Social Icons

Wednesday, 28 January 2015

Mencari Mursyid - Siapa, Di Mana Dan Bagaimana Mengenalinya?

Pengertian Mursyid

Kata Mursyid berasal dari bahasa arab yaitu isim fail dari أرشد- يرشد yang berarti orang yang memberikan petunjuk jalan atau dalam bahasa Inggeris disebut 'guide'.

Mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat. Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat adalah tentang Allah yang merupakan DZAT yang tidak bisa diindera, dan rutinitas thariqah adalah dzikiryang sangat dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang Mursyid untuk mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupunmental, baik terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah.

Seorang Mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkannya pada bentuk pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing Mursyidyang disampaikan pada kita berbeda-beda, tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ila-Allah.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya. Mursyid itu berupaya mengukur keupayaan jiwa anak didiknya.

Syarat-syarat Seorang Mursyid

Menjadi guru tarekat (Mursyid) tidaklah semudah seperti menjadi guru pada umumnya. Seorang Mursyid harus memiliki kualifikasi khusus. Para ulamak sufi menetapkan syarat-syarat guru tarekat seperti ungkapan di bawah ini :

ومن شرائط الشيخ ان يكون عالما بالاوامر الشرعية عاملا بها واقفا على اداب الطريقة سالكا فيها كاملا فى عرفان الحقيقة وواصلا اليها ومحرصا عن جميع ذلك

Artinya : “Diantara syarat guru tarekat adalah alim atas perintah-perintah syara`, mengamalkannya, tegak di atas adab-adab tarekat serta berjalan di dalamnya, sempurna pengetahuannya tentang hakekat dan sampai pada hakekat itu serta ikhlas dalam semua hal tersebut”.

Imam Al-Junaidi ra. menyatakan:

علمنا هذا مقيد بالكتاب والسنة فمن لم يقرأ القران ولم يكتب الحديث
 ولم يجالس العلماء لايقتدى به فى هذا الشأن

Artinya : “Ilmu kita ini (tarekat) terikat oleh Al-Qur`an dan Assunnah. Siapa saja yang belum belajar Al-Qur`an dan As-Sunnah dan tidak pula pernah duduk di depan para Ulama (untuk menuntut ilmu) orang tersebut tidak boleh diikuti di dalam tingkah laku tarekat ini”.
Secara asanya ada empat syarat yang harus dimiliki seorang mursyid agar dia dapat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada manusia. Keempat syarat itu adalah :

1. Dia harus mengetahui semua hukum Fardhu ‘ain.

Seorang Mursyid mengetahui semua hukum fardhu ‘ain, seperti hukum-hukum salat, puasa, zakat bila sampai nisab, muamalah, jual beli apabila dia bergelut di dunia perdagangan, dan hukum-hukum Islam lainnya. Disamping itu, dia harus mengetahui akidah Ahli sunnah dalam masalah tauhid. Dia harus mengetahui apa-apa yang wajib bagi Allah, apa-apa yang jaiz bagi-Nya, dan apa-apa yang mustahil bagi-Nya, baik secara global maupun secara detail. Demikian juga halnya dengan Rasul dan rukun iman lainnya.

2. Dia perlu berMakrifat atau mengenal Allah.

Seorang Mursyid harus mengaktualisasikan akidah Ahli Sunnh dalam perbuatan dan keyakinannya, setelah dia mengetahuinya sebagai ilmu. Dia harus mengakui di dalam hati dan jiwanya kebenaran akidah tersebut. Dia harus bersaksi bahawa Allah itu Esa di dalam DZAT-Nya. Disamping itu, dia juga harus mengetahui kehadiran nama-nama Allah, baik dengan cita rasa spiritualnya maupun dengan pandangan mata hatinya, lalu mengembalikannya kepada kehadiran yang tunggal yang mencakup semuanya. Dia tidak meragukan banyaknya nama-nama Allah, sebab banyaknya nama tidak menunjukkan banyaknya DZAT.

3. Dia perlu mengetahui teknik-teknik pensucian jiwa dan proses mendidiknya

Seorang Mursyid harus mensucikan jiwanya terlebih dahulu dibawah bimbigan seorang pendidik spiritual atau Mursyid. Dengan demikian, dia mengetahui tingkatan-tingkatan jiwa, penyakit-penyakitnya dan godaan-godaannya. Dia mengetahui penghalang bagi setiap fase perjalanan dan cara menaganinya sesuai dengan kondisi setiap orang.

4. Dia mestilah seorang yang mempunyai makrifat khassah. 

Maksudnya seorang Mursyid itu hendaklah seorang yang sudah mencapai tahap rasa takutkan Allah yang membekas di hati dan peribadinya. Ini semua dapat dilihat dan dirasa oleh orang yang mempunyai basirah terutama ulamak amilin sezamannya. Begitu juga dia adalah seorang yang sentiasa terhubung hatinya dengan Rasulullah saw. Semua anugerah makrifat ini didapatkannya samada dari hasil mujahadah atau dari anugerah Allah padanya. Ketulusan hati dalam mendapatkan Allah menjadikan jalannya menuju Allah itu terbentang luas dengan keberkatan junjungan mulia Rasulullah saw. 

Rasulullah s.a.w. pernah berwasiat kepada Ibnu Umar tentang hal itu dalam sabdanya, “ Hai Ibnu Umar, agamamu, agamamu. Sesungguhnya dia adalah daging dan darahmu. Maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya. Ambillah agama dari orang-orang yang istiqamah, dan janganlah engkau mengambilnya dari orang-orang menyimpang.”(HR. Ibnu ‘Ady).

Diantara tanda-tanda Mursyid Kamil ialah seperti berikut:

a.  Wujudnya rasa tenang, lapang dan sejahtera ketika bersamanya.

Jika kita duduk bersamanya, maka kita akan terasa adanya hembusan iman dan aroma yang menyejukkan jiwa. Dia tidak berbicara selain tentang Allah, tidak mengucapkan selain kebaikan dan tidak bercakap selain memberi nasihat dan pengajaran. Semua yang diungkapkan adalah ilmu yang mendidik jiwa serta mencetus keinsafan. Kita dapat mengambil manfaat dari pergaulan dengannya, sebagaimana dari pembicaraannya. Kita dapat mengambil manfaat ketika kita berada dekat dengannya, sebagaimana kita memperolehinya ketika jauh darinya. Memandangnya sahajapun mendapat manfaat jiwa apatah lagi mendengar bicaranya!!

b.   Wujudnya aura kasih sayang yang luar biasa.

Kita mendapatkan potret keimanan, keikhlasan, ketakwaan dan kerendahan hati pada diri nya dan para muridnya. Ketika kita bergaul dngan mereka, kita terkesan dengan sifat-sifat mulia, seperti cinta kasih, kejujuran, tolong menolong, bekerjasama, bantu membantu dan persaudaran yang tulus.  .

Seramai manakah jumlah murid yang belajar kepada seseorang Mursyid itu bukan ukuran. Tapi yang dinilai adalah tahap rasa takutnya mereka kepada Allah. Sejauh mana terbebasnya mereka dari noda-noda dan penyakit-penyakit jiwa dan adakah mereka dapat istiqamah perjalanan mereka menuju Allah.

c.  Ciri pengikutnya datang dari berbagai status.

Inilah ciri para sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka muncul dari pelbagai latar belakang sosial. Para murid bagi mursyid ini datang dari berbagai bangsa, negara, status sosial, kepakaran dan pengalaman. Kepelbagaian mereka adalah tanda kesyumulan dakwah yang dijayakan oleh seseorang mursyid itu.

Maka keuntungan mendapat seorang Mursyid akan mendorong murid untuk mengambil ilmu darinya, terus bergaul dengannya, berakhlak seperti akhlaknya, serta mengamalkan nasihat dan bimbingannya, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jadi mursyid itu berjaya mengumpulkan murid-muridnya yang berbeza latar belakang untuk berada di wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana  semuanya seiringan dalam bermujahadah untuk membebaskan diri dari cinta dunia dan takut mati. 

Mungkin sebahagian muridnya sudah berjaya mencapai tahap kekasih Allah yang sudah menyerahkan hidup matinya untuk membela Allah dan Rasul.

Dalam al-Qur’an disebutkan:
“Ingatlah, bahawa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.”

Tidak takut dan tidak gentar adalah tanda kewalian. Mereka tidak merasa gelisah atau susah. Justeru tanda kejayaan mursyid itu ialah berjaya melahirkan murid-murid yang sebegini. Gabungan mursyid dan murid yang mantap inilah yang melonjakkan para murid yang lain untuk terus meningkatkan diri masing-masing. 

Secara umum, mereka senada dan seirama dalam hal berikut:

1.   Mempunyai rasa takut kepada Allah swt. dengan sebenar-benar takut. Ini semua           dapat dilihat pada ibadah mereka yang dilakukan sungguh-sungguh dengan penuh               khusyuk.

2.   Sangat fanatik dengan Sunnah Nabi Saw. samada dari sudut kata-kata, akhlak, 
      tindakan, pergaulan dan jiwa perjuangan.

3.   Tidak mengharap kepada manusia. Pemusatan jiwa mereka hanya kepada Allah di               mana jua mereka berada, dalam situasi apa sekalipun dan pada bila-bila masa.

4.   Sangat redha dengan apa jua ketentuan Allah. Susah payah, senang atau derita - 
      semuanya baik pada mereka kerana kuatnya keyakinan hati mereka dengan Allah.

5.   Sangat berkasih sayang sesama mereka. Masing-masing saling menggembirakan 
      orang lain. Mengutamakan orang lain adalah kunci perpaduan dan kebahagiaan yang 
      tidak mudah berlaku di dalam masyarakat yang tidak mempunyai mursyid.

Kesimpulannya, hasil didikan mursyid yang sebegini, akan lahirlah masyarakat yang mempunyai:

1)   Himmah yang tinggi. 
Mereka mempunyai kekuatan jiwa yang kental, tahan deng ankesusahan dan kesulitan. Mereka sanggup menderita demi membina sistem hidup berlandaskan cara hidup Rasulullah saw. Bukankah sikap tidak mementingkan diri itu akan menjadikan seseorang itu memberikan apa yang dimilikinya untuk membahagiakan orang lain yang menderita?

2)   Menjaga kehormatan. 
Kemuliaan seseorang insan itu pada nilai rasa takutnya kepada Allah. Hamba yang takut akan sentiasa menjaga dan mengawal diri dari terjebak dengan maksiat dan mungkar. Sekali terbuat salah, mereka rasa malu dengan Allah. Mereka sanggup menebus rasa bersalah itu lebih banyak berkorban, bersedekah dan membela orang lain. Masyarakat yang dididik muryid ini adalah masyarakat yang tidak terjebak dengan dosa yang mengaibkan. Mereka mungkin sekali sekala berbuat dosa kecil yang segera pula ditaubatkan. 

3)  Amal bakti yang baik. 
Antara kebahagiaan orang yang takutkan Allah ialah berbuat bakti sesama manusia. Siapa sahaja akan menjadi sasaran kebaikannya. Jika mereka bersalah, tindakan mereka ialah meminta maaf. Jika mereka disakiti, balasannya adalah kemaafan, Jika mereka dibantu, mereka membalasnya dengan apa sahaja yang mereka miliki. Jika mereka dihargai, dipuji dan disanjung, mereka akan kembalikan semuanya kepada Allah yang maha memiliki. Mereka tidak sempat untuk merasa bangga atau istimewa. Orang lain tidak pernah tersinggung atau sakit hati dengan mereka.

4) Melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.  
Rasa takutkan Allah akan menjadikan seseorang itu sangat sensitif dengan dosa dan maksiat. Kasih sayang mereka dengan sesama manusia mendorong mereka berusaha memberi kesedaran dan keinsafan. Ianya terbit dari hati yang tulus untuk menyelamatkan seramai mungkin insan dari dibakar api eraka di akhirat. Sebab itu mereka berusaha menyedarkan umat dengan cara hikmah dan bijaksana. Mereka tidak akan terjebak dengan cara militan, kekerasan atau revolusi. Para mursyid sentiasa mengutamakan kasih sayang dan perpaduan. Islam yang selamat dan menyelamatkan itulah yang sentiasa ditonjolkan. Justeru mereka pelbagaikan kaedah dan pendekatan dakwah agar masyarakat mendapat Allah dan Rasul. Kebahagiaan mereka ialah jika mereka berjaya mempromosi Allah dan Rasul dengan cara yang lunak dan indah.

5) Mengagungkan Nikmat Allah Swt.
Orang-orang Allah yang dididik mursyid adalah kelompok yang hati mereka tidak putus dengan Allah. Justeru mereka akan sentiasa nikmat Allah yang tidak terhingga. Itulah kesibukan mereka. Nikmat Allah itu mahu disyukuri. Seboleh-bolehnya tidak ada nikmat yang tdak disyukuri. Mereka mahu membilangnya tanpa henti. Sebab itu akan kelihatan jelas bagaimana mereka membesarkan nikmat Allah. Mereka akan perlihatkan nikmat itu dengan sehebat-hebatnya agar manusia lain juga turut kagum dengan Allah. Sebab itu mereka akan menghias cantik, menyusun atur kelengkapan apa saja dengan kemas, menarik dan kelihatan hebat. Tarafnya melebihi hotel paling mahal di dunia. Mereka tidak rasa hak mereka kerana semuanya adalah milik Allah yang mesti dikembalikan padaNya dalam bentuk penuh kehebatan dan keagungan.

Dari sini, jelaslah bahawa setiap sufi di zaman ini hendaklah mencari mursyid benar-benar memenuhi ciri-ciri di atas. Islam di akhir zaman mesti dilihat hebat dan berwibawa. Hanya mursyid yang dipimpin Allah sahaja yang mampu berbuat sebegini rupa. Dialah yang akan berjaya sampai kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Dialah yang akan menjadi suri teladan paling sempurna di zamannya. 

Tentulah kita sedar, bagaimana Jibrail membimbing Rasulullah saw ketika dibawa menuju Allah dalam Isra’ dan Mikraj. Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini sama dengan fungsi Mursyid di mata kaum sufi. 

Hal yang sama, ketika Nabi Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani Nabi Khidir as. Hubungan Nabi Musa dan Nabi Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Mursyidnya. Maka dalam soal-soal rasional serta logik, Nabi Musa as sangat progresif. Tetapi ternyata Nabi Musa tidaklah sehebat Nabi Khidir dalam soal batiniyah. Hakikatnya mereka berdua mempunyai bidang tugas di ruangan yang berbeza.

Inilah etika yang perlu difahami dalam menerima hakikat yang Pak Lang bicarakan ini. Semoga Allah terus memahamkan kita semua tentang agamanya. 

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text