Social Icons

Thursday, 18 February 2016

Mengenali Imam-Imam Mujtahid Dan Kedudukan Mereka

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqh Al Islami wa Adilatuhumenyebutkan 6 tingkatan mujtahid fiqih yang ada, tambahan 1 peringkat oleh Ibnu Abidin:


1. Mujtahid Muthlaq Mustaqil (Mujtahid Independen).
Seorang mujtahid mustaqil memiliki kemampuan untuk membuat kaidah-kaidah fikih berdasarkan kesimpulan terhadap perenungan dalil Al Quran dan Sunah. Selanjutnya, kaidah-kaidah ini digunakan sebagai landasan dalam membangun pendapatnya. Di antara ulama yang telah mencapai derajat mujtahid mustaqil adalah para imam mazhab yang empat.

Menurut Ustadz Ahmad Sarwat, level mujtahid seperti ini amat jarang kita temukan. Sepanjang sejarah, jumlah mereka kurang lebih hanya sekitar 10-an orang saja. Dan sayangnya, tidak semua mazhab mereka kekal di atas bumi ini. Kebanyakannya mati dan hilang begitu saja ditelan sejarah. Ibnu Abidin menamakan tingkatan ini dengan, tingkatan Mujtahid dari segi Syari’at.


2. Mujtahid Mutlaq Ghairu Mustaqil (Mujtahid Muthlaq yang Tidak Berijtihad Sendiri)

Mereka adalah orang yang telah memenuhi persyaratan dalam berijtihad secara independen, namun mereka belum membangun kaidah sendiri tetapi hanya mengikuti metode imam mazhab dalam berijtihad. Mereka memiliki kemampuan menetapkan hukum dari beberapa dalil sesuai dengan kaidah yang ditetapkan pemimpin mazhab. Bisa jadi, mereka berselisih pendapat dalam beberapa masalah yang terperinci di bidang fikih, namun secara prinsip, mereka mengikuti imam mazhab.

Contohnya, para murid imam mazhab, seperti Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy Syaibani, yang keduanya adalah murid senior Imam Abu Hanifah. Kemudian Ibnul Qasim, Al Asyhab, dan Ibnul Majisyun, yang merupakan ulama mujtahid dalam Mazhab Maliki. Sedangkan mujtahid mutlaq dari Mazhab Syafii misalnya Al Muzanni dan Yusuf bin Yahya Al Buwaithi. Sementara, mujtahid mutlaq dari Mazhab Hambali misalnya Imam Abu Bakr Al Atsram dan Al Marudzi.

Inilah yang Ibnu Abidin namakan, tingkatan Mujtahid dalam Madzhab. Dua tingkatan mujtahid di atas sudah tidak ada pada zaman sekarang.


3. Mujatahid Muqayyad (Mujtahid Terikat).

Mereka adalah kelompok ulama mujtahid yang memiliki kemampuan untuk mengkiaskan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh imam mazhab, untuk memecahkan permasalahan baru yang tidak terdapat dalam keterangan-keterangan ulama mazhab. Pendapat hasil ijtihad ulama pada tingkatan ini disebut dengan “al wajh”. Terkadang, dalam satu mazhab, para ulama dalam mazhab tersebut berbeda pendapat, sehingga sering dijumpai dalam penjelasan di buku fikih, pada suatu permasalahan terdapat sekian wajh. Artinya, dalam permasalahan itu terdapat sekian pendapat dalam mazhab tersebut.

Di antara ulama yang berada di tingkatan ini adalah adalah Imam Ath Thahawi, Al Kurkhi, dan As Sarkhasi, yang semuanya merupakan ulama dari Mazhab Hanafi. Sementara mujtahid muqayyad dari Mazhab Maliki di antaranya adalah Al Abhari dan Ibnu Abi Zaid Al Qairuwani. Sedangkan mujtahid dari kalangan Mazhab Syafi’i adalah Abu Ishaq Asy Syirazi, Ibnu Khuzaimah, dan Muhammad bin Jarir. Adapun dari kalangan Mazhab Hambali, di antaranya adalah Al Qadhi Abu Ya’la dan Al Qadhi Abu Ali bin Abu Musa rahimahumullah.

Mereka semua disebut para Imam Al Wujuh, karena mereka dapat meyimpulkan suatu hukum yang tidak ada nashnya dalam kitab madzhab mereka, dinamakan Wajhan dalam madzhab (satu segi dalam madzhab) atau satu pendapat dalam madzhab, mereka berpegang kepada madzhab bukan kepada Imamnya (gurunya), hal ini tersebar dalam dua madzhab yaitu, Asy Syafi’iyah dan Al Hanabalah. Demikian dikutip dari Seri Fiqih dan Kehidupan.


4. Mujtahid Takhrij
Jumhur ulama tidak membedakan antara mujtahid muqayyad dengan mujtahid takhrij, sedangkan Ibnu Abidin meletakkan thabaqat mujtahid takhrij di tempat keempat setelah mujtahid muqayyad dengan memberi contoh Ar Razi Al Jashash (meninggal 370 H) dan yang setingkat dengannya.

Mereka adalah deretan ulama yang men-takhrij beberapa pendapat dalam mazhab. Kemampuan mereka dalam menguasai prinsip dan pengetahuan mereka dalam memahami landasan mazhab telah menjadi bekal bagi mereka untuk menguatkan salah satu pendapat.


5. Mujtahid Tarjih
Mereka adalah kelompok mujtahid yang memiliki kemampuan memilih pendapat yang lebih benar dan lebih kuat, ketika terdapat perbedaan pendapat, baik perbedaan antara imam mazhab atau perbedaan antara imam dengan muridnya dalam satu mazhab.

Di antara ulama yang mencapai jenjang ini adalah Imam Al Marghinani dan Abul Hasan Al Qaduri dari Mazhab Hanafi, Imam Khalil bin Ishaq Al Jundi dari Mazhab Maliki, Ar Rafi’i dan An Nawawi dari Mazhab Syafi’i, serta Imam Al Mardawi dari kalangan Mazhab Hambali.


6. Mujtahid Fatwa
Mereka adalah para ulama yang memahami pendapat mazhab, serta menguasai segala penjelasan dan permasalahan dalam mazhab, sehingga mereka mampu memenentukan mana pendapat yang paling kuat, agak kuat, dan lemah. Namun, mereka belum memiliki kepiawaian dalam menentukan landasan kias dari mazhab.

Di antara ulama yang menduduki derajat ini adalah para penulis kitab matan fikih, seperti Imam An Nasafi (penulis kitab Kanzu Ad Daqaiq), Imam Al Hasfaki (penulis kitab Ad Durrul Mukhtar), dan Syekh Zadah (penulis kitab Majma’ Al Anhar), yang kesemuanya berasal dari kalangan Mazhab Hanafi. Contoh yang lain adalah Imam Ar Ramli dan Al Hafizh Ibnu Hajar dari kalangan Mazhab Syafi’i.


7. Thabaqat Muqallid (Orang Yang Taklid).
Al muqallidin adalah orang yang tidak mempuntyai kemampuan untuk membuan perbedaan antara pendapat yang lemah dan yang kuat, serta tidak dapat membedakan antara yang rajih dan yang marjuh.


Tingkatan-tingkatan Mujtahid
Mujtahid terbagi kepada beberapa tingkat, yaitu mujtahid mustaqil, mujtahid muntasib, mujtahid fi al-mazhab, dan mujtahid fi at-tarjih .

1. Mujtahid Mustaqil (independen) adalah tingkat tertinggi, disebut juga sebagai al-mujtahid fi al-Syar’i, atau Mujtahid Mutlaq. Untuk sampai ke tingkat ini seseorang harus memenuhi syarat-syarat tersebut. Mereka disebut mujtahid mustaqil, yang berarti independen, karena mereka terbebas dari bertaqlid kepada mujtahid lain, baik dalam metode istinbat (ushul fiqh) maupun dalam furu’ (fikih hasil ijtihad). Mereka sendiri mempunyai metode istinbat, dan mereka sendirilah yang menerapkan metode instinbat itu dalam berijtihad untuk membentuk hukum fikig. Contohnya, para imam mujtahid yang empat orang, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad bin Hanbal. 

2. Mujtahid Muntasib, yaitu mujtahid yang dalam masalah ushul fiqh, meskipun dari segi kemampuannya ia mampu merumuskannya, namun tetap berpegang kepada Ushul Fiqh Abu Hanifah. Akan tetapi, mereka bebas dalam berijtihad, tanpa terikat dengan seorang mustaqil. Menurut Ibn ‘Abidin (w. 1252 H), seorang pakar fikih mashab Hanafi, seperti dikutip Satria Efendi, termasuk dalam kelompok ini murid-murid Abu Hanifah, seperti Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani dan Qadhi Abu Yusuf. Dari kalangan Syafi’iyah antara lain adalah al-Muzanni, dan dari kalangan Malikiyah antara lain Abdurrahman bin al-Qasim, dan Abdullah bin wahhab. Mujtahid seperti ini dinisbahkan kepada salah seorang mujtahid mustaqil karena memakai metode istinbatnya. 

3. Mujtahid fi al-Mazhab, yaitu tingkat mujtahd yang dalam Ushul Fiqh dan furu’ bertaklid kepada imam mujahid tertentu. Mereka disebut mujtahid karena mereka berijtihad mengistibatkan hukum pada permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan dalam buku-buku mazhab imam mujtahid yang menjadi panutannya. Mereka tidak lagi melakukan ijtihad pada masalah-masalah yang sudah ditegaskan hukumnya dalam buku-buku fikhih mazhabnya. Misalnya, Abu Al-Hasan karkhi (260 H-340H), Abu ja’far at – Thahawi (230 -321 H) dan al-Hasan bin Ziyad (w.204 H) dari kalangan hanafiyah, Muhammad bin Abdullah al-Abhari (289 H-375 H) dari kalangan Malikiyah, dan Ibnu Abi Hamid al-Asfrini (344 H-406 H) dari kalangan syafi’iyah. 

4. Mujtahid fi at-Tarjih, yaitu mujtahid yang kegiatannya bukan mengistinbatkan hukum tetapi terbatas memperbandingkan berbagai mazhab atau pendapat, dan mempunyai kemampuan untuk mentarjih atau memilih salah satu pendapat terkuat dari pendapat-pendapat yang ada, dengan memakai metode tarjih yang telah dirumuskan oleh ulama-ulama mujtahid sebelumnya. Dengan metode ini, ia sanggup mengemukakan di mana kelemahan dalil yang dipakai dan dimana keunggulannya

Istilah untuk seorang ulama ahli fikih adalah “al faqih”, bentuk jamaknya: fuqaha’. Para ulama menjelaskan bahwa ada tujuh tingkatan fuqaha’. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1:82 dan Al Fiqh Al Islami, 1:45). Dalam bahasa Indonesia, kata “fuqaha’” dituliskan sebagai “fukaha”. 


Dikutip dari Ensiklopedia Islam Yufidia, berikut ini tingkatan-tingkatan para mujtahid ahlih fiqih tersebut.

Pertama: Mujtahid mustaqil (mujtahid independen).
Ini merupakan tingkatan fukaha paling tinggi. Seorang mujtahid mustaqil memiliki kemampuan untuk menetapkan kaidah-kaidah fikih berdasarkan kesimpulan terhadap perenungan dalil Al Quran dan Sunah. Selanjutnya, kaidah-kaidah ini digunakan sebagai landasan dalam membangun pendapatnya. Di antara ulama yang telah mencapai derajat mujtahid mustaqil adalah para imam mazhab yang empat.

Kedua: Mujtahid mutlaq yang tidak mustaqil.
Mereka adalah orang yang telah memenuhi persyaratan dalam berijtihad secara independen, namun mereka belum membangun kaidah sendiri tetapi hanya mengikuti metode imam mazhab dalam berijtihad. Mereka memiliki kemampuan menetapkan hukum dari beberapa dalil sesuai dengan kaidah yang ditetapkan pemimpin mazhab. Bisa jadi, mereka berselisih pendapat dalam beberapa masalah yang terperinci di bidang fikih, namun secara prinsip, mereka mengikuti imam mazhab.

Contohnya, para murid imam mazhab, seperti Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy Syaibani, yang keduanya adalah murid senior Imam Abu Hanifah. Kemudian Ibnul Qasim, Al Asyhab, dan Ibnul Majisyun, yang merupakan ulama mujtahid dalam Mazhab Maliki. Sedangkan mujtahid mutlaq dari Mazhab Syafii misalnya Al Muzanni dan Yusuf bin Yahya Al Buwaithi. Sementara, mujtahid mutlaq dari Mazhab Hambali misalnya Imam Abu Bakr Al Atsram dan Al Marudzi.

Ketiga: Mujatahid muqayyad (mujtahid terikat).
Mereka adalah kelompok ulama mujtahid yang memiliki kemampuan untuk mengkiaskan keterangan-keterangan yang disampaikan oleh imam mazhab, untuk memecahkan permasalahan baru yang tidak terdapat dalam keterangan-keterangan ulama mazhab. Pendapat hasil ijtihad ulama pada tingkatan ini disebut dengan “al wajh”. Terkadang, dalam satu mazhab, para ulama dalam mazhab tersebut berbeda pendapat, sehingga sering dijumpai dalam penjelasan di buku fikih, pada suatu permasalahan terdapat sekian wajh. Artinya, dalam permasalahan itu terdapat sekian pendapat dalam mazhab tersebut.

Di antara ulama yang berada di tingkatan ini adalah adalah Imam Ath Thahawi, Al Kurkhi, dan As Sarkhasi, yang semuanya merupakan ulama dari Mazhab Hanafi. Sementara mujtahid muqayyad dari Mazhab Maliki di antaranya adalah Al Abhari dan Ibnu Abi Zaid Al Qairuwani. Sedangkan mujtahid dari kalangan Mazhab Syafi’i adalah Abu Ishaq Asy Syirazi, Ibnu Khuzaimah, dan Muhammad bin Jarir. Adapun dari kalangan Mazhab Hambali, di antaranya adalah Al Qadhi Abu Ya’la dan Al Qadhi Abu Ali bin Abu Musa rahimahumullah.

Keempat: Mujtahid takhrij.
Mereka adalah deretan ulama yang men-takhrij beberapa pendapat dalam mazhab. Kemampuan mereka dalam menguasai prinsip dan pengetahuan mereka dalam memahami landasan mazhab telah menjadi bekal bagi mereka untuk menguatkan salah satu pendapat.
Di antara ulama yang tergolong pada tingkatan ini adalah Imam Ar Razi dan Al Jashas.

Kelima: Mujtahid tarjih.
Mereka adalah kelompok mujtahid yang memiliki kemampuan memilih pendapat yang lebih benar dan lebih kuat, ketika terdapat perbedaan pendapat, baik perbedaan antara imam mazhab atau perbedaan antara imam dengan muridnya dalam satu mazhab.

Di antara ulama yang mencapai jenjang ini adalah Imam Al Marghinani dan Abul Hasan Al Qaduri dari Mazhab Hanafi, Imam Khalil bin Ishaq Al Jundi dari Mazhab Maliki, Ar Rafi’i dan An Nawawi dari Mazhab Syafi’i, serta Imam Al Mardawi dari kalangan Mazhab Hambali.

Keenam: Mujtahid fatwa.
Mereka adalah para ulama yang memahami pendapat mazhab, serta menguasai segala penjelasan dan permasalahan dalam mazhab, sehingga mereka mampu memenentukan mana pendapat yang paling kuat, agak kuat, dan lemah. Namun, mereka belum memiliki kepiawaian dalam menentukan landasan kias dari mazhab.

Di antara ulama yang menduduki derajat ini adalah para penulis kitab matan fikih, seperti Imam An Nasafi (penulis kitab Kanzu Ad Daqaiq), Imam Al Hasfaki (penulis kitab Ad Durrul Mukhtar), dan Syekh Zadah (penulis kitab Majma’ Al Anhar), yang kesemuanya berasal dari kalangan Mazhab Hanafi. Contoh yang lain adalah Imam Ar Ramli dan Al Hafizh Ibnu Hajar dari kalangan Mazhab Syafi’i.

Ketujuh, tingkatan para muqallid (orang yang taklid).
Mereka adalah orang yang tidak mampu membedakan antara (pendapat) yang kuat dan yang tidak kuat. Inilah tingkatan umumnya masyarakat.

0 comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text