebuah kuburan yang kaku, gundukan (tumpukan) tanah merah yang dingin, perut bumi yang menjadi kediamanku kelak, di dalamnya tak lain cacing dan serangga pemakan bangkai, tubuhku yang tak mampu menepis binatang yang menggerogotiku dan menjadikan tubuhku sarang dan tempat bertelur, alangkah tak berdayanya tubuh ini, sahabatku meninggalkanku, anak isteriku meninggalkanku, orangtua ku meninggalkanku, semua orang yang kukenal melupakanku, mereka tak mahu ikut mati bersamaku, mereka tak mahu tahu lagi apa yang menimpaku di kuburku, mereka tak mahu walau hanya menepiskan cacing yang menggerogoti tubuhku, mereka tak perduli lagi tubuhku membusuk sedikit demi sedikit, hingga tubuhku hancur dan berbau, hingga tubuhku menjadi tulang, lalu habis musnah menjadi tanah, kemana aku akan pergi, rohku akan melayang memenuhi panggilan Penciptaku.

Wahai ALLAH, tiada selainMU, Engkaulah yang akan Menepiskan semua serangga yang mendekati tubuhku, akan Engkau Jaga tubuhku yang masuk dalam perut Bumi, Engkau Mendengar jeritan hatiku yang merindukanMU, maka dengarlah Wahai yang Menciptakan harapan, wahai yang Menciptakan segala kerinduan, wahai yang Menciptakan keinginan untuk mengadu, kulontarkan kalimat yang kini hampir memecahkan kalbuku, aku tidak mempunyai selainMU untuk mengadu, untuk Menolong, untuk Memberi, untuk Diharapkan, untuk bergerak, untuk bernafas, untuk berucap, untuk bersuara, untuk mendengar, untuk melihat, untuk melangkah, untuk bergerak, untuk berfikir, untuk makan, untuk minum, untuk tersenyum, untuk bergembira, untuk segala-galanya, selainMU, semua yang kumiliki, dan yang tidak kumilki adalah MilikMU, tubuhku MilikMU, makananku MilikMU, semua yang kulihat MilikMU, semua yang kudengar MilikMU, semua yang kuucapkan MilikMU, semua langkahku MilikMU, setiap nafasku MilikMU, setiap detik jantungku MilikMU, perasaanku MilikMU, kerinduanku MilikMU, harapanku MilikMU, kesedihanku MilikMU, kegembiraanku MilikMU…

Alangkah indahnya wahai RABB, Kerana Engkau Memilikiku, Engkau Menggenggam diriku, Engkau Mengaturku, Engkau Menjagaku, Engkau Melindungiku, Engkau Melimpahkan KelembutanMU padaku, aku merindukanMU wahai ALLAH, Engkau Memanggilku agar aku dekat kepadaMU wahai ALLAH…

Wahai yang Menciptakan cinta kasih di seluruh kalbu hambaNYA, Engkau Menghendaki aku mencintaiMU wahai ALLAH, wahai yang Menciptakan lidah saling menyebut nama-nama hambaNYA, Engkau Menghendaki aku menyebut NamaMU wahai ALLAH, wahai yang Menciptakan segala yang indah, keindahan yang terlihat dan yang tak terlihat, keindahan yang terdengar dan tak terdengar, keindahan yang terucapkan dan tak terucapkan, keindahan yang terasa dan tak dapat dirasa, keindahan yang diketahui dan yang tak diketahui, keindahan yang tersaksikan dan yang tersembunyi, semua keindahan itu berasal dari KeindahanMU wahai ALLAH, maka betapa Indahnya Engkau, betapa Lembutnya Engkau…

Alangkah kecewa hamba yang hanya memiliki harapan, hamba yang hanya memiliki khayalan, hamba yang hanya memiliki lamunan, hamba yang hanya memiliki kerinduan, hamba yang hanya ingin dekat, hamba yang hanya mendambakan kelembutan, hamba yang hanya mendambakan kasih sayang, sedangkan modal semua harapanku hanyalah airmata, apakah ia harus dikecewakan oleh yang Maha tak Mengecewakan…

Alangkah hancur perasaannya kalau kerinduannya ditolak oleh yang Maha tak Menolak kerinduan, alangkah berkeping-kepingnya kecintaannya, bila keinginannya untuk dekat tertolak oleh yang Maha tak Menolak hambaNYA yang ingin dekat, itu semua tak ada pada DzatMU, itu semua tak ada dalam SifatMU, itu semua tak ada pada PerbuatanMU, apalagi yang membuatku tertolak sedangkan Engkau yang Maha Menerima, apalagi yang membuatku tersingkir sedangkan Engkau yang Maha Merangkul, apalagi yang membuatku terjauhkan, sedangkan Engkaulah yang Maha Mendekatkan, salahkah aku merindukanMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan kerinduanku padaMU, salahkah aku menginginkan dekat padaMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan keinginanku untuk dekat kepadaMU, salahkah aku merasa tenggelam dalam Samudera KelembutanMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan perasaan itu di hatiku…?

Wahai ALLAH, wahai yang Menamakan DiriNYA ALLAH, wahai yang Menginginkan NamaNYA dipanggil ALLAH, wahai yang Menginginkan lidahku memanggil DzatNYA dengan panggilan ALLAH, wahai yang Menginginkan aku mengharapkanNYA dengan mengingat Nama ALLAH, wahai yang Menciptakan lidahku bergetar menyebut Nama ALLAH, wahai yang Memberikan kemampuan pada jemariku menuliskan Nama ALLAH, maka dengan KemahuanMU kusebut NamaMU ALLAH, dengan KeinginanMU kurindukan Engkau ALLAH, dengan KeinginanMU aku ingin dekat kepadaMU wahai ALLAH, salahkah aku berkeinginan, salahkah aku merindukan, salahkah aku ingin dekat, sedangkan semua getaran kalbuku itu adalah KeinginanMU wahai ALLAH?

Maka sebagaimana Engkau Jadikan cacing merangkak tanpa tangan dan kaki, maka jadikan aku merangkak kepadaMU tanpa hambatan, sebagaimana Engkau jadikan anjing najis bertasbih MensucikanMU, maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanMU, sebagaimana Engkau Jadikan air mengalir menjadi beku, maka Jadikan harapanku mengalir ke arahMU dan membeku di pintuMU, sebagaimana Engkau Jadikan gunung batu menjadi debu, maka Jadikan seluruh kesalahanku menjadi debu di hadapan KeagunganMU, sebagaimana Engkau Jadikan bumi perkasa terinjak-injak, maka jadikan hawa nafsuku terinjak-injak kerinduanku kepadaMU…

Sebagaimana Engkau Jadikan Raja berwibawa terkalahkan dan terhinakan, maka Jadikan kesombonganku terhinakan oleh KewibawaanMU, sebagaimana Engkau Jadikan sesuatu yang bergerak menjadi diam, maka jadikan tubuhku yang bergerak berubah diam dari segala yang tak Engkau Redhai, sebagaimana Engkau Jadikan semua yang ada menjadi fana, maka jadikanlah gunung dosa ini fana dalam KelembutanMU, sebagaimana Engkau Jadikan yang tak mungkin menjadi kepastian, maka jadikan semua ketidak mungkinanku untuk dekat menjadi janji kepastian.”

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text