Social Icons

Monday, 6 April 2015

Kisah Islamnya Seorang Lelaki Yahudi Di Makam Rasulullah Saw

KISAH KERINDUAN SEORANG YAHUDI TERHADAP RASULULLAH SAW

Hari Sabat, atau hari Sabtu adalah hari besar dimana para pengikut ajaran Nabi Musa AS (yang kini dikenal sebagai kaum Yahudi) dilarang melakukan apa saja bentuk aktiviti kecuali hanya beribadah, berzikir atau mempelajari kitab Taurat.

Suatu ketika, seorang lelaki Yahudi yang tinggal di Syam mengisi hari sabatnya untuk mempelajari kitab Taurat. Dia menemukan dalam Taurat tersebut ayat-ayat yang menyebutkan tentang sifat dan keadaan Nabi Muhammad SAW, Nabi yang diramalkan akan turun sebagai penutup para Nabi-nabi, sebanyak empat halaman. Dia segera memotong empat halaman Taurat tersebut dan membakarnya.

Saat itu memang Nabi SAW telah diutus dan telah tinggal di Madinah. Sementara itu, beberapa orang pemuka dan pendeta Yahudi telah melakukan "indoktrinasi" kepada jemaahnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendusta. Jika ditemukan sifat dan cerita tentang dirinya dalam Taurat, mereka harus memotong dan membakarnya kerana itu merupakan ayat-ayat tambahan dalam Taurat yang tidak benar. Lelaki Yahudi dari Syam tersebut adalah satu anggota dari jemaah ini.

Pada hari Sabtu berikutnya, dia juga mengisi harinya dengan melakukan kajian terhadap Taurat, dan dia menemukan lapan halaman mukasurat yang menyebutkan tentang keadaan dan sifat-sifat Nabi SAW. Seperti kejadian sebelumnya, dia memotong lapan halaman tersebut dan membakarnya.

Pada hari Sabtu berikutnya lagi, dia masih melakukan kajian terhadap Taurat, dan kali ini dia menemukan hal yang sama, bahkan ditambah dengan cerita tentang beberapa orang sahabat di sekitar beliau, dan dia menemukannya dalam 12 halaman. Kali ini dia tidak langsung memotongnya, tetapi dia berfikir dan berkata dalam hatinya, "Jika aku selalu memotong bagian seperti ini, boleh jadi Taurat ini seluruhnya akan menyebutkan tentang sifat sifat dan keadaan Muhammad..!!"

Tentu kita tidak tahu dengan pasti, apakah memang kandungan Taurat seperti itu? Atau memang Allah SWT telah menggiring lelaki Yahudi kepada hidayah-Nya, sehingga setiap kali dipotong, akan muncul secara ajaib (mu'jizat) pada halaman lainnya, lebih banyak dan lebih lengkap tentang keadaan Nabi Muhammad SAW.

Tetapi, tiga kali pengalaman kajiannya tersebut telah memunculkan rasa ingin tahu yang besar kepada Nabi SAW. Bahkan dengan tiga kali kajiannya tersebut, seakan-akan sifat-sifat dan keadaan beliau telah lekat di kepalanya, dan seperti mengenal beliau sangat akrab. Dia datang kepada kawan-kawan Yahudinya dan berkata,

"Siapakah Muhammad ini?"

"Dia seorang pembohong besar (yang tinggal di Madinah)," kata salah seorang temannya, "Lebih baik engkau tidak melihatnya, dan dia tidak perlu melihat engkau!!" jawab rakannya.

Tetapi lelaki Yahudi yang telah "melihat" dengan "ilmul yakin" tentang keadaan Nabi SAW ini, nampaknya tidak mudah begitu saja dipengaruhi teman-temannya. Seakan ada kerinduan menggunung terhadap sosok Muhammad yang belum pernah dikenal dan ditemuinya itu. Kerinduan yang memunculkan kegelisahan, yang tidak akan bisa hilang kecuali bertemu langsung dengan sosok yang berada dalam fikirannya tersebut. Dia berkata dengan tegas, "Demi kebenaran Taurat (yang diturunkan kepada) Musa, janganlah kalian menghalangi aku untuk mengunjungi Muhammad…!!"

Dengan tekad yang begitu kuat, mereka-pun tak mampu lagi menghalangi langkahnya untuk bertemu dengan Nabi SAW di Madinah. Lelaki Yahudi ini mempersiapkan kenderaan dan perbekalannya dan langsung memacunya mengharungi padang pasir tanpa menunda-nundanya lagi. Beberapa hari berjalan, siang dan malam terus saja berjalan, hingga akhirnya dia memasuki kota Madinah.

Orang pertama yang bertemu dengannya adalah Seorang sahabat Rasulullah, Salman al Farisi. Kerana Salman berwajah tampan, dan mirip gambaran yang diperolehnya dalam Taurat, dia berkata, "Apakah engkau Muhammad?"

Salman tidak segera menjawab, bahkan segera saja menangis mendapat pertanyaan tersebut, sehingga membuat lelaki Yahudi ini kehairanan. Kemudian Salman berkata, "Saya adalah sahabatnya!"

Memang, hari itu telah tiga hari Nabi SAW wafat dan jenazah beliau baru dimakamkan , sehingga pertanyaan seperti itu mengingatkannya kepada beliau dan membuat Salman menangis. Kemudian lelaki Yahudi itu berkata, "Dimanakah Muhammad?"

Salman berfikir cepat, kalau dia berkata jujur bahwa Nabi SAW telah wafat, mungkin lelaki ini akan pulang, tetapi kalau dia berkata masih hidup, maka ia berbohong. Maka Salman-pun berkata, "Marilah aku hantar engkau kepada sahabat-sahabat beliau!"

Salman membawa lelaki Yahudi tersebut ke Masjid, di sana para sahabat sedang berkumpul dalam keadaan sedih. Ketika tiba di pintu masjid, lelaki Yahudi ini berseru agak keras,

"Assalamu'alaika, ya Muhammad!"

Dia mengira Nabi SAW ada di antara kumpulan para sahabat tersebut, tetapi sekali lagi dia melihat reaksi yang menghairankan. Beberapa orang pecah tangisannya, beberapa lainnya semakin bertambah pilu dan kesedihan makin meliputi wajah-wajah mereka. Salah seorang sahabat berkata, "Wahai orang asing, siapakah engkau ini? Sungguh engkau telah memperbaharui luka hati kami! Apakah kamu belum tahu bahwa beliau telah wafat tiga hari yang lalu?"

Seketika lelaki Yahudi tersebut berteriak penuh kesedihan, "Betapa sedih hariku, betapa sia-sia perjalananku! Aduhai, andai saja ibuku tidak pernah melahirkan aku, andai saja aku tidak pernah membaca Taurat dan mengkajinya, andai saja dalam membaca dan mengkaji Taurat aku tidak pernah menemukan ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat dan keadaannya, andai saja aku bertemu dengannya setelah aku menemukan ayat-ayat Taurat tersebut….(tentu tidak akan sesedih ini keadaanku)!"

Lelaki Yahudi tersebut menangis tersedu, tenggelam dalam kesedihannya sendiri. Seakan seperti teringat sesuatu, tiba-tiba dia berkata, "Apakah Ali berada di sini, sehingga dia dapat menyebutkan sifat-sifatnya kepadaku!"

"Ada,aku Ali, akan menceritakan sfat-sifatnya kepadamu" kata Ali bin Abi Talib sambil mendekat kepada lelaki Yahudi tersebut.

"Wahai Ali, aku menemukan namamu tercantum dalam kitab Taurat bersama Muhammad, tolong engkau ceritakan padaku ciri- ciri beliau!"

Ali bin Abi Talib berkata, "Rasulullah SAW itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, kepalanya bulat, dahinya lebar, kedua matanya tajam, kedua alisnya tebal. Bila beliau tertawa, keluar cahaya dari sela-sela giginya, dadanya berbulu, telapak tangannya berisi, telapak kakinya cekung, lebar langkahnya, dan di antara dua belikat beliau ada tanda khatamun nubuwwah!!"

"Engkau benar, wahai Ali," Kata lelaki Yahudi tersebut, "Seperti itulah ciri-ciri Nabi Muhammad yang disebutkan dalam Kitab Taurat. Apakah masih ada sisa baju beliau sehingga aku boleh aku menciumnya?"

"Ada!" kata Ali, kemudian ia meminta tolong kepada Salman untuk mengambil jubah beliau yang disimpan Fatimah az-Zahra’, isterinya dan puteri kesayangan Nabi SAW.

Salman segera bangkit menuju ke tempat kediaman Fatimah. Di depan pintu rumahnya, dia mendengar tangisan Hasan dan Husain, cucu kecintaan Rasulullah SAW. Sambil mengetuk pintu, Salman berkata, "Wahai tempat kebanggaan para nabi, wahai tempat hiasan para wali!!"

"Siapakah yang mengetuk pintu orang yatim!" Fatimah menyahut dari dalam.

"Saya, Salman…" kata Salman, kemudian ia menyebutkan maksud kedatangannya sesuai yang dipesankan oleh Ali.

"Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?" Kata Fatimah sambil menangis.

Salman menceritakan peristiwa berkaitan dengan lelaki Yahudi tersebut, lalu Fatimah mengeluarkan jubah Rasulullah SAW, yang terdapat tujuh tampalan dengan tali serat kurma, dan menyerahkannya kepada Salman. Dia membawa jubah tersebut ke masjid dan menyerahkannya kepada Ali. Ali menerima jubah tersebut dan menciumnya, berjurai air matanya kerana haru dan tangis. Jubah Rasulullah SAW tersebut beredar dari satu sahabat ke sahabat lainnya yang hadir, mereka menciumnya dan banyak yang menangis kerana haru dan rindu kepada Nabi SAW, dan terakhir sampai ke tangan lelaki Yahudi tersebut.

Lelaki Yahudi ini mencium dan mendekap erat jubah Nabi SAW dan berkata, "Betapa harumnya jubah ini…!!"

Dengan tetap mendakap jubah tersebut, lelaki Yahudi ini mendekat ke makam Rasulullah SAW, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit dan berkata, "Wahai Tuhanku, daku bersaksi bahwa Engkau adalah Zat yang Maha Esa, Tunggal dan tempat bergantung (As- Somad). Dan daku bersaksi bahawa orang yang berada di kubur ini adalah Rasul-Mu dan kekasih-Mu. Daku membenarkan segala apa yang dia ajarkan! Wahai Allah, jika Engkau menerima keislamanku, maka cabutlah nyawaku sekarang juga..!!"

Tak lama kemudian lelaki Yahudi tersebut terkulai jatuh dan meninggal dunia disitu juga. Ali dan para sahabat lainnya segera memandikan dan menguruskan jenazah lelaki Yahudi, yang telah menjadi muslim tersebut, dan memakamkannya di perkuburan Baqi'.

Lelaki Yahudi ini bukanlah termasuk sahabat Nabi SAW, tetapi kecintaan dan kerinduannya kepada Nabi SAW tak kalah dengan para sahabat lainnya, walau dia belum pernah bertemu langsung dengan baginda. Memang patutlah kalau dia dimakamkan di Baqi' digandingkan dengan para sahabat baginda lainnya.

Riwayat : Tanbihul Ghafilin

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text