Social Icons

Tuesday, 17 February 2015

Bolehkah Membayangkan Wajah Guru?

Ini masalah yang mudah dan jelas kerana ianya adalah pegangan ulama ahli sunnah wal jamaah. Perbahasan mengenai hal ini seperti berikut:

Prof. Dr. H. Saidi Syeikh Kadirun Yahya menegaskan tentang perlunya menghadirkan mursyid ketika berzikir kerana sebagai imam rohani, syeikh dapat membantu dalam khusyuk berzikir dan beribadat. Sesungguhnya menghadirkan (menyertakan) Syeikh Mursyid dalam berzikir dan beribadat terdapat dalam kebanyakan disiplin zikir tarikat-tarikat yang masyhur. 

Hal ini bertepatan dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Saiyidina Umar bin Khattab, bahawa satu ketika Saiyidina Umar telah meminta izin kepada Nabi SAW untuk melaksanakan ibadat umrah, maka Nabi bersabda, “Wahai Umar, ikut sertakan aku - hadirkan aku, pada waktu engkau berdo’a nanti, dan jangan engkau lupakan aku”. Hadis ini adalah hadis hasan sahih. (Riwayat Abu Daud dan Turmuzi). 

Demikian pula menurut riwayat Saidina Abu Bakar r.a. dan Saidina Ali r.a. menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahawa mereka tidak pernah lupa, tapi selalu teringat kepada Rasulullah SAW pada setiap aktiviti harian mereka bahkan sampai pada waktu di dalam bilik air sekali pun. Maka Rasulullah membenarkan apa yang telah mereka alami itu. 

Para ulama sufi sepakat membolehkan dan membenarkan untuk menghadirkan Syeikh Mursyid karena fungsinya sebagai ulama pewaris Nabi, sebagai imam / pembimbing rohani, agar orang yang berzikir dan beribadat itu terhindar dari segala was-was dan godaan syaitan.  

Sabda Rasulullah SAW, ertinya: Dari Abdullah bin Busrin r.a. berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Sangat beruntunglah bagi orang yang melihat aku dan beriman kepadaku, sangat beruntung pula orang yang melihat orang yang telah melihat aku, demikian juga seterusnya orang yang telah melihat orang yang telah melihat aku tadi dan beriman kepadaku, dan beruntunglah kesemuanya dan bagi mereka semua mendapatkan sebaik-baik tempat kembali kepada Allah.” (H.R. At-Thabrani). 

Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Ya Ali, orang mu’min senantiasa tambah dalam agamanya selama tidak makan barang haram, dan barang siapa mencerai (menjauhi) ulama (jasmani dan rohani) maka matilah hatinya dan buta dari taat kepada Allah SWT (Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, Wasiyyatul Musthafa lil Imam Ali). 

Sayyid Al Bakri dalam buku “Kifayatul Atqiyah” mengatakan, bahawa yang dikatakan zikirullah itu ialah menghadirkan gurunya yang mursyid, agar menjadi teman dalam perjalanan menuju kepada Allah ta’ala (Sayyid Al Bakri, Kifayatul Atqiyah : 107). 

Sabda Rasulullah SAW, ertinya: Barangsiapa melihat aku, maka betul-betul dia telah melihat aku. Sesungguhnya aku berupaya menzahir dalam tiap-tiap rupa. (Sayyid Ahmad bin Idris, kitab Ruhus Sunnah Warauqun Nufusil .Mutma’innah). 

Sabda Rasulullah SAW: ertinya: Barangsiapa memuliakan orang alim, maka sesungguhnya dia telah memuliakan aku. Barangsiapa memuliakan aku, sesungguhnya dia telah memuliakan Allah dan barangsiapa yang memuliakan Allah maka syurgalah tempatnya (Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as Suyuti, kitab “Lubabul Hadis”). 

Sabda Rasulullah SAW, Artinya : Barangsiapa melihat wajah orang alim (jasmani dan rohani) satu kali, dan dia bergembira, senang, menghayati dengan penglihatan itu, maka Allah ta’ala akan menjadikan dengan melihatnya itu, malaikat-malaikat yang memintakan ampun untuknya sampai hari kiamat. (Kitab Lubabul Hadis). 

Syekh Amin Al Kurdi menjadikan kisah Yusuf dengan Siti Zulaikha yang tidak terselamat dari melakukan perkara keji kerana terbayang atau hadirnya dalam rohani ingatan Yusuf, yaitu ayahnya sendiri dan suami Zulaikha (Al Aziz, Perdana Menteri Mesir), betapa murkanya mereka ini nanti kalau terjadi perbuatan yang keji itu. 

Syekh Amin Al Kurdi dan tokoh-tokoh sufi lainnya menjadikan Q.S. Yusuf 12 : 23 dan 24 ini sebagai dalil boleh dan perlunya menghadirkan mursyid supaya terhindar dari was-was iblis dan syaitan. Nabi Yusuf menghadirkan ayahnya iaitu Nabi Yaakub dalam ingatan, sekaligus tersambung kepada Allah SWT, sehingga tercegahlah perbuatan tidak susila itu. 

Firman Allah SWT, ertinya: Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, “Marilah ke sini”. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuan-ku telah memperlakukan aku dengan baik”. 

"Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf. Dan Yusuf pun tentu akan bermaksud (melakukannya pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba- hamba Kami yang terpilih". (Q.S. Yusuf 12 : 23 – 24). 

Yang memberi bekas adalah kudrat dan iradat Allah SWT yang merupakan power dan 'frekuensi' tak terhingga yang langsung dari Allah SWT, yang tersalur melalui arwahul muqaddasah para Nabi dan para Rasul, serta para wali Allah dan kepada orang-orang saleh yang berzikir, baik lahir maupun batin bersama-sama dengan mereka. 

Orang yang merabithkan rohaniahnya kepada rohaniah wali-wali yang ada padanya wasilah, maka dia akan langsung juga mendapatkan power dan frekuensi wasilah yang tak terhingga itu, sehingga berlaku keajaiban demi keajaiban yang disebut khariqul ‘adah dalam bentuk ma’unah ataupun karamah. 

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text