Social Icons

Thursday, 23 June 2016

Lagi Kisah Waraqah Bin Naufal Yang Jarang Diketahui


Perihal Waraqah bin Naufal, Ubaidillah bin Jahsy, Ustman bin Al-Huwairist dan Zaid bin Amr

Ibnu Ishaq berkata, “Pada suatu hari raya, orang-orang Quraisy mengadakan perjumpaan di samping salah satu dari patung-patung mereka. Mereka mengkultuskan patung tersebut, menyembelih haiwan qurban untuknya, duduk berdoa disampingnya, dan tawaf di sekitarnya. Itulah hari raya mereka dalam setiap tahunnya.

Mereka semua seperti itu, kecuali empat orang di antara mereka. Sebahagian dari empat orang tersebut berkata kepada sahabatnya, ‘Bersahabatlah kalian, dan hendaklah sebahagian dari kalian merahsiakan dirinya dari sebahagian yang lain.’

Keempat orang tersebut adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai, Ubaidillah bin Jashsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah (ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muththalib), Othman bin Al-Huwirits bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai dan Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai.

Sebahagian di antara mereka berkata kepada sebahagian yang lain, ‘Demi Allah, belajarlah kalian, kerana kaum kalian tidak berada pada sesuatu yang bisa dikendalikan. Sungguh mereka telah menyimpang dari agama nenek moyang mereka, Ibrahim. Bukan batu yang kita tawaf di sekitarnya, kerana batu tidak mendengar, tidak melihat, tidak mampu memberi mudharat, dan tidak mampu memberi manfaat. Sahabat-sahabatku, carilah kebaikan untuk diri kalian. Demi Allah, kalian tidak berada pada sesuatu yang mudah untuk dihadapi.’

Kemudian mereka mengembara ke negeri-negeri lain guna mencari agama Ibrahim yang lurus.”

Perihal Waraqah bin Naufal 

Ibnu Ishaq berkata, “Adapun Waraqah bin Naufal, ia memeluk agama Nasrani, dan mengikuti kitab-kitab dari umat Ahli Kitab, hingga mendapatkan ilmu dari mereka.”

Perihal Ubaidillah bin Jahsy 

Ibnu Ishaq berkata, “Adapun Ubaidillah bin Jahsy, ia mencari agama Ibrahim yang lurus hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslim ke Habasyah. Ketika hijrah, ia disertai isterinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang juga telah masuk Islam. Namun ketika tiba di Habasyah, ia masuk agama Nasrani dan keluar dari Islam. Ia meninggal di Habasyah dalam keadaan memeluk agama Nasrani.”

Ibnu Ishaq berkata bahawa Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair berkata kepadaku, sesudah memeluk agama Nasrani, Ubaidillah berjalan melewati sahabat-sahabat Rasulullah Saw yang berada di Habasyah. Mereka berkata, “Kami telah melihat, sedang kalian berusaha untuk melihat tetapi tidak bisa melihatnya.” Ini kerana jika anak anjing ingin membuka kedua matanya untuk melihat, ia takut untuk melihat.

Pernikahan Rasulullah Saw dengan Ummu Habibah Radhiyallahu Anha 

Ibnu Ishaq berkata, “Sepeninggalan Ubaidillah bin Jahsy, Rasulullah Saw menikahi isterinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan.”

Ibnu Ishaq berkata bahawa Muhammad bin Ali bin Husain berkata kepadaku, “Rasulullah Saw mengutus Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri menghadap An-Najasyi, kemudian An-Najasyi melamar Ummu Habibah untuk Rasulullah Saw dan beliau memberi mahar kepadanya sebesar empat ratus dinar.”

Muhammad bin Ali berkata, “Kami lihat Abdul Malik bin Marwan menentukan mahar wanita sebesar empat ratus dinar berdasarkan mahar Rasulullah Saw kepada Ummu Habibah. Wakil Rasulullah Saw dalam pernikahan tersebut adalah Khalid bin Sa’id bin Al-Ash.”

Perihal Othman bin Al-Huwairits 

Ibnu Ishaq berkata, “Adapun Othman bin Al-Huwairits, ia datang kepada Kaisar, raja Romawi, kemudian memeluk agama Nasrani, dan memperoleh kedudukan tinggi di sana.”

Ibnu Hisyam berkata, “Ada hadits tentang keberadaan Othman bin Al-Huwairits di Kaisar, namun saya enggan menyebutkannya.”

Perihal Zaid bin Amr bin Nufail 

Ibnu Ishaq berkata, “Adapun Zaid bin Amr bin Nufail, ia tidak memeluk agama Yahudi dan tidak pula memeluk agama Nasrani, ia meninggalkan agama kaumnya, kemudian menjauhi patung-patung, bangkai, darah, haiwan-haiwan yang disembelih untuk patung-patung, dan melarang pemakaman anak dalam keadaan hidup-hidup. Ia berkata, ‘Sembahlah Tuhan Ibrahim.’ Ia menentang kaumnya dengan mengkritik mereka.” 

Ibnu Ishaq berkata bahawa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya dari ibunya, Asma’ binti Bakar Radhiyallahu Anhuma yang berkata,

“Aku pernah melihat Zaid bin Amr bin Nufail semasa tuanya. Ia menyandarkan belakangnya ke Ka’bah sambil berkata, ‘Hai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, tidak ada seorang pun di antara kalian selain aku yang berpegang teguh kepada agama Ibrahim.’ 

Setelah itu, ia berkata, “Ya Allah, seandainya aku mengetahui wajah yang paling Engkau sukai, pasti aku menyembahnya, namun aku tidak mengetahuinya.’ Setelah itu, ia sujud’.”

Sabda Rasulullah Saw tentang Zaid bin Amr 

Ibnu Ishaq berkata, “Aku diberitahu bahawa anak Zaid, Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, dan Umar bin Khathab—saudara misannya—berkata kepada Rasulullah Saw, ‘Bolehkah kita memintakan ampunan untuk Zaid bin Amr?’

Rasulullah Saw bersabda, ‘Ya, boleh. Sungguh, dia dibangkitkan sebagai satu umat’.”

Syair Zaid bin Amr tentang Dirinya Yang Meninggalkan Agama Berhala 

Zaid bin Amr bin Nufai berkata tentang dirinya yang meninggalkan agama kaumnya, dan perlakuan kaumnya terhadap dirinya kerana tindakannya tersebut,

Apakah satu Tuhan ataukah 
seribu tuhan yang mesti aku sembah
Jika semua persoalan dibagi?
Aku tinggalkan Al-Lata dan Al-Uzza
Begitulah yang dilakukan orang yang kuat dan sabar
Aku tidak menyembah Uzza dan kedua anak wanitanya
Aku tidak mengunjungi dua patung Bani Amr
Aku juga tidak menyembah kambing
Kami mempunyai Tuhan sepanjang masa sejak aku masih kecil
Aku kagum dan semua malam itu memang mengagumkan
Dan juga semua siang yang hanya diketahui 
oleh orang-orang yang bisa melihat
Sesungguhnya Allah telah memusnahkan banyak orang
Karena mereka orang-orang yang bergelimang dengan kejahatan
Dia menyisahkan banyak orang karena kebaikan sebuah kaum
Kemudian anak kecil di antara mereka tumbuh dengan subur
Ketika seseorang tersesat, ia akan sadar kembali pada suatu hari
Sebagaimana halnya daun ranting yang tumbuh kembali 
setelah sebelumnya rontok daunnya terkena hujan
Engkau dengan segala karunia-Mu telah menyelamatkan Yunus
Yang sebelum menginap di dalam perut ikan selama bermalam-malam
Sungguh, jika aku membaca tasbih dengan nama-Mu, ya Tuhanku
Maka aku perbanyak tasbih tersebut agar Engkau mengampuni dosa-dosaku
Wahai Tuhan semua hamba, lemparan hujan dan rahmat kepadaku
Berkahilah aku dan hartaku


Syair Duka Cita Waraqah bin Naufal untuk Zaid bin Amr 

Ibnu lshaq berkata, “Ketika Zaid bin Amr tiba di pertengahan negeri-negeri Lakhm, penduduk setempat menangkapnya dan membunuhnya. 

Ketika Waraqah bin Naufal mendengar berita kematiannya, ia menangis kemudian berkata,

Hai anak Amr, engkau telah mendapatkan petunjuk dan nikmat
Engkau jauh dari tungku api dan terlindungi daripadanya
Karena engkau menyembah Tuhan yang tidak ada Tuhan lain seperh Dia
Karena engkau meninggalkan patung-patung thaghut
Karena engkau telah mendapatkan agama yang engkau cari
Engkau tidak pernah lalai dari mentauhidkan Tuhanmu
Kemurdan engkau berada di negeri yang mulia
Di dalamnya engkau bersenang-senang dengan kenikmatan
Di dalamnya engkau bertemu dengan kekasih Allah d(Ibrahim)
Engkau tidak termasuk orang-orang sombong yang masuk ke dalam neraka
Terkadang rahmat Allah itu menjumpai manusia
Kendali ia berada di bawah yang terdapat tujuh puluh lembah

1 comments:

  1. Salam Admin. Terima kasih atas kisah yang dipaparkan di atas. Boleh saya tahu Adakah Waraqah bin Naufal sempat memeluk Islam? Apakah sebab Ubaidullah bin Jahsyi itu meninggalkan Islam dan memeluk agama Nasrani? Adakah apa2 pentunjuk yang dia perolehi atas tindakkannya itu? Sayang sekali, di era jahiliyyah dia tega menahan diri daripada menyembah berhala...allahu a'lam.

    ReplyDelete

 

Sample text

Sample Text

Sample Text